Karawang | SekitarKita.id,- Lolongan anjing kampung dari arah hulu memecah keheningan pagi di pelosok perkampungan Jati Udik II RT04/RW03, Kelurahan Tunggak Jati, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang.
Sinar surya kekuningan perlahan bangun dari peraduan, cahayanya bersembunyi mengintip malu-malu dari balik dedaunan menembus rumah bilik berukuran minimalis. Burung-burung pun mulai berkicau menyambut hari baru.
Saat itulah, Samad (48) seorang buruh harian lepas mengais rejeki di sudut kota industri di Kabupaten Karawang. Mengenakan kaos oblong, Samad sesekali menatar ke cermin, menampilkan penampilannya dari ujung kaki ke ujung kepala.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Senyum mengembang di wajahnya menandakan sudah siap melangkah mengais rezeki. Samad bergegas menawarkan jasa kepada siapapun yang membutuhkan tenaga Samad. Dengan hasil pas-pasan ditambah kerjaan tak menentu ia lakoni hampir puluhan tahun.
Lelaki berusia 48 tahun itu tinggal di rumah berukuran 4x 5 meter, dinding anyaman bambu, lantai beralasakan tanah, dihiasi 1 kamar tidur reot tanpa kamar mandi, cuci, kakus (MCK) sedangkan atap genteng bolong dilapisi terpal biru.
Semenjak Samad berpisah dengan sang istri, kini ia tinggal satu atap bersama adik kandung bernama Samid Suhardi (43), dilahan seluas 6×7 meter itu Samad menempati rumah peninggalan kedua mendiang orang tuanya.
“Sudah lama berpisah sama istri, orang tua sudah meninggal sekarang tinggal sama adik (Samid), tanah bangunan ini milik bapak,” kata Samad saat ditemui SekitarKita.id dikediamannya dirilis, Kamis (16/05/2024).
Ia terpaksa tinggal di rumah yang sudah tidak layak huni (rutilahu) dengan kondisi memperihatinkan bersama sang adik lantaran tak memiliki biaya memperbaiki rumah miliknya. Jangankan biaya merenovasi rumah, untuk makan sehari-hari saja ia kesulitan.
“Buat makan sehari hari ajah sulit kang, paling kalau dapet dari hasil disuruh warga kadang dapet Rp 20 ribu apalagi benerin rumah, kadang juga enggak dapet seharian. Kerja apa saja disuruh suruh warga (serabutan),” ujarnya dengan nada lirih.
Kini, rumahnya tidak sekokoh dulu, malahan terbilang tidak layak huni. Parahnya, dia tidak pernah merasakan pemberian bantuan dari pemerintah. Ia tetap bersyukur kendati haya mendapatkan upah minim dalam sehari.
Meski demikian, tak ada raut kesedihan tampak pada wajahnya. Dia seperti sudah sangat biasa menjalani hidup yang begitu sulit dan pasrah.
“Ya Alhamdulillah buat makan sehari-hari, kita berdua sudah terbiasa hidup mandiri,” jelas Samad.
Ia khawatir, sesekali rumahnya yang terbuat dari bilik bambu itu ambruk kala hujan angin disertai angin kencang menimpa. Terlebih malam hari, Samad tak bisa tidur nyenyak dengan kondisi itu.
“Kalau hujan takut, apalagi kena angin kencang takut ambruk, udah pada bolong dindingnya,” kata Samad seraya muka penuh melas.
Samad mengakui bantuan sosial (bansos) dari pemerintah yang kurang merata. Dirinya juga amat sangat kesulitan mencari pekerjaan yang layak di tanah kelahirannya.
Sembari duduk menawarkan secangkir kopi, Samad menjelaskan, diusia menginjak 48 tahun Samad masih bisa mengerjakan pekerjaan apa saja asalkan halal dan bisa untuk bertahan hidup.
“Kerja apa saja saya sih enggak pilih-pilih, cuman kalau disini susah nyari kerja diusia udan kepala 4 sulit dapet kerja,” keluhannya sesekali menyeruput kopi.
