Dispernakan KBB Gencarkan Pencegahan Rabies, Warga Diminta Waspadai Gigitan Hewan Penular

- Penulis

Senin, 28 September 2026 - 14:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dispernakan KBB Gencarkan Pencegahan Rabies, Warga Diminta Waspadai Gigitan Hewan Penular

i

Kepala Dispernakan KBB, drh. Wiwin Aprianti, M.Si., (foto: Abdul Kholilulloh)

KBB | SEKITARKITA.id –  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat melalui Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) terus menggencarkan upaya pencegahan penyakit rabies di tengah masyarakat.

Edukasi dan pencegahan tersebut kembali digaungkan bertepatan dengan momentum World Rabies Day (Hari Rabies Sedunia) 2026 yang diperingati setiap 28 September.

Kepala Dispernakan KBB, drh. Wiwin Aprianti, M.Si., mengatakan momentum World Rabies Day tahun ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya rabies sekaligus pentingnya vaksinasi terhadap hewan penular rabies (HPR).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengusung tema “Rabies, Stronger Together!”, Dispernakan KBB menggelar talkshow bertajuk “Satu Tujuan: Rabies, Stronger Together!” yang disiarkan secara langsung melalui media sosial pada Senin, 28 September 2026.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diberikan edukasi mulai dari pengenalan penyakit rabies, cara penularan, ciri-ciri hewan terinfeksi, hingga langkah pertolongan pertama apabila seseorang mengalami gigitan HPR.

Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat terus menggencarkan upaya pencegahan penyakit rabies di tengah masyarakat (foto: istimewa)
Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat terus menggencarkan upaya pencegahan penyakit rabies di tengah masyarakat (foto: istimewa)

Wiwin menjelaskan, rabies merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Lyssavirus yang menyerang sistem saraf pusat.

Penyakit tersebut menjadi sangat berbahaya karena memiliki tingkat kematian yang hampir mencapai 100 persen apabila gejala klinis sudah muncul.

“Rabies adalah penyakit yang disebabkan virus Lyssavirus yang menyerang sistem saraf pusat. Disebut paling berbahaya karena memiliki tingkat kematian hampir 100 persen jika sudah muncul gejala klinis, baik pada hewan maupun manusia,” ujar Wiwin dalam keterangannya, Senin.

Meski demikian, menurutnya, rabies merupakan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi.

“Padahal, penyakit ini 100 persen bisa dicegah dengan vaksinasi,” katanya.

Kepala Dispernakan KBB, drh. Wiwin Aprianti, M.Si., (foto: Abdul Kholilulloh)
Kepala Dispernakan KBB, drh. Wiwin Aprianti, M.Si., (foto: Abdul Kholilulloh)

Wiwin menyebutkan, di Indonesia terdapat sejumlah hewan yang menjadi Hewan Penular Rabies (HPR). Penular utama adalah anjing, kemudian kucing dan kera.

Masyarakat juga diminta mengenali perubahan perilaku hewan yang diduga terinfeksi rabies.

Baca Juga:  Cardi dan Offset dilaporkan membeli rumah tahun 2019 dengan harga lebih dari $5 juta Rick Ross Sampaikan ini

Menurut Wiwin, secara klinis terdapat dua bentuk gejala yang umum ditemukan, yakni bentuk ganas dan bentuk diam.

Pada bentuk ganas, hewan dapat berubah menjadi agresif, menggigit benda atau hewan lain, takut terhadap air dan cahaya serta mengeluarkan air liur secara berlebihan.

Sementara pada bentuk diam, hewan dapat mengalami kelumpuhan, rahang menggantung dan kesulitan menelan.

Wiwin menjelaskan, penularan rabies dari hewan ke manusia terutama terjadi melalui gigitan hewan yang telah terinfeksi.

Mengusung tema “Rabies, Stronger Together!”, Dispernakan KBB menggelar talkshow bertajuk “Satu Tujuan: Rabies, Stronger Together!” yang disiarkan secara langsung melalui media sosial pada Senin, 28 September 2026.
Mengusung tema “Rabies, Stronger Together!”, Dispernakan KBB menggelar talkshow bertajuk “Satu Tujuan: Rabies, Stronger Together!” yang disiarkan secara langsung melalui media sosial pada Senin, 28 September 2026.

