AdinJavaBerikut ini terdapat 8 puisi dengan tema pahlawan yang ditulis oleh sejumlah penyair terkenal di Indonesia. Silakan baca selengkapnya.
Puisi dengan tema pahlawan ini pantas untuk dibagikan, diunggah sebagai standing atau cerita di media sosial pada Hari Pahlawan 10 November 2025.
Sebagai bentuk peninjauan, peringatan Hari Pahlawan Nasional setiap 10 November dilaksanakan untuk mengenang dan menghormati pertempuran besar yang terjadi di Surabaya pada tahun 1945, yang menjadi simbol semangat perjuangan serta keberanian rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengesahan Hari Pahlawan 10 November berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959 yang ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada 16 Desember 1959.
_________
Puisi Tema Pahlawan
Puisi 1
Karawang Bekasi
Karya: Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring di antara Karawang dan Bekasi
Tidak mungkin saja lagi berteriak “Merdeka” dan mengangkat senjata
Namun siapa yang tidak lagi mendengar suara kami
Terasa kami berjalan dan menggelegar hati?
Kami berbicara kepadamu dalam kesunyian di malam yang sepi
Andai hati terasa kosong dan jam dinding terus berdetak
Kami meninggal di usia muda. Hanya tulang yang tersisa, tertutup debu
Kenang, kenanglah kami
Kami telah berusaha melakukan segala yang mungkin saja kami lakukan
Namun pekerjaan belum selesai, belum mungkin saja menghitung makna 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kau yang memutuskan nilai tulang-tulang yang berserakan
Atau jiwa kita terbang menuju kemerdekaan, kemenangan, dan harapan,
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami sudah tidak dapat lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami berbicara kepadamu dalam kesunyian di malam yang sepi
Andai terasa kosong dan jam dinding berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Teruslah berjaga di batas antara pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
Yang tersisa hanyalah tulang-tulang yang tertutup debu
Ribuan kami terbaring di antara Karawang dan Bekasi
Puisi 2
Doa Seorang Tentara Sebelum Pertempuran
Karya: W.S. Rendra
Tuhanku,
Wajahmu muncul dalam kota yang terbakar
dan perkataan-Mu terukir di atas ribuan
kuburan yang dangkal
Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukan benih yang disebar di bumi yang subur ini
tetapi mayat dan wajah yang mati secara sia-sia
Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali berbicara lagi
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku
Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tidak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-
Apa yang dapat diucapkan
oleh bibirku yang terjajah?
Sementara waktu aku lihat kedua lenganMu yang lelah
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku
Puisi 3
Lagu dari Pasukan Terakhir
Karya: Asrul Sani
Di bagian akhir mencapai ke Yogyakarta
ragu telah tiba pada nyala
langit telah tergantung suram
kalimat yang tidak terstruktur dalam maknanya sendiri kata-kata yang tidak beraturan dalam artinya masing-masing ucapan yang tidak jelas yang dimaksud secara individual kata-kata yang tidak teratur dalam maknanya sendiri kalimat yang tidak teratur dalam arti yang dimaksudkan kata-kata yang tidak berurutan dalam makna masing-masing ucapan yang tidak jelas dalam arti yang dimiliki kata-kata yang tidak terstruktur dalam makna yang diinginkan kalimat yang tidak teratur dalam arti yang terkandung kata-kata yang tidak berurutan dalam makna yang dimaksudkan
Ragu telah tiba pada nyala
dan kasih akan tanah air akan berupa
peluru dalam darah
serta nilai yang tersebar selama masa
bertanya akan kesudahan ujian
mati atau tiada mati-matinya
O Jenderal, bapa, bapa,
tidak kau ingin berkata lagi untuk yang kesekian kalinya
ataukah suatu kehilangan keyakinan
hanya sisi kanan yang tetap berada pada ketidaksempurnaan
dan nanti teks yang telah dibuat sementara itu
akan lenyap terbawa angin, sebab
dia tinggal di pasir kering
O Jenderal, kami yang kini akan gugur
tidak lagi mungkin saja memeriksanya abu-abu
laut renangan Indonesia.
O Jenderal, kami yang kini akan menjadi
tanah, pasir, batu, dan air
kami mengasihi planet ini
Ah, mengapa pada hari-hari ini, matahari
keraguan ternyata ada, dan tidak pasti pada cahaya
yang akan dikirim ke bumi
Jenderal, mari Jenderal
mari jalan di muka
marilah kita hentikan perdebatan kata-kata mari kita berhenti berselisih dalam ucapan kita harus segera menghentikan perselisihan melalui perkataan ayo kita tinggalkan perbedaan pendapat dengan kata-kata kita perlu memberhentikan konflik yang disebabkan oleh ucapan
dan kebencian terhadap ketidakpercayaan yang buruk
kamu bersama kami, kamu bersama kami
Mari kita tinggalkan ibu kita
marilah kita biarkan istri dan kekasih berdoa
mari Jenderal mari
kali ini tingkat orang yang mencari tau dalam bahaya
ayo Jenderal ayo Jenderal ayo, ayo…
Puisi 4
Pahlawan Tak Dikenal
Karya: Toto Sudarto Bachtiar
Sepuluh tahun silam ia terbaring
Namun bukan tidur, sayang
Satu lubang tembakan bulat di dadanya
Senyumnya membeku ingin berkata, kita sedang berperang
Ia tidak ingat kapan ia tiba Ia lupa kapan kedatangannya Ia tidak mengingat waktu ketika ia tiba Ia tidak dapat mengingat kapan ia mencapai di sini Ia tidak mengetahui kapan ia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Ia tidak tahu kepada siapa ia datang. Ia tidak mengetahui tujuan kedatangannya. Ia tidak memahami alasan ia datang. Ia tidak tahu ke mana ia seharusnya bepergian. Ia tidak mengerti untuk siapa ia hadir.
