SEMARANG, AdinJava– Pemerintah menetapkan swasembada garam pada tahun 2027 berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 mengenai Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional yang bertujuan memenuhi kebutuhan sebesar 4,5 juta ton garam in step with tahun.
Information dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperlihatkan bahwa produksi garam rata-rata hanya sampai 1,64 juta ton in step with tahun, dengan kebutuhan sisanya dipenuhi melalui impor.
Ini menjadi sebuah ironi, mengingat Indonesia mempunyai garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Disisi berbeda, sebagai penghasil garam terbesar kedua di Indonesia, produksi garam Jawa Tengah pada 2023 yang sampai 652.000 ton dalam setahun masih mempunyai potensi untuk ditingkatkan sampai 1,3 juta ton andai pemanfaatan lahan tambak sampai 100 persen.
“Sementara Jawa Tengah berada di peringkat dua di Indonesia, masih kalah dari Jawa Timur. Tetapi, andai dimaksimalkan kita akan mampu berada di posisi pertama dengan nilai ekonomi sampai Rp 2 triliun setiap tahun,” kata Senator DPD RI Jawa Tengah, Abdul Kholik saat dikonfirmasi, Sabtu (8/11/2025).
Untuk memaksimalkan potensi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Provinsi Jawa Tengah Nomor 20 Tahun 2024 mengenai Rencana Induk Pergaraman Daerah yang meliputi identitas enviornment berpotensi, strategi pengembangan teknologi, penguatan lembaga petambak dan koperasi.
Kemudian, keterlibatan dan kerja sama antara OPD, perguruan tinggi, serta sektor swasta terus berlangsung sampai membahas sumber pendanaan.
Salah satu usaha rakyat yang mampu mengelola produksi garam secara mandiri dan mampu menghasilkan sekitar 21.000 ton setiap tahun adalah Koperasi Tani Sari Makmur yang berada di Desa Tambakagung, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang.
Koperasi yang telah beroperasi sejak tahun 1999 ini menjadi salah satu penerima bantuan dana.washing plantdari pemerintah pusat pada tahun 2021 dan berhasil mendapatkan keuntungan dari aset teknologi bernilai Rp 2 miliar sampai sementara itu untuk proses pencucian dan pemurnian garam agar sesuai dengan standar industri. Unit tersebut mampu memproses 7.500 ton garam setiap tahunnya.
Ada 136 petambak garam dan pemilik lahan yang menjadi anggota koperasi ini. Koperasi tersebut mulai fokus pada produksi garam secara mandiri sejak tahun 2015 dan sampai sementara itu mempunyai aset senilai Rp 7,2 miliar dalam satu dekade. Prestasi ini memperlihatkan adanya rasa solidaritas dan kemandirian dari para anggota koperasi.
Pantauan AdinJava, di bawah terik matahari Kaliori, butiran putih garam masih terlihat tersisa di atas permukaan geomembran hitam yang melapisi beberapa enviornment tambak meski kini sudah memasuki musim hujan.
Teknologi membran geosintetik berupa lembaran plastik hitam baru-baru ini digunakan untuk mempercepatnya proses pengkristalan garam.
“Andai sudah terkena hujan, maka tidak dapat digunakan lagi sebab garamnya kotor akibat tercampur lumpur dari hujan, dengan begitu harus segera memulai proses dari awal. Tetapi, sepanjang musim hujan kami mengakhiri produksi,” ujar Tono (46), salah seorang petambak garam yang juga menjadi anggota koperasi tersebut.
Ia memperlihatkan enviornment seluas 1 hektar yang terbagi menjadi 20 bidang tanah untuk mengeringkan air laut yang akan diolah menjadi garam.
Secara umum, proses pengeringan air laut menjadi garam yang siap dipasarkan memerlukan waktu 15 sampai 20 hari, tergantung pada intensitas sinar matahari sepanjang produksi berlangsung.
“Secara umum saya mengerjakannya sendirian atau berdua, mulai dari menyiapkan lahan, meratakan tanahnya, memasang geo membran, kemudian mengalirkan air laut dari setiap petak lahan ke lahan sebelahnya, di 5-6 lahan paling ujung diberi lapisan geo membran sebagai tahapan akhir proses kristalisasi garam,” ujarnya.
Ia menyatakan bahwa petani garam bisa memutuskan waktu panen yang tepat dengan mengukur kadar garam memakai alat Baume Meter (BE).
Sebaiknya, proses kristalisasi berlangsung antara 20-25 BE untuk garam bisa dipanen dan diolah di plant pencucian.
“Kesulitannya ketika garam yang sudah jadi (kering) terkena hujan dan rusak, dengan begitu harus segera memulai kembali dari awal. Sebab proses produksi garam sangat tergantung pada cuaca,” ujarnya.
Sebelum menjadi anggota koperasi, para petani biasanya menjual garam kasar yang mereka panen dari tambak kepada pabrik atau pedagang dengan harga yang berbeda-beda.
Setelah terbentuk koperasi dan sarana yang tersediawashing plantuntuk proses pembersihan garam, nilai ekonomi dari hasil produksi garam meningkat.
Andai sudah kita olah sendiri memakaiwashing plantmaka nilai jual akan otomatis lebih tinggi dibandingkan andai kita bawa ke pabrik untuk disewa (jasa)washing plant milik mereka,” kata Tono.
Garam dibersihkan dua kali di pabrik pencucian, kemudian ditambahkan yodium dan dihaluskan sesuai dengan permintaan.
Selanjutnya, air sisa pencucian dialirkan keluarwashing plantke tambak garam untuk diproses kembali dengan dicampur air laut dan dikeringkan agar menjadi garam, dengan begitu produksi garam tergolong berkelanjutan tanpa menghasilkan limbah.
Meski demikian pekerjaan tersebut melelahkan, Tono dan para petambak garam lainnya tetap melakukannya dengan penuh semangat, serta memandang terik matahari sebagai bagian dari kehidupan mereka di lingkungan yang panas dan asin.
Produksi 21.000 ton setahun
Ketua Koperasi Tani Sari Makmur, Dias Eko Erry mengungkapkan, luas lahan yang dikelola sampai 212 hektare yang terletak di Desa Tambak Agung, Umbulsari, dan Mojowarno.
Di musim panas yang biasa, mereka mungkin bisa menghasilkan 100 ton garam krosok dari setiap hektar sepanjang lima bulan masa produksi. Andai dijumlahkan, rata-rata produksi garam krosok dapat sampai 21.000 ton in step with tahun.
“Andai musim panas lebih lama seperti tahun lalu sepanjang enam bulan, hasil garam kita akan mampu sampai 130 ton in step with hektar, namun tahun ini hanya 40 ton (setara 8.500 ton) sebab curah hujan yang tinggi, cuaca seperti ini tidak menentu,” jelas Dias.
Hambatan utama para petambak selain iklim yang semakin tidak menentu adalah modal besar untuk geo membran, saluran air laut dangkal, serta harga garam yang tidak stabil.
Monopoli harga garam pernah dikarenakan kenaikan harga dari Rp 600 in step with kilogram garam krosok menjadi Rp 4.000 in step with kg ketika koperasi tidak mempunyai persediaan garam. Sebaliknya, saat produksi melimpah, harga garam cenderung turun drastis.
“Kami tidak menunggu bantuan. Kami bergerak dengan apa yang kami miliki. Saat musim hujan, lahan tambak kami memanfaatkan untuk budidaya ikan bandeng agar tetap terjadi perputaran ekonomi dan lahan tidak menganggur,” ujar Dias.
Semangat tersebut menghasilkan berbagai inovasi, seperti garam konsumsi yang mengandung yodium, garam untuk keperluan industri, sampai produk kreatif seperti garam spa.
Bahkan perempuan NU dengan merek NUsalt, Muhammadiyah, serta pengusaha lainnya dari Jakarta juga memesan garam melalui koperasinya.
“Pada nyatanya dapat digunakan untuk membuat kopi, lalu dikembangkan untuk pengobatan tekanan darah tinggi, namun ini masih dalam tahapan observasi,” ujarnya.
Stabilitas harga
Ia mengharapkan pemerintah bisa membantu normalisasi saluran air laut serta menjaga kelancaran harga garam sesuai dengan harga pokok penjualan (HPP), seperti yang dilakukan terhadap komoditas lain seperti beras.
Dengan demikian, para petani tidak merasakan kerugian dan tidak perlu terus-menerus mengeluarkan dana sendiri untuk memperbaiki saluran tersebut.
Senada, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Tengah, Endi Faiz Effendi juga menyatakan bahwa stabilitas harga garam sangat penting agar produksi bisa memberikan nilai ekonomi yang maksimal.
Untuk mempertahankan harga garam yang stabil, ia berupaya agar pemerintah memberi tugas kepada BUMN atau BUMD untuk membeli garam yang berlebihan produksinya.
“Sebaiknya ditetapkan harga minimal di tingkat petambak garam dengan memperhatikan kualitas garam. Hal ini akan menjadi pedoman bagi petambak garam agar tidak merasakan kerugian dalam proses produksinya,” kata Endi.
Endi percaya swasembada garam bisa tercapai pada tahun 2027 andai Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 mengenai Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional diterapkan secara konsisten oleh seluruh pihak yang terlibat.
Pada tahun 2025, Jawa Tengah menghasilkan sebanyak 536.000 ton dengan nilai ekonomi diprediksi sampai Rp 800 miliar andai garam krosok dijual dengan harga Rp1.500 in step with kilogram.