Virus rabies terdapat dalam air liur hewan sehingga kontak air liur dengan luka terbuka maupun bagian tubuh tertentu juga perlu diwaspadai.

“Penularan utama melalui gigitan hewan yang terinfeksi karena virus ada di air liurnya. Bisa juga melalui cakaran atau jilatan pada luka terbuka atau selaput lendir mata atau mulut,” jelasnya.

Namun, rabies tidak menular kepada manusia melalui kontak biasa antarmanusia.

Terkait kondisi rabies di wilayah Kabupaten Bandung Barat, Wiwin menyebutkan status daerah tersebut saat ini masih tertular.

Laporan mengenai gigitan HPR juga masih ditemukan. Kendati demikian, kasus positif rabies terakhir pada hewan tercatat pada 2020, sedangkan kejadian rabies pada manusia terakhir terjadi pada 2023.

“Risiko terhadap rabies tetap ada akibat lalu lintas hewan yang tinggi dan banyaknya hewan liar penular rabies,” katanya.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap remeh keberadaan anjing, kucing maupun hewan lainnya yang tidak diketahui status vaksinasinya.

Menurut Wiwin, vaksinasi menjadi salah satu langkah utama dalam mencegah penyebaran rabies pada hewan peliharaan.

Efektivitas vaksinasi rabies disebut mencapai lebih dari 95 persen dalam mencegah penyakit tersebut.

Ia menyarankan vaksinasi pertama diberikan ketika anak anjing atau kucing berusia minimal empat bulan dan kemudian mendapatkan vaksinasi penguat atau booster setiap satu tahun sekali sepanjang hidupnya.

Baca Juga:  Surat Rekom UMK 2023 Bandung Barat Ganda, Kok Bisa?

“Jangan tunggu digigit baru vaksin,” tegasnya.

Dispernakan KBB juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan luka akibat gigitan hewan yang diduga sebagai HPR, meskipun luka terlihat kecil.

Pertolongan pertama yang harus dilakukan adalah segera mencuci luka menggunakan air mengalir dan sabun atau deterjen selama 15 menit.

Luka juga tidak dianjurkan langsung ditutup atau dijahit sebelum mendapatkan penanganan medis.

Setelah mencuci luka, korban harus segera mendatangi Puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) sesuai indikasi medis.

“Mencuci luka itu bisa mengurangi jumlah virus sampai 80 persen,” ungkap Wiwin.

Keberadaan anjing dan kucing liar yang tidak mendapatkan vaksinasi juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

Wiwin mengatakan, hewan yang tidak divaksin berpotensi menjadi reservoir virus dan dapat meningkatkan risiko penularan apabila terjadi kontak dengan manusia maupun hewan peliharaan lainnya.

“Populasi yang tidak terkontrol akan meningkatkan risiko kontak dengan manusia dan hewan peliharaan,” katanya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dispernakan KBB menjalankan sejumlah program, mulai dari vaksinasi rabies, sterilisasi bersubsidi hingga meningkatkan keterlibatan masyarakat melalui pembentukan kader zoonosis.

Kader tersebut diharapkan menjadi mitra dalam pelaporan serta deteksi dini kasus penyakit zoonosis di lingkungan masyarakat.

Dispernakan juga melakukan respons cepat terhadap laporan kasus gigitan HPR.

Dalam rangka World Rabies Day 2026, Dispernakan KBB menargetkan pemberian 2.000 dosis vaksin rabies gratis.

Program tersebut dilaksanakan di sejumlah lokasi dengan melibatkan dokter hewan profesional, klinik hewan swasta, unit usaha mitra, komunitas serta masyarakat, termasuk lingkungan perumahan di wilayah Bandung Barat.

Baca Juga:  Ngamprah Ubah Kantor Kecamatan Jadi Pusat Layanan dan Sentra Bantuan Sosial, Begini Kata Camatnya

Adapun persyaratan vaksinasi rabies bagi hewan peliharaan yakni dalam kondisi sehat, berusia minimal empat bulan dan tidak sedang bunting.