Kemudian dia berbaring, namun bukan sedang tidur sayang
Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia semakin dingin dalam perjalanan gemericik dan nada indah
Dia masih sangat muda
Pada tanggal 10 November, hujan mulai turun.
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Namun yang terlihat, wajah-wajahnya sendiri yang tidak dikenalinya
Sepuluh tahun silam ia terbaring
Namun bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bulat di dadanya
Senyumnya membeku ingin berkata: aku masih sangat muda.
Puisi 5
Sebuah Jaket Berlumur Darah
Karya: Taufiq Ismail
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah bepergian kesedihan yang besar
Dalam kepedihan bertahun-tahun.
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah panas matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan pisau baja
Akan mundurkah kita sekarang
Sambil mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar setia kepada tirani
Dan menggunakan pakaian resmi pelayan?
Spanduk yang rusak itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang.
Pesan tersebut telah menyebar ke mana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di dalam bis kota, pawai-pawai yang kuat
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
Lanjutkan Perjuangan!
Puisi 6
Putra-Putra Ibu Pertiwi
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Seperti perempuan yang tidak mempunyai apa-apa
Ibu Pertiwi terus menghasilkan putra-putranya Ibu Pertiwi terus melahirkan anak-anaknya Ibu Pertiwi terus mengandung anak-anaknya Ibu Pertiwi terus menghasilkan keturunannya Ibu Pertiwi terus melahirkan keturunannya Ibu Pertiwi terus menghasilkan putra-putrinya Ibu Pertiwi terus melahirkan anak-anaknya yang laki-laki Ibu Pertiwi terus menghasilkan keturunan laki-lakinya Ibu Pertiwi terus melahirkan anak laki-lakinya Ibu Pertiwi terus menghasilkan putra-putranya yang berlimpah
Pahlawan-pahlawan bangsa
Dan patriot-patriot negara
(Bunga-bunga kalian mengenalnya
Atau hanya mencium semerbaknya)
Dengan jumlah besar yang tewas dengan gagah dalam perjuangan yang penuh semangat.
Merebut dan mempertahankan kemerdekaan
(Beberapa bunga dipetik oleh perempuan muda sambil tersenyum)
Membawanya ke surga meninggalkan aroma)
Ada yang sangat beruntung menyaksikan hasil perjuangan
Namun nasib buruk tidak dapat tahan godaan untuk menjadi preman
(Beberapa kelopak bunga terbang terbawa angin saat)
Berubah jadi duri-duri mala)
Seperti perempuan yang tanpa kecantikan sama sekali
Ibu Pertiwi terus menghasilkan anak-anaknya
Pahlawan-pahlawan dan bajingan-bajingan bangsa
(di taman bunga dan duri-duri)
Sama-sama diasuh mentari)
Anehnya, yang meninggal tidak takut mati justru abadi
Yang hidup merasa bahagia dengan kehilangan jiwa mereka
(mentari tersenyum sedih memandang perih
Duri-duri yang dikarenakan bunga-bunga terabaikan)
Puisi 7
Atas Kemerdekaan
Karya: Sapardi Djoko Damono
kita berkata : jadilah
dan kemerdekaan menjadi seperti lautan
di atasnya: langit dan badai yang terus-menerus
di tepinya cakrawala
terjerat juga pada akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari Ketujuh tiba
sebelum kita juga menciptakan surga
dari segenap mimpi kita
sambil ular melilit pohon tersebut :
ini dia kemerdekaan itu, nikmatkanlah
Puisi 8
Musium Perjuangan
Karya: Kuntowijoyo
Bentuk batu yang berbentuk bulat
bangkit tegak menjaga senapan usang
peluru berada di atas meja peluru tergeletak di atas meja peluru berada tergeletak di atas meja terdapat peluru di atas meja peluru ditempatkan di atas meja
menanti putusan pengunjungnya.
Aku sudah tahu, di dalamnya
tersimpan darah dan air mata kekasih
Aku sudah tahu, di bawahnya
terkubur kenangan dan impian
Aku sudah tahu, suatu kali
ibu-ibu direnggut cintanya
dan tak pernah kembali
Bukalah tutupnya
senapan akan kembali berbunyi
meneriakkan semboyan
Merdeka atau Mati.
Agar selalu diingat, sesudah sebuah perang
selalu pertempuran yang baru
melawan dirimu.
====
Berikut adalah beberapa variasi dari kalimat yang diberikan: 1. Artikel 8 berjudul Puisi dengan Tema Pahlawan karya penyair ternama Indonesia, dibagikan pada Hari Pahlawan 10 November 2025. 2. Artikel ke-8 mengangkat puisi bertema pahlawan karya sastrawan terkenal Indonesia, yang dipublikasikan dalam perayaan Hari Pahlawan 10 November 2025. 3. Puisi dengan tema pahlawan karya penyair hebat Indonesia menjadi fokus artikel 8, yang dirilis pada Hari Pahlawan 10 November 2025. 4. Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2025, artikel 8 menyajikan puisi tentang pahlawan karya penyair ternama Indonesia. 5. Artikel 8 berisi puisi dengan tema pahlawan yang ditulis oleh penyair terkenal Indonesia, dan dipublikasikan pada hari pahlawan 10 November 2025.
Buka berita dan tulisan lainnya secara langsung dari Google News
Ikuti dan daftar ke saluran WhatsApp Tribunsumsel







