8 Puisi Pahlawan Karya Penyair Indonesia, Dihadirkan 10 November 2025

- Penulis

Selasa, 25 November 2025 - 16:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AdinJavaBerikut ini terdapat 8 puisi dengan tema pahlawan yang ditulis oleh sejumlah penyair terkenal di Indonesia. Silakan baca selengkapnya.

Puisi dengan tema pahlawan ini pantas untuk dibagikan, diunggah sebagai standing atau cerita di media sosial pada Hari Pahlawan 10 November 2025.

Sebagai bentuk peninjauan, peringatan Hari Pahlawan Nasional setiap 10 November dilaksanakan untuk mengenang dan menghormati pertempuran besar yang terjadi di Surabaya pada tahun 1945, yang menjadi simbol semangat perjuangan serta keberanian rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengesahan Hari Pahlawan 10 November berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959 yang ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada 16 Desember 1959.

_________

Puisi Tema Pahlawan

Puisi 1 

Karawang Bekasi

Related Posts

Karya: Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring di antara Karawang dan Bekasi

Tidak mungkin saja lagi berteriak “Merdeka” dan mengangkat senjata

Namun siapa yang tidak lagi mendengar suara kami

Terasa kami berjalan dan menggelegar hati?

Kami berbicara kepadamu dalam kesunyian di malam yang sepi

Andai hati terasa kosong dan jam dinding terus berdetak

Kami meninggal di usia muda. Hanya tulang yang tersisa, tertutup debu

Kenang, kenanglah kami

Kami telah berusaha melakukan segala yang mungkin saja kami lakukan

Namun pekerjaan belum selesai, belum mungkin saja menghitung makna 4-5 ribu jiwa

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kau yang memutuskan nilai tulang-tulang yang berserakan

Atau jiwa kita terbang menuju kemerdekaan, kemenangan, dan harapan,

Atau tidak untuk apa-apa

Kami tidak tahu, kami sudah tidak dapat lagi berkata

Kaulah sekarang yang berkata

Kami berbicara kepadamu dalam kesunyian di malam yang sepi

Andai terasa kosong dan jam dinding berdetak

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Syahrir

Kami sekarang mayat

Berikan kami arti

Teruslah berjaga di batas antara pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami

Yang tersisa hanyalah tulang-tulang yang tertutup debu

Ribuan kami terbaring di antara Karawang dan Bekasi

 

Puisi 2 

Doa Seorang Tentara Sebelum Pertempuran

Karya: W.S. Rendra

Tuhanku,

Wajahmu muncul dalam kota yang terbakar

dan perkataan-Mu terukir di atas ribuan

kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa

Baca Juga:  Bagaimana menerapkan program peningkatan perusahaan yang efektif

Tanah sepi kehilangan lelakinya

Bukan benih yang disebar di bumi yang subur ini

tetapi mayat dan wajah yang mati secara sia-sia

Apabila malam turun nanti

sempurnalah sudah warna dosa

dan mesiu kembali berbicara lagi

Waktu itu, Tuhanku,

perkenankan aku membunuh

perkenankan aku menusukkan sangkurku

Malam dan wajahku

adalah satu warna

Dosa dan nafasku

adalah satu udara.

Tidak ada lagi pilihan

kecuali menyadari

-biarpun bersama penyesalan-

Apa yang dapat diucapkan

oleh bibirku yang terjajah?

Sementara waktu aku lihat kedua lenganMu yang lelah

mendekap bumi yang mengkhianatiMu

Tuhanku

Erat-erat kugenggam senapanku

Perkenankan aku membunuh

Perkenankan aku menusukkan sangkurku

Puisi 3 

Lagu dari Pasukan Terakhir

Karya: Asrul Sani

Di bagian akhir mencapai ke Yogyakarta

ragu telah tiba pada nyala

langit telah tergantung suram

kalimat yang tidak terstruktur dalam maknanya sendiri kata-kata yang tidak beraturan dalam artinya masing-masing ucapan yang tidak jelas yang dimaksud secara individual kata-kata yang tidak teratur dalam maknanya sendiri kalimat yang tidak teratur dalam arti yang dimaksudkan kata-kata yang tidak berurutan dalam makna masing-masing ucapan yang tidak jelas dalam arti yang dimiliki kata-kata yang tidak terstruktur dalam makna yang diinginkan kalimat yang tidak teratur dalam arti yang terkandung kata-kata yang tidak berurutan dalam makna yang dimaksudkan

Ragu telah tiba pada nyala

dan kasih akan tanah air akan berupa

peluru dalam darah

serta nilai yang tersebar selama masa

bertanya akan kesudahan ujian

mati atau tiada mati-matinya

O Jenderal, bapa, bapa,

tidak kau ingin berkata lagi untuk yang kesekian kalinya

ataukah suatu kehilangan keyakinan

hanya sisi kanan yang tetap berada pada ketidaksempurnaan

dan nanti teks yang telah dibuat sementara itu

akan lenyap terbawa angin, sebab

dia tinggal di pasir kering

O Jenderal, kami yang kini akan gugur

tidak lagi mungkin saja memeriksanya abu-abu

laut renangan Indonesia.