Untuk saat ini, andai melalui proses pencucian denganwashing plant,harga penjualan naik menjadi Rp 4.000 in step with kilogram.
Pengadaan garam dilakukan oleh 6.420 petani di 9 kabupaten penghasil garam Jawa Tengah dengan luas complete tambak garam sampai 8.267 hektar.
Paling dengan jumlah besar, Pati mempunyai luas lahan sebesar 4.300 hektare yang mampu menghasilkan 270.994 ton garam. Selanjutnya, Rembang dengan luas lahan 1.455 hektare telah memproduksi 160.889 ton garam dalam setahun.
Ia juga mengungkapkan, lahan tambak yang digunakan baru sampai 50 persen. Andai seluruh petambak memaksimalkan lahan yang dimiliki, termasuk dengan mendapatkan keuntungan dari geo membran yang mampu mempercepat produksi dan meningkatkan kualitas garam, nilai ekonomi yang diperoleh dapat dua kali lipat dibanding sementara itu.
“Kami mengharapkan koperasi desa Merah Putih kelak juga bisa memberikan pinjaman kepada petambak garam untuk membeli modal geo membran agar mereka mungkin bisa meningkatkan produksi secara maksimal sebab satu rolnya harganya sampai Rp 7 juta, dan geo membran tersebut bisa digunakan sepanjang 4 tahun,” ujar Endi.
Ia mendorong agar pelaku koperasi garam maupun petani garam untuk meniru langkah Kopeerasi Tani Sari Makmur yang solid dan serius dalam mendapatkan keuntungan dari potensi garam di wilayahnya.
Dengan demikian, produksi bisa memenuhi standar industri dengan kadar NaCl di atas 97 persen.
Terlebih lagi, mengingat tidak semua penerima bantuan danawashing plantbisa merawat peralatan agar tetap mampu menghasilkan nilai tambah bagi usaha garam koperasi.
Tidak jauh berbeda, akademisi sekaligus mahir sejarah maritim dari Universitas Diponegoro (Undip) yang telah meneliti garam sepanjang 20 tahun terakhir, Yety Rochwulaningsih mengakui besarnya potensi garam di Jawa Tengah serta kesempatan untuk sampai swasembada yang sangat mungkin saja tercapai pada tahun 2027. Tetapi, komitmen dan konsistensi pemerintah dalam menjalankan kebijakan tetap menjadi tantangan.
“Terkadang pemerintah hanya menetapkan tujuan, namun tidak konsisten dalam merealisasikannya,” ujar Yety.
Ia meminta pemerintah untuk menjaga kestabilan harga garam serta menerapkan HPP dengan memberikan hukuman kepada pelaku industri garam yang tidak patuh atau menyembunyikan stok yang dikarenakan kelangkaan.
Yety juga menyoroti tugas besar untuk mengubahmindsetPetani garam yang sebelumnya hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, kini berubah menjadi pengusaha yang membuat khusus bisnis.
Bersama dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi terkini.
Keberadaan koperasi pengelola garam dianggap mampu dipercepat agar seluruh pengelolanya mempunyai pola pikir sebagai pengusaha seperti yang dilakukan Koperasi Tani Sari Makmur.
“Kalau mindset-nya tidak berubah, seberapa canggih teknologi pun tidak akan berjalan. Andai orientasinya bisnis, secara otomatis mereka segera akan beralih ke industri sebab yang dicari adalah nilai tambah,” ujarnya.
Pemetaan kebutuhan
Menurut Yety, pemerintah harus segera mengidentifikasi kebutuhan sektor garam secara rinci, agar tidak mendirikan pabrik tanpa memastikan adanya pasar yang mampu menyerap hasil produksi garam tersebut.
Ia menyebutkan bahwa tidak semua industri memerlukan garam dengan kadar NaCl di atas 97 persen, dengan begitu diperlukan pengelompokan industri serta kesesuaian jenis garam dan konsumen.
“Di Jepang terdapat kawasan pengolahan garam industri yang membutuhkan minim tenaga kerja dan kawasan pengolahan garam tradisional yang melibatkan masyarakat. Hal ini juga terjadi di Bali, di mana garam palung tradisional justru diekspor ke Eropa, Jepang, dan Amerika, dengan harga sampai Rp 200.000 in step with kilogram, sebab nilai tambahnya berasal dari autentisitas dan metode produksi tradisionalnya,” ujarnya.
Dengan demikian, para petambak tidak perlu merasa khawatir tentang kehadiran teknologi yang dapat menggantikan pekerjaan mereka, sebab tidak semua garam memerlukan proses industri secara penuh.
“Andai semua komponen berubah, mulai dari manusianya, aparatnya, sampai peraturannya, swasembada garam bukan lagi impian,” kata Yety.







