SEKITARKITA.id– Puluhan anak di Kabupaten Bandung Barat (KBB) harus menelan kenyataan pahit. Masa depan mereka direnggut oleh orang dewasa yang tega menjadikan anak-anak sebagai pelampiasan nafsu bejat.
Data Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) KBB mencatat, hingga September 2025, tercatat 87 laporan kasus yang terdiri dari 51 anak korban, 18 perempuan korban, 19 kasus KDRT, serta 1 kasus traficking.
Data ini disampaikan Kepala Dinas DP2KBP3A, Achmad Panji Hernawan, didampingi Kepala Bidang PPPA, Rini Haryani, kepada sekitarkita.id, Jumat, 26 September 2025.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Angka ini melampaui jumlah laporan sepanjang 2024 yang berjumlah 71 kasus.
“Cenderung naik ya, tahun 2024 itu kita ungkap 71 kasus. Nah tahun ini, baru sampai September sudah ada 87 laporan, kemarin dari 82 naik jadi 87 kasus,” kata Rini.
Rini mengungkapkan, jumlah korban jauh lebih banyak dibanding jumlah kasus yang tercatat. Sebab dalam satu kasus pencabulan, pelaku seringkali menyasar lebih dari satu anak.
“Seperti pelaku bapak tiri itu ada 3 korban. Lalu kasus tukang parkir di Padalarang, dugaan kami lebih dari 10 korban. Jadi jumlah korban keseluruhan kasus kekerasan anak dan perempuan ada sekitar 87 orang,” jelasnya.
Mayoritas pelaku justru berasal dari lingkungan terdekat korban, mulai dari ayah, paman, kakek, hingga tetangga.
“Yang kemarin di KBB itu ada ayah tiri, tukang parkir yang masih tetangga. Jadi kebanyakan memang orang-orang yang sering bertemu dan dekat dengan korban,” tambah Rini.
Banyak korban mengalami trauma mendalam karena pelaku berasal dari lingkaran keluarga. Bahkan, ada yang menolak kembali bersekolah.
“Korban yang dicabuli ayah tiri sampai sekarang tidak mau sekolah. Mereka syok, apalagi usianya remaja SMA tapi masih di bawah umur. Makanya pendampingan harus dilakukan sampai tuntas,” jelas Rini.
DP2KBP3A KBB melakukan asesmen dan trauma healing berlapis. Dalam beberapa kasus, korban sampai harus dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cisarua karena trauma akut.
“Kalau sudah sampai menjerit tiap melihat sosok laki-laki yang mirip dengan pelaku, itu sudah tahap psikiater. Ada dua korban yang saat ini kontrol rutin ke RSJ,” ungkapnya.
Dari total 87 laporan, sebagian besar kasus masih dalam tahap penyidikan di kepolisian. Hanya dua kasus yang sudah masuk persidangan, namun belum ada vonis.
“Semua sudah masuk proses hukum. Yang sudah sidang baru dua kasus, sisanya masih di Polres Cimahi,” kata Rini.
Kendala utama adalah bukti dan saksi. Sebab seringkali satu-satunya saksi hanya korban, sehingga proses hukum berjalan lambat.
“Anak kalau ditanya terus menerus jadi lelah dan stres. Kadang jawabannya berubah-ubah, itu membuat proses hukum lama,” jelasnya.
Kasus Terbanyak di Kecamatan Ngamprah
Dari 16 kecamatan di KBB, kasus pencabulan anak paling banyak terjadi di Kecamatan Ngamprah dengan 18 kasus.
Disusul Padalarang dengan 12 kasus. Sedangkan Saguling mencatat nol laporan, namun bukan berarti tanpa kasus.
“Di Saguling bukan berarti tidak ada kasus, tapi banyak yang diselesaikan secara kekeluargaan. Jadi tidak masuk laporan resmi ke kami,” terang Rini.
Faktor Ekonomi Jadi Pemicu
DP2KBP3A KBB menilai faktor ekonomi kerap menjadi pemicu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maupun pencabulan. Banyak pelaku berstatus pengangguran atau bekerja serabutan.
“Banyak yang karena faktor ekonomi. Suami tidak memberi nafkah cukup, akhirnya ada konflik rumah tangga, berlanjut ke KDRT. Untuk pencabulan, ada juga motif karena ditinggal istri kerja jadi TKW, lalu pelaku melampiaskan nafsunya ke anak sambung,” papar Rini.
DP2KBP3A KBB mengaku terus melakukan sosialisasi ke desa-desa mengenai bahaya pencabulan dan pentingnya melaporkan kasus ke pihak berwenang.
Pendampingan psikologis, trauma healing, hingga layanan konseling via telepon juga diberikan.
“Setiap aduan kami tindaklanjuti dengan home visit, asesmen psikolog, sampai proses hukum. Harapannya anak-anak bisa pulih secara psikis, meski memang prosesnya panjang,” tutup Rini.
Kasus pencabulan Bandung Barat, pencabulan anak KBB, DP2KBP3A Bandung Barat, kekerasan anak, kasus pelecehan seksual KBB, Kecamatan Ngamprah, Polres Cimahi.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan







