[ad_1]
Gangguan kepribadian narsistik (NPD) merupakan gangguan kepribadian yang sering terjadi bersamaan dengan gangguan kepribadian ambang (BPD). Menambahkan NPD ke gambaran diagnostik dapat mempersulit pengobatan dan perjalanan penyakit BPD.
Gangguan kepribadian narsistik (NPD)
Gangguan kepribadian narsistik (NPD) merupakan salah satu dari sepuluh gangguan kepribadian yang diakui dalam Guide Diagnostik dan Statistik Gangguan Psychological (DSM-5) edisi kelima. NPD adalah salah satu gangguan “Cluster B”, atau gangguan kepribadian dismorfik/dramatis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gangguan kepribadian narsistik ditandai dengan adanya lima (atau lebih) gejala berikut:
- Rasa berhak
- Rasa mementingkan diri sendiri yang meningkat
- Perilaku arogan, angkuh, atau angkuh
- Iri pada orang lain atau percaya bahwa orang lain iri pada mereka
- Kurangnya empati
- Keasyikan dengan delusi kesuksesan, kekuasaan, kecemerlangan, kecantikan, atau cinta superb
- Membutuhkan kekaguman yang berlebihan
- Manfaatkan orang lain
- Keyakinan bahwa hal itu “istimewa” dan hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang memiliki hak istimewa atau standing tinggi
Singkatnya, penderita NPD dapat digambarkan sebagai orang yang mementingkan diri sendiri atau sombong. Keasyikan diri ini meningkat ke tingkat gangguan klinis ketika hal itu secara signifikan mengganggu hubungan, pekerjaan, atau bidang penting kehidupan seseorang. Banyak ahli yang percaya bahwa pendekatan egois ini sebenarnya adalah upaya individu NPD untuk mengatasi rasa harga diri yang buruk.
Gangguan kepribadian ambang (BPD)
Gangguan kepribadian ambang (BPD) ditandai dengan perubahan perilaku, suasana hati, dan citra diri yang konstan. Ledakan kemarahan, depresi, dan kecemasan yang berlangsung selama beberapa hari sering terjadi pada orang dengan gangguan kepribadian ambang.
Penderita BPD sering kali berubah pendapat tentang dirinya, orang lain, dan minatnya. Perubahan drastis dalam opini mereka sering kali menyebabkan hubungan yang bermasalah atau tidak stabil dengan orang lain. Gejala lain dari gangguan kepribadian ambang meliputi:
- Ketakutan yang sangat besar akan ditinggalkan
- Perilaku impulsif (seperti hubungan seks tanpa kondom atau penggunaan narkoba)
- merugikan diri sendiri
- Pikiran untuk bunuh diri
Apalagi saat stres, penderita BPD bisa mengalami disosiasi. Seseorang yang mengalami putus cinta mungkin merasa tidak memiliki rasa diri atau identitas. 3 Mereka dapat merasa terputus dari emosi, ingatan, dan pikiran mereka. Mereka juga dapat mengalami kehilangan ingatan yang signifikan pada saat-saat dalam hidup, orang, dan peristiwa mereka.
Seberapa sering NPD dan BPD terjadi?
Meskipun tumpang tindih antara NPD dan BPD sering dibahas dalam literatur psikologi populer dan on-line, sangat sedikit penelitian mendalam yang dilakukan mengenai kejadian NPD dan BPD secara bersamaan.
Salah satu penelitian menemukan bahwa hanya sekitar 16% pasien BPD yang memenuhi kriteria diagnostik NPD.
Namun, penelitian lain yang diambil dari sampel komunitas (bukan sampel pencarian pengobatan) menemukan bahwa sekitar 39% penderita BPD juga menderita NPD. Seberapa umumkah gangguan kepribadian ambang?
Bagaimana NPD mempengaruhi BPD?
Ada sejumlah alasan teoretis yang meyakini bahwa seseorang dengan NPD dan BPD cenderung tidak mengalami kemajuan seiring berjalannya waktu. Orang dengan NPD digambarkan sebagai orang yang sangat resisten terhadap pengobatan, dan sering kali memiliki pemahaman yang buruk tentang bagaimana perilaku mereka dapat membahayakan diri mereka sendiri atau orang lain.
Selain itu, orang dengan NPD mungkin menyebabkan lebih banyak kepedihan emosional pada orang lain dibandingkan pada diri mereka sendiri. Oleh karena itu, motivasi mereka untuk mengubah perilaku mungkin sangat rendah.
Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan NPD dan BPD cenderung tidak mengalami perbaikan gejala BPD seiring berjalannya waktu.
Sebuah studi yang mengamati pasien BPD selama enam tahun menemukan bahwa tingkat NPD yang terjadi bersamaan cukup rendah (sekitar 6%) pada pasien yang BPD-nya telah hilang (remisi). Namun, tingkat NPD yang terjadi bersamaan lebih tinggi (sekitar 19%) pada pasien yang BPD-nya belum hilang setelah enam tahun. Jadi, ada subkelompok individu dengan BPD non-remisi dan tingkat NPD yang lebih tinggi.
Hubungan, NPD, dan BPD
Hubungan orang-orang dengan BPD seringkali tidak berfungsi. Namun, menambahkan NPD ke dalam campuran dapat menciptakan kondisi yang lebih bergejolak.
Selain kehidupan cinta yang kacau dan ketakutan akan pengabaian yang terkait dengan BPD, pengidap NPD yang muncul bersamaan mungkin memanfaatkan atau memanipulasi orang lain namun memiliki sedikit empati terhadap kekhawatiran orang lain. Kombinasi ini bisa sangat merusak hubungan.
Mengobati NPD dan BPD
Saat ini tidak ada pengobatan yang didukung secara empiris untuk NPD dan tidak ada uji klinis yang dipublikasikan mengenai pengobatan NPD saja atau bersamaan dengan BPD.
Penelitian yang dipublikasikan mengenai pengobatan NPD terbatas pada beberapa studi kasus atau laporan anekdotal, namun jenis penelitian ini cenderung tidak dapat diandalkan dan rentan terhadap bias. Literatur studi kasus mengenai pengobatan NPD berfokus terutama pada penggunaan teknik psikoanalitik yang dimodifikasi dan telah mengakui tantangan dalam keberhasilan pengobatan gangguan tersebut.
Literatur klinis, secara umum, cenderung menganggap NPD sebagai suatu kondisi yang sebagian besar tidak dapat diobati, terutama dalam bentuk yang paling parah.
Beberapa orang percaya bahwa karena ada beberapa gejala yang tumpang tindih antara NPD dan BPD (seperti impulsif dan perilaku destruktif), pengobatan yang dirancang untuk BPD seperti terapi perilaku dialektis (DBT) juga dapat bekerja untuk NPD. Namun, hal ini masih belum jelas dan diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai topik ini.
[ad_2]
www.asiacue.com








