[ad_1]
Beberapa selebriti Tanah Air buka-bukaan soal pengalaman kesehatan mentalnya. Beberapa di antaranya bahkan sudah terdiagnosis gangguan kesehatan psychological sejak kecil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kesehatan psychological memainkan peran penting dalam kesejahteraan setiap orang. Bagi anak, faktor ini juga menjadi pendorong tumbuh kembang yang sehat dan optimum.
Meski begitu, ada sejumlah besar hal dalam kehidupan kita yang dapat memengaruhi kesehatan psychological. {Peristiwa} yang memicu trauma dan stres bisa dikarenakan cedera psychological pada seseorang.
Masalah kesehatan psychological bisa dialami oleh siapa saja dan semua usia. Bahkan, tak minim yang sudah berjuang hidup dengan gangguan jiwa sejak kecil.
Masalah kesehatan psychological dapat dialami oleh orang-orang yang hidupnya tampak baik-baik saja, Bu. Artis yang biasa tampil yakin diri di layar kaca juga dapat memendam masalah kesehatan psychological di hatinya.
Bahkan, mereka yang merasakan gangguan kesehatan psychological sejak masa kecil dapat terjerumus ke kondisi yang lebih buruk ketika merasakan tekanan sejak remaja mencapai dewasa.
Bunda, berikut kisah inspiratif dari artis Indonesia dan mancanegara yang sedang berjuang menghadapi masalah kesehatan psychological. Mereka menolak terjebak dalam situasi tersebut dengan mencari tau bantuan dari orang terdekat atau bantuan profesional agar dapat berdiri kembali.
1. Cerelia Raisa
Cerelia Raissa / Foto: Instagram @cereliaraissa
Cerelia Raissa merupakan seorang aktris sinetron Indonesia yang memulai karirnya pada tahun 2013. Tak sejumlah besar yang tahu kalau ia telah berjuang melawan lima gangguan jiwa sejak kecil. Tetapi, ia baru mengetahuinya saat masih kumpul di bangku sekolah menengah.
“Ini sungguh aneh. Dari kecil aku merasa (bunuh diri) itu biasa, tapi ternyata tidak standard. Jadi dari kecil kalau aku merasa ada yang tidak beres, pikiranku adalah aku tidak melakukannya.” ingin ada di dunia ini. “Aku hanya ingin bunuh diri,” tutur Cerelia di saluran tersebut RESMI TRANS7 YouTube.
Setelah memeriksakan diri ke psikolog, ia didiagnosis merasakan fase depresi yang berlanjut ke kondisi bipolar. Dia juga mempunyai gangguan kepribadian ambang atau gangguan kepribadian ambang (BPD).
Kondisinya diperparah dengan gangguan kecemasan yang dialaminya setiap kali bertemu sejumlah besar orang dengan begitu dikarenakan ia merasakan serangan panik. Selain itu, ia juga harus segera menghadapi gangguan jiwa keterkaitan makanan.
Sangat beruntung, kini dia dapat menghadapi masalah tersebut. Ia pun berhasil mengatasi gangguan jiwa keterkaitan makanan. Menariknya, ia mulai merasa jarang merasakan kelainan tersebut sejak melahirkan.
“Tapi ini keajaiban, setelah melahirkan, saya tidak tahu kenapa rasanya tidak terlalu kambuh lagi,” katanya.
2.Aliando Syarief
Aliando Syarief / Foto: Asep Syaifullah
Siapa yang tak kenal Aliando? Aktor muda tampan ini kerap menghiasi layar kaca dengan membintangi berbagai sinetron populer. Tetapi ternyata gangguan kesehatan mentalnya sudah ia alami sejak kumpul di bangku sekolah dasar (SD).
Aliando menderita gangguan obsesif kompulsif (OCD) sejak kelas 2 SD, Bu. Hal ini membuat Aliando merasa harus segera melakukan suatu tindakan berulang kali. Andai ia tidak melakukannya, ia dapat merasa cemas, takut, dan khawatir.
Kondisi tersebut kembali dialami Aliando saat berusia 25 tahun. Bahkan, ia harus segera vakum dari dunia hiburan ketika masalahnya kambuh lagi.
“Jadi dua tahun ini kenapa aku nggak balik lagi, proyek hari yang lalu langsung hilang? Aku kena musibah. Aku didiagnosa OCD, gangguan obsesif kompulsif ekstrim,” tutur Aliando, dikutip dari detikcom, Rabu (2/10/24).
“Kapan-memutar Tidak menduga. Jadi semua orang menjadi siluet, kekebalan mereka menurun, lalu mereka mulai memiliki suara dalam pikiran mereka. Faktanya, kami tidak dapat berbuat apa-apa. Jadi tidak apa-apa, semoga cepat menjadi lebih baik. “Ini (bermain drum) salah satu terapi untuk dapat melawan OCD,” katanya.
