KBB| SEKITARKITA.id – Tingginya angka stunting di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali menjadi perhatian. Di Bandung Barat masih tercatat sebagai salah satu daerah di Jawa Barat dengan angka prevalensi stunting yang tinggi.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam pembahasan penanganan stunting, prevalensi stunting di Kabupaten Bandung Barat mencapai 30,8 persen. Angka tersebut menempatkan KBB sebagai salah satu daerah dengan beban stunting cukup tinggi di Jawa Barat.
Persoalan stunting di KBB dinilai tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi maupun akses terhadap layanan kesehatan. Faktor pemahaman masyarakat mengenai pemenuhan gizi anak juga menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satunya adalah masih adanya anggapan di tengah masyarakat bahwa kental manis merupakan susu yang dapat memenuhi kebutuhan gizi anak.
Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, mengatakan penanganan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, tidak hanya pemerintah daerah.
Hal itu disampaikannya setelah menerima audiensi dari Paguyuban Pejuang Peduli Pembangunan Kabupaten Bandung Barat (P4KBB) yang membahas upaya bersama menekan angka stunting di KBB.
“Alhamdulillah barusan sudah menerima tamu dari P4KBB yang dipimpin Kang Yacub dan jajarannya terkait dengan stunting. Intinya P4KBB ingin membantu menurunkan angka stunting di Kabupaten Bandung Barat,” ujar Asep didampingi
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat (KBB) dr. Hj. Lia Nurliana Sukandar, di kantor, Senin 5 Oktober 2026
Menurut Asep, langkah tersebut merupakan bentuk kolaborasi positif antara pemerintah daerah dengan organisasi kemasyarakatan. Rencana tersebut selanjutnya akan ditindaklanjuti bersama tim Satgas Stunting Pemkab Bandung Barat, termasuk Dinas Kesehatan.
Asep juga menyoroti masih adanya kesalahpahaman masyarakat yang menganggap kental manis sebagai susu untuk anak.
Menurutnya, pemahaman tersebut perlu terus diluruskan karena kental manis tidak dapat dijadikan sebagai sumber utama pemenuhan kebutuhan gizi harian anak.
“Kesalahpahaman ini harus terus diluruskan. Banyak orang tua, terutama ibu muda, masih menganggap kental manis sama dengan susu, padahal fungsinya berbeda dan tidak bisa dijadikan sumber gizi utama bagi anak,” kata Asep.
Ia menambahkan, Pemkab Bandung Barat terus melakukan berbagai intervensi, baik intervensi spesifik maupun sensitif, sebagai bagian dari upaya menekan angka stunting.
Terkait angka terbaru stunting di KBB, Asep menjelaskan bahwa pemerintah daerah masih menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 sebagai salah satu rujukan.
“Untuk tahun ini belum tahu angkanya. Saat ini kita masih memakai yang 2024, angka dari SSGI. Alhamdulillah kemarin kita mengadakan bulan penimbangan balita,” katanya.
Sementara itu, Ketua P4KBB Yacub Anwar Lewi mengatakan persoalan stunting harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, upaya menurunkan angka stunting tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah.
P4KBB, kata Yacub, siap mengambil bagian dengan melakukan edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat, termasuk kalangan pelajar.
“Kami organisasi kemasyarakatan yang tentu bermitra dengan pemerintah, P4KBB peduli dengan angka stunting di Bandung Barat yang sangat tinggi,” ujar Yacub.
Ia menyebut P4KBB berencana melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah SMA maupun Madrasah Aliyah di Kabupaten Bandung Barat untuk memberikan edukasi mengenai stunting.
Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan dari hulu hingga hilir, termasuk memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai pentingnya kesehatan reproduksi, gizi, kehamilan, hingga tumbuh kembang anak.
“Kita akan mencoba dari hulu ke hilir. Dari hulu itu semenjak ibu mengandung, janin harus sudah diperhatikan supaya ketika lahir anak tidak mengalami stunting,” katanya.
Yacub menilai pencegahan stunting bahkan perlu dimulai sebelum pasangan menikah. Karena itu, P4KBB berencana berkoordinasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) KBB dan Kantor Urusan Agama (KUA).
Menurutnya, edukasi mengenai stunting perlu diberikan kepada calon pengantin, termasuk terkait risiko pernikahan usia dini dan kesiapan membangun keluarga.
“Bagaimanapun juga setelah menikah, terutama kalau menikah di usia dini, pasti punya anak. Karena itu, edukasi harus diberikan sejak awal,” ujarnya.
P4KBB juga telah melakukan penyuluhan bersama Dinas Kesehatan di sekretariat organisasi tersebut yang diikuti sekitar 35 ibu-ibu.
Ke depan, kegiatan serupa akan kembali dilakukan dengan melibatkan Dinas Kesehatan dan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana.
Yacub mengatakan pihaknya berencana melakukan penajaman materi penyuluhan pada 15 Oktober mendatang agar edukasi mengenai stunting dapat lebih mudah dipahami masyarakat, khususnya generasi muda.
Yacub menyebut berdasarkan data yang diketahuinya, angka stunting Kabupaten Bandung Barat pada 2024 berada di angka 30,8 persen. Namun, ia menyebut angka tersebut belum dapat dijadikan gambaran terbaru karena hasil survei nasional terbaru belum diketahui.
“Untuk angka stunting 2024 itu 30,8 persen. Sekarang katanya sudah menurun, tetapi keabsahan menurun atau tidaknya kita belum tahu karena masih menunggu hasil survei nasional,” tuturnya.
Menurut Yacub, persoalan stunting merupakan persoalan jangka panjang karena penanganannya tidak berhenti ketika seorang anak lahir.
“Bicara stunting ini panjang, mulai dari kehamilan sampai lahir, minimal satu tahun,” katanya.
Ia menegaskan, pembangunan daerah harus diiringi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, persoalan kesehatan dan stunting menjadi bagian penting dalam mewujudkan masyarakat yang maju.
“Bagaimana masyarakat bisa maju kalau kesehatannya kurang bagus,” ujarnya.
Dalam upaya tersebut, P4KBB juga akan membangun koordinasi dengan berbagai mitra, termasuk BPJS serta instansi terkait.
“Bahwa yang terlibat dalam rencana tersebut menyampaikan bahwa koordinasi lintas sektor akan dilakukan untuk menentukan bentuk intervensi dan edukasi yang tepat,” jelasnya.
Salah satu sasaran utama adalah kalangan pelajar melalui penyuluhan di sekolah-sekolah di Kabupaten Bandung Barat.
Materi yang akan diberikan antara lain mengenai pencegahan pernikahan dini, kesehatan reproduksi, kesiapan berkeluarga, serta pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan.
Langkah kolaboratif antara Pemkab Bandung Barat, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, sekolah, Kemenag, KUA, dan berbagai pihak lainnya diharapkan dapat memperkuat upaya menurunkan angka stunting di Kabupaten Bandung Barat.
“Dengan pendekatan pentahelix, penanganan stunting diharapkan tidak hanya berfokus pada penanganan anak yang sudah mengalami masalah pertumbuhan, tetapi juga mencegah munculnya kasus baru sejak dari hulu,” tandasnya
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : liputan