Mirisnya, kondisi ini mengingatkan kita pada kemiskinan ekstrim di wilayah Kabupaten Karawang kian memprihatinkan, banyak dari warga berpenghasilan rendah keluhkan bantuan pemerintah kurang dirasakan manfaatnya.
“Saya tidak pernah kecewa atau kesal walau tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Dengan keadaan seperti ini pun sudah cukup bersyukur,” ujar Samad kembali.
Bicara Kabupaten Karawang, merupakan daerah maju di Jawa Barat dengan penghasilan lumbung padi dan sumber alam yang melimpah. Berdiri tembok megah pencakar langit ditengah kota industri tebesar di Asia. Namun masih saja ada warga miskin yang kesulitan mencari pekerjaan.
“Meskipun banyak pabrik disini, kami hanya bisa liatin saja, mau kerja apa kang susah banget,” cetusnya.
Jika boleh berharap, kata dia, adanya bantuan pemerintah yang mengalir kepada keluarga Samad. Agar sedikitnya membantu ditengah himpitan ekonomi serba sulit.
“Kami berharap ingin di perhatikan dengan pemerintah Karawang bisa membantu kami dengan kondisi rumah saya dan ingin bisa merasakan manfaat bantuan program dari pemerintah Karawang khususnya,” jelasnya.
Sementara itu, ditemui di lokasi berbeda, Ketua RW03 Jati udik II, Tirman, ia menjelaskan, kondisi rumah Samad memang memperihatinkan, di samping tidak ada sanak saudara, Samad tinggal hidup bersama sang adik yakni Samid.
“Memang sudah lama di samping dia (Samad) orang tuanya meninggal mantan istrinya di Jawa, hidup sendiri kebetulan untuk makan sehari-hari hanya mengandalkan dari orang lain. Bantuan dari pemerintah nol besar,” kata Tirman saat ditemui pewarta SekitarKita.id di lokasi.
Pihaknya selaku RW turut prihatin sebagai jiwa corsa kemanusiaan, dirinya sudah berupaya membantu keluarga Samad dengan melakukan musyawarah ke pihak kelurahan maupun kecamatan, agar mereka mendapatkan bantuan, faktanya hingga saat ini belum membuahkan hasil.
“Langkah-langkah itu semenjak saya sebagai Ketua RW 03 Samid belum pernah menerima bantuan sama sekali, tapi pernah kami ajukan namun belum muncul datanya sampai saat ini bantuan tersebut,” ucap Tirman.
“Di lihat kondisi bangunan kalau hujan besar dan angin kencang akibatnya akan fatal, kemungkinan itu 90 persen roboh, bicara status kepemilikan lahan memang
itu milik Samid pribadi, selama dia tinggal disitu,” sambung Tirman.
Tirman menyampaikan, Samad ini kesehariannya pekerja buruh harian lepas, terkadang Samad menjadi kuli bangunan dan tergantung jika orang lain meminta bantuan tenaga Samad sendiri.
“Program Rutilahu sempat kami ajukan kepihak BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) pernah dulu di survei sama pihak BPBD pada tahun 2023 tapi saat ini belum ada tindakan sama sekali,” ucap Tirman.
Tirman menegaskan, pihaknya memohon kepada dinas terkait dan juga para anggota dewan di Kabupaten Karawang untuk kiranya bisa membantu rumah keluarga Samad. Dengan adanya perhatian dari pemerintah agar bisa memacu semangat hidup lebih bertambah.
“Untuk pihak kelurahan sudah kunjungi ke lokasi tetapi saat ini apakah menunggu proses atau bagaimana saya tidak tahu untuk mendapatkan pembangunan program rumah bapa samad ini,” sambung Tirman.
“Untuk pemerintah dimanapun, karena wilayah saya semuanya yang ada di RW 03 Jati Udik II untuk sama rata dalam proses rutilahu maupun bantuan sosial lainnya, untuk segera selayaknya dipercepat karena kami tidak mau melihat warga saya ada yang roboh sampai menimpah rumah ataupun jatuh korban,” tandasnya.
Penulis : Abdul Kholilulloh
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Laporan: Andyka Nugroho (Kontributor Karawang)