Sepanjang hiatus dari dunia hiburan, ia untuk memilih merehabilitasi dirinya di rumah untuk pulih diri. Ia bersyukur sebab mempunyai orang-orang yang memahami kondisinya, Bu.
“Respon keluarga adalah mengetahui, memahami. Alhamdulillah “Mereka semua menjauh, sebab tahu apa yang dianggap aneh oleh orang-orang yang didiagnosis OCD, macam-macam, seperti akan ada rencana buruk yang akan saya lakukan terhadap orang-orang itu,” katanya.
3. Ariel Tatum
Ariel Tatum / Foto: Instagram @arieltatum
Tampil cantik dan yakin diri, Ariel Tatum rupanya mendatanya luka masa kanak-kanak. Ia sudah menjalani perawatan dari psikolog dan psikiater sejak usia 13 tahun, Bunda.
“Waktu itu kebetulan dari umur 13 tahun aku merasa ‘aku butuh bantuan ya’. Ketika itu aku merasa terlambat tapi belum terlambat, sebab ketika itu aku sudah melakukan percobaan bunuh diri yang kedua, di umur 13 tahun,” tutur Ariel di saluran tersebut Media TS YouTube.
Ariel Tatum sudah berkali-kali mencoba berbagai psikolog dan psikiater mencapai dalam hal apa pun menemukan orang yang tepat, Bunda. Dia kemudian menerima prognosis gangguan kepribadian ambang.
“Pada akhirnya setelah diubah-ubah hingga cocok, dalam hal apa pun ada diagnosa gangguan kepribadian ambang. “Saya baru tahu bahwa saya menerima prognosis tersebut pada usia 16 atau 17 tahun,” ungkapnya.
4.Billie Eilish
Billie Eilish / Foto: Richard Shotwell/Invision/AP
Penyanyi Billie Eilish dapatkan popularitas besar di Hollywood. Dibalik kesuksesannya, ternyata ia telah merasakan gangguan jiwa Tourette Syndrome sejak tahun 2019. Hal tersebut ia ungkapkan melalui unggahan di media sosialnya.
“Saya ingin meluruskan hal ini agar semua orang berhenti bersikap konyol…Saya telah didiagnosis mengidap Tourette. Saya tidak pernah menyebutkannya di web sebab tak ada yang menganggap saya bodoh…dan juga fakta bahwa saya tidak pernah mau orang-orang memikirkan Tourette setiap kali mereka memikirkanku,' tulis Billie ketika itu.
“Sindrom Tourette saya membuat hal-hal mudah menjadi lebih sulit. Hal-hal tertentu meningkatkan dan/atau memicu intensitas tics,” lanjutnya.
Gangguan ini sudah dialami Billie Eilish sejak kecil mencapai membuatnya enggan tampil di depan umum. Dalam seri Netflix Tamu Saya Berikutnya Tidak Perlu Perkenalan dengan David Letterman, penyanyi Burung Berbulu bercerita tentang kondisinya saat merasakan tics akibat sindrom ini.
“Andai kamu memfilmkanku cukup lama, kamu segera lihat sejumlah besar (episode) tics. Respon paling umum yang diberikan orang adalah mereka tertawa sebab mengira aku bercanda dan selalu berkata, 'Ha!'. Aku selalu merasa sangat tersinggung dengan hal itu,” ungkapnya.
5. Batu Emma
Emma Stone / Foto: Jordan Strauss/Invision/AP
Pada usia tujuh tahun, Emma Stone pernah merasakan pahitnya serangan panik. Tahun berikutnya, ia mulai menjalani terapi sebab sangat sulit baginya untuk keluar rumah untuk bersekolah.
Emma Stone menduga serangan panik dipicu oleh rasa takut kehilangan seseorang. Dia takut akan terpisah dari ibunya.
“Ini adalah usia yang sulit untuk dapat berdebat dengan diri sendiri, pada usia tujuh atau delapan tahun, dan menyampaikan pada diri sendiri bahwa hal-hal ini tidak benar… Sangat sulit untuk meyakinkan diri sendiri sebaliknya,” tutur Emma, dilaporkan Situs Kesehatan.
|
|
Emma Stone kemudian memulai debutnya di dunia akting pada usia 11 tahun. Ternyata aktivitas produktif dapat membantunya mengatasi serangan panik.
Artinya, kita punya alat untuk mengelola (panik). Saat itu dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang produktif dan mendapatkan keuntungan dari seluruh perasaan dalam sinapsis yang terpicu untuk sesuatu yang kreatif, sesuatu yang disukai, atau sesuatu yang menarik, tutur bintang movie itu. Los angeles Los angeles Tanah.
Bagi ibu-ibu yang menginginkannya membagikan pertanyaan mengasuh anak dan Anda dapat dapatkan sejumlah besar memberi secara tanpa biaya, ya bergabung Komunitas Pasukan HaiBunda. Daftar klik DI SINI. Bebas!
(Gambas: Video Haibunda)
(anm/rap)
[ad_2]
Sumber: haibunda