O Jenderal, kami yang kini akan menjadi

tanah, pasir, batu, dan air

kami mengasihi planet ini

Ah, mengapa pada hari-hari ini, matahari

keraguan ternyata ada, dan tidak pasti pada cahaya

yang akan dikirim ke bumi

Jenderal, mari Jenderal

mari jalan di muka

marilah kita hentikan perdebatan kata-kata mari kita berhenti berselisih dalam ucapan kita harus segera menghentikan perselisihan melalui perkataan ayo kita tinggalkan perbedaan pendapat dengan kata-kata kita perlu memberhentikan konflik yang disebabkan oleh ucapan

dan kebencian terhadap ketidakpercayaan yang buruk

kamu bersama kami, kamu bersama kami

Mari kita tinggalkan ibu kita

marilah kita biarkan istri dan kekasih berdoa

mari Jenderal mari

kali ini tingkat orang yang mencari tau dalam bahaya

Baca Juga:  Prosesor AMD Ryzen AI 300 Sequence untuk Copilot + PC Diumumkan: Periksa Detailnya

ayo Jenderal ayo Jenderal ayo, ayo…

Puisi 4 

Pahlawan Tak Dikenal

Karya: Toto Sudarto Bachtiar

Sepuluh tahun silam ia terbaring

Namun bukan tidur, sayang

Satu lubang tembakan bulat di dadanya

Senyumnya membeku ingin berkata, kita sedang berperang

Ia tidak ingat kapan ia tiba Ia lupa kapan kedatangannya Ia tidak mengingat waktu ketika ia tiba Ia tidak dapat mengingat kapan ia mencapai di sini Ia tidak mengetahui kapan ia datang

Kedua lengannya memeluk senapan

Ia tidak tahu kepada siapa ia datang. Ia tidak mengetahui tujuan kedatangannya. Ia tidak memahami alasan ia datang. Ia tidak tahu ke mana ia seharusnya bepergian. Ia tidak mengerti untuk siapa ia hadir.

Kemudian dia berbaring, namun bukan sedang tidur sayang

Wajah sunyi setengah tengadah

Menangkap sepi padang senja

Dunia semakin dingin dalam perjalanan gemericik dan nada indah

Dia masih sangat muda

Pada tanggal 10 November, hujan mulai turun.

Orang-orang ingin kembali memandangnya

Sambil merangkai karangan bunga

Namun yang terlihat, wajah-wajahnya sendiri yang tidak dikenalinya

Sepuluh tahun silam ia terbaring

Namun bukan tidur, sayang

Sebuah peluru bulat di dadanya

Senyumnya membeku ingin berkata: aku masih sangat muda.

Puisi 5 

Sebuah Jaket Berlumur Darah

Karya: Taufiq Ismail

Sebuah jaket berlumur darah

Kami semua telah menatapmu

Telah bepergian kesedihan yang besar

Dalam kepedihan bertahun-tahun.

Sebuah sungai membatasi kita

Di bawah panas matahari Jakarta

Antara kebebasan dan penindasan

Berlapis senjata dan pisau baja

Akan mundurkah kita sekarang

Sambil mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’

Berikrar setia kepada tirani

Dan menggunakan pakaian resmi pelayan?

Spanduk yang rusak itu, ya spanduk itu

Kami semua telah menatapmu

Dan di atas bangunan-bangunan

Menunduk bendera setengah tiang.

Pesan tersebut telah menyebar ke mana-mana

Melalui kendaraan yang melintas

Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan

Teriakan-teriakan di dalam bis kota, pawai-pawai yang kuat

Prosesi jenazah ke pemakaman

Mereka berkata

Semuanya berkata

Lanjutkan Perjuangan!

Puisi 6 

Putra-Putra Ibu Pertiwi

Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)

Seperti perempuan yang tidak mempunyai apa-apa

Ibu Pertiwi terus menghasilkan putra-putranya Ibu Pertiwi terus melahirkan anak-anaknya Ibu Pertiwi terus mengandung anak-anaknya Ibu Pertiwi terus menghasilkan keturunannya Ibu Pertiwi terus melahirkan keturunannya Ibu Pertiwi terus menghasilkan putra-putrinya Ibu Pertiwi terus melahirkan anak-anaknya yang laki-laki Ibu Pertiwi terus menghasilkan keturunan laki-lakinya Ibu Pertiwi terus melahirkan anak laki-lakinya Ibu Pertiwi terus menghasilkan putra-putranya yang berlimpah

Pahlawan-pahlawan bangsa

Dan patriot-patriot negara

(Bunga-bunga kalian mengenalnya

Atau hanya mencium semerbaknya)

Dengan jumlah besar yang tewas dengan gagah dalam perjuangan yang penuh semangat.