Selain vaksinasi, Dispernakan KBB juga menggelar program sterilisasi kucing bersubsidi dengan target 100 ekor kucing jantan dan 100 ekor kucing betina.

Program tersebut telah dilaksanakan sejak awal September 2026 di Klinik Hewan Cempakamekar dan Klinik Hewan Cisarua.

Biaya sterilisasi bersubsidi ditetapkan sebesar Rp185.000 untuk kucing jantan dan Rp260.000 untuk kucing betina.

Persyaratannya antara lain kucing dalam kondisi sehat, berusia minimal tujuh bulan, kucing jantan memiliki kedua testis yang sudah turun, sedangkan kucing betina tidak sedang bunting atau minimal 1,5 bulan setelah melahirkan.

Kucing juga harus dipuasakan selama delapan jam sebelum menjalani operasi.

Dispernakan KBB turut menggandeng berbagai pihak dalam pelaksanaan kegiatan World Rabies Day 2026.

Pekan sebelumnya, misalnya, digelar kolaborasi bersama Indogrosir dan Me-O untuk pelaksanaan vaksinasi rabies gratis di Indogrosir Padalarang.

Pada Senin, 28 September 2026, vaksinasi rabies dan pelayanan kesehatan hewan gratis juga dilaksanakan di Jogya Junction Lembang mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai, bekerja sama dengan Rumah Sakit Hewan (RSH) Jawa Barat, PDHI Jabar 1 dan Jogya Junction.

Talkshow World Rabies Day 2026 tersebut selain menghadirkan drh. Wiwin Aprianti, M.Si., Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat, sebagai narasumber.

Juga menghadirkan, drh. Acep Rohimat, M.Tr.A.P., Kepala Bidang Kesehatan Hewan sekaligus Pejabat Otoritas Veteriner, bertindak sebagai host.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Dispernakan KBB mendorong masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan terhadap rabies, terutama dengan memastikan hewan peliharaan mendapatkan vaksinasi secara rutin dan segera mendapatkan penanganan medis apabila terjadi gigitan HPR.



Editor : Abdul Kholilulloh

Follow WhatsApp Channel sekitarkita.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Fakta Baru Sengketa Lahan SDN 2 Kertamulya, Komisi IV DPRD KBB Sebut Pemkab Menang di Pengadilan
Ironi Penataan di Padalarang: Bangli Dibongkar, Minimarket Justru Menjamur
Kemarau Panjang, Yonif TP 938/Pancasona Salurkan Air Bersih untuk Warga KBB 
Rumput Langka, Peternak KBB Mulai Kelimpungan Cari Pakan hingga ke Luar Daerah
Bak Istana Presiden, Jurnalis Masuk Gedung Mewah DPRD KBB Malah Diusir, Alasannya Bikin Geleng Kepala
Warga Sukamulya Padalarang Kekeringan, Wakil Ketua DPRD KBB Pipih Supriati Bangun Sumur Bor 
Aksi Nyata Prajurit Yonif TP 938/Pancasona, Bantu Warga Bandung Barat Buka Lahan Pelebaran Jalan
Website PWI Terkonsolidasi di 38 PWI Daerah, Grand Launching 1 Oktober 2026

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 14:31 WIB

Fakta Baru Sengketa Lahan SDN 2 Kertamulya, Komisi IV DPRD KBB Sebut Pemkab Menang di Pengadilan

Senin, 28 September 2026 - 14:07 WIB

Dispernakan KBB Gencarkan Pencegahan Rabies, Warga Diminta Waspadai Gigitan Hewan Penular

Senin, 28 September 2026 - 10:50 WIB

Ironi Penataan di Padalarang: Bangli Dibongkar, Minimarket Justru Menjamur

Kamis, 24 September 2026 - 22:48 WIB

Kemarau Panjang, Yonif TP 938/Pancasona Salurkan Air Bersih untuk Warga KBB 

Kamis, 24 September 2026 - 19:12 WIB

Rumput Langka, Peternak KBB Mulai Kelimpungan Cari Pakan hingga ke Luar Daerah

Berita Terbaru