Baca Juga:  Keterampilan Pemasaran Virtual Teratas untuk tahun 2025: Wawasan Webinar

Merebut dan mempertahankan kemerdekaan

(Beberapa bunga dipetik oleh perempuan muda sambil tersenyum)

Membawanya ke surga meninggalkan aroma)

Ada yang sangat beruntung menyaksikan hasil perjuangan

Namun nasib buruk tidak dapat tahan godaan untuk menjadi preman

(Beberapa kelopak bunga terbang terbawa angin saat)

Berubah jadi duri-duri mala)

Seperti perempuan yang tanpa kecantikan sama sekali

Ibu Pertiwi terus menghasilkan anak-anaknya

Pahlawan-pahlawan dan bajingan-bajingan bangsa

(di taman bunga dan duri-duri)

Sama-sama diasuh mentari)

Anehnya, yang meninggal tidak takut mati justru abadi

Yang hidup merasa bahagia dengan kehilangan jiwa mereka

(mentari tersenyum sedih memandang perih

Duri-duri yang dikarenakan bunga-bunga terabaikan)

Puisi 7

Atas Kemerdekaan

Karya: Sapardi Djoko Damono

kita berkata : jadilah

dan kemerdekaan menjadi seperti lautan

di atasnya: langit dan badai yang terus-menerus

di tepinya cakrawala

terjerat juga pada akhirnya

kita, kemudian adalah sibuk

mengusut rahasia angka-angka

sebelum Hari Ketujuh tiba

sebelum kita juga menciptakan surga

dari segenap mimpi kita

sambil ular melilit pohon tersebut :

ini dia kemerdekaan itu, nikmatkanlah

Puisi 8 

Musium Perjuangan

Karya: Kuntowijoyo

Bentuk batu yang berbentuk bulat

bangkit tegak menjaga senapan usang

peluru berada di atas meja peluru tergeletak di atas meja peluru berada tergeletak di atas meja terdapat peluru di atas meja peluru ditempatkan di atas meja

menanti putusan pengunjungnya.

Aku sudah tahu, di dalamnya

tersimpan darah dan air mata kekasih

Aku sudah tahu, di bawahnya

terkubur kenangan dan impian

Aku sudah tahu, suatu kali

ibu-ibu direnggut cintanya

dan tak pernah kembali

Bukalah tutupnya

senapan akan kembali berbunyi

meneriakkan semboyan

Merdeka atau Mati.

Agar selalu diingat, sesudah sebuah perang

selalu pertempuran yang baru

melawan dirimu.

====

Berikut adalah beberapa variasi dari kalimat yang diberikan: 1. Artikel 8 berjudul Puisi dengan Tema Pahlawan karya penyair ternama Indonesia, dibagikan pada Hari Pahlawan 10 November 2025. 2. Artikel ke-8 mengangkat puisi bertema pahlawan karya sastrawan terkenal Indonesia, yang dipublikasikan dalam perayaan Hari Pahlawan 10 November 2025. 3. Puisi dengan tema pahlawan karya penyair hebat Indonesia menjadi fokus artikel 8, yang dirilis pada Hari Pahlawan 10 November 2025. 4. Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2025, artikel 8 menyajikan puisi tentang pahlawan karya penyair ternama Indonesia. 5. Artikel 8 berisi puisi dengan tema pahlawan yang ditulis oleh penyair terkenal Indonesia, dan dipublikasikan pada hari pahlawan 10 November 2025.

Buka berita dan tulisan lainnya secara langsung dari Google News

Ikuti dan daftar ke saluran WhatsApp Tribunsumsel



Follow WhatsApp Channel sekitarkita.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

10 Lodge Terbaik Dekat Danau Toba untuk Liburan Santai 2025
Orang Tunggu Sendiri Patuh 8 Aturan Kuat Ini, Menurut Psikologi
Daftar 8 Tim Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia U17 2025, Apakah Timnas Indonesia Dapat Ikut?
Mengapa Fairing Motor Sport 150 Kini Menghilang dari Showroom?
Kucing Dapat Alami Demensia! 8 Tanda yang Perlu Diwaspadai
Ban Lebih Lebar: Manfaat dan Risikonya
Jawa Timur Juara Nusantaraya di ICCF 2025, Buktikan Kepemimpinan Ekonomi Kreatif Nasional
Andai Tidak Dapat Lakukan 8 Hal Ini, Anda Mungkin saja Tua Lebih Cepat, Tutur Psikologi

Berita Terkait

Rabu, 10 Desember 2025 - 23:59 WIB

10 Lodge Terbaik Dekat Danau Toba untuk Liburan Santai 2025

Rabu, 10 Desember 2025 - 23:14 WIB

Orang Tunggu Sendiri Patuh 8 Aturan Kuat Ini, Menurut Psikologi

Rabu, 10 Desember 2025 - 21:44 WIB

Daftar 8 Tim Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia U17 2025, Apakah Timnas Indonesia Dapat Ikut?

Rabu, 10 Desember 2025 - 20:59 WIB

Mengapa Fairing Motor Sport 150 Kini Menghilang dari Showroom?

Rabu, 10 Desember 2025 - 19:29 WIB

Kucing Dapat Alami Demensia! 8 Tanda yang Perlu Diwaspadai

Berita Terbaru