AdinJava.CO.ID, DEPOK — Matahari pagi yang hangat menembus pepohonan di lingkungan Universitas Indonesia, Depok. Berapa orang terlihat menunggu kedatangan tamu yang secepatnya tiba dengan memakai kendaraan.
Seorang wanita berpakaian daster sederhana turun dari kendaraan dan disambut oleh orang-orang yang telah menunggunya. Tubuhnya mungkin saja sudah tua, tetapi matanya masih jernih dan senyumnya memberikan ketenangan.
Itulah Prof. Dr. Saparinah Sadli, wanita yang kini berusia 99 tahun dan menjadi saksi langsung bolak-balik panjang ilmu psikologi serta pergerakan perempuan di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada hari itu, komunitas akademik Fakultas Psikologi UI mencatat namanya di ruang yang baru selesai direnovasi: “Foyer Saparinah Sadli.” Sebuah penghargaan yang tidak hanya keterkaitan dengan nama, namun juga pada nilai, karya, dan teladan hidupnya.
“Saya bersyukur, meski demikian sudah tua tapi masih diingat, masih dianggap,” katanya dengan lembut tetapi tegas, direspons dengan tawa ringan dan hangat oleh rekan serta orang-orang yang menunggu Ibu Sap, panggilan akrab Saparinah Sadli.
Bagi sejumlah besar orang, usia hampir seratus tahun dianggap hal itu sebagai masa yang penuh dengan keterbatasan. Tetapi bagi Saparinah, batas-batas itu hampir tidak terasa. Ia menjalani harinya dengan kegiatan yang sederhana: berdiri pagi, minum kopi hitam tanpa gula, membaca sebentar, serta berbicara dengan asisten rumah tangga yang telah mendampinginya sepanjang puluhan tahun.
“Saya hidup dengan apa adanya. Apa yang tersedia, saya konsumsi. Tak ada larangan. Saya tidak memaksakan diri,” ungkapnya, tetap dengan nada bicara lembut dan senyum yang hangat.
Kehidupan yang sederhana bukan hanya sekadar pilihan, namun mencerminkan pandangan hidupnya: bahwa kebahagiaan tidak datang dari kesempurnaan, melainkan dari penerimaan. Ia merasa bersyukur masih mampu hidup mandiri, tinggal di rumah sendiri, dan dikelilingi orang-orang yang memperlakukannya “seperti keluarga”.
Kehidupan sehari-hari yang sederhana ini mencerminkan ideally suited bagi apa yang terus menerus disebut oleh para peneliti sebagai penuaan yang sukses — proses menua yang bermakna, diisi dengan rasa terima kasih dan hubungan yang tulus.
Sebuah Hari untuk Menghargai Antar-jemput Panjang dan Menghormati Warisan
Di ruangan yang kini dinamakan Foyer Saparinah Sadli, suasana terasa hangat sebab perasaan nostalgia. Para dosen senior, lulusan, dan kerabat tampak sedang berfoto bersama, dengan perasaan haru yang bercampur kebahagiaan atas kehadiran sang guru besar.
Disisi berbeda ruangan, Dr. Suratna, Direktur Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Kementerian Sosial (Kemensos RI), tampak berdiskusi dengan jajaran Fakultas Psikologi. Suratna bukan orang asing di kampus Yellow Jacket, sebab ia juga lulusan Fakultas Psikologi UI, dan pernah menjadi mahasiswa dari Prof. Saparinah Sadli. Ia mengungkapkan rasa kagum terhadap semangat dan kejujuran Prof. Saparinah yang tetap hadir serta berinteraksi dengan penuh antusiasme.
Kedatangannya pada hari itu bukan hanya sekadar acara formal, namun merupakan awal dari sebuah kolaborasi yang menjanjikan. “Setelah rutinitas ini, kami lihat sejumlah besar kesempatan kerja sama dengan Fakultas Psikologi,” ungkapnya.
Suratna menambahkan, bahwa program-program Kementerian Sosial seperti bantuan rehabilitasi sosial dan makanan bergizi untuk lansia bisa diperkuat secara teori dan akademis. “Lansia layak dapatkan kasih sayang dan perhatian. Kami mengharapkan mengajak generasi muda agar mereka mungkin bisa menjadi teman dan pendamping bagi lansia, seperti contoh yang ditunjukkan Ibu Saparinah,” ajak Suratna.
Menurut Suratna, sosok Saparinah juga menjadi simbol yang penting dalam rutinitas sosial pemerintah, seperti contoh diorama yang hidup dan nyata memperlihatkan bahwa lansia bukanlah beban, namun sumber inspirasi dan pengetahuan.
“Beliau tetap mandiri, produktif, dan bahagia. Ini memperlihatkan bahwa usia bukan penghalang untuk tetap berkontribusi,” ujar Suratna.
Lobi Ramah Lansia dan Tanda Keterlibatan
Di balik perayaan yang penuh kehangatan, Fakultas Psikologi UI pada dasarnya sedang menegaskan identitasnya: kampus ilmu yang berada dalam praktik sosial.
Herta Napitupulu, Wakil Dekan Fakultas Psikologi UI, mengungkapkan bahwa peresmian Foyer Saparinah Sadli merupakan bagian dari peningkatan fasilitas kampus agar lebih bersahabat bagi lansia dan inklusif.
“Kami mengharapkan bisa menciptakan ruang yang bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat. Inklusi merupakan ujar kunci dalam Fakultas Psikologi,” ujar Herta.
Prof. Saparinah, selanjutnya Herta, merupakan simbol dari inklusi itu sendiri, sosok lansia yang tetap berkemampuan, bahagia, dan dihargai dalam lingkungannya.
Ia menambahkan, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia kini menyampaikan isi hati untuk melakukan kerja sama yang berkelanjutan dengan Kementerian Sosial. Bidang psikologi sosial dan klinis menjadi pintu masuk yang tepat untuk program pendampingan lansia.
“Mahasiswa psikologi bisa memperoleh pengalaman langsung di lapangan melalui program Kemensos. Kerja sama ini saling beruntung, akademisi dapatkan pengalaman nyata, dan Kemensos menerima dukungan ilmiah,” ungkapnya.
Mengenai Lansia dan Cinta yang Tak Pernah Redup
Dalam obrolan yang tenang, Saparinah pernah ditanyakan apa rahasia dia mampu bertahan mencapai berusia 99 tahun dengan semangat seperti remaja.
Ia tersenyum pelan. “Tak ada rahasia. Saya hanya tidak pernah memaksa diri,” katanya.
Dari sudut pandang Kementerian Sosial, jawaban yang sederhana tersebut mengandung makna filosofis yang dalam. Bahwa kesejahteraan lansia tidak hanya dinilai dari kondisi fisik atau bantuan finansial, namun juga dari ruang untuk tetap menjadi diri sendiri, diterima, dihargai, dan dicintai.
Program-program pelayanan sosial lansia yang sementara itu diadakan oleh Kementerian Sosial sejumlah besar mengambil pelajaran dari filosofi tersebut, yaitu membangun dukungan berbasis masyarakat, melibatkan generasi muda, serta menciptakan lingkungan yang “ramah dan hangat”.
“Lansia yang bahagia tidak hanya sebab dapatkan makanan bernutrisi. Tetapi sebab merasa mempunyai teman, mempunyai tempat, dan masih dianggap penting,” ujar Suratna.
Bagi Saparinah, rutinitas sosial tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Meski demikian ia jarang pergi keluar rumah, ia masih menjalin hubungan dengan komunitas lansia di wilayah Prapanca, Jakarta. Di tempat tersebut, para lansia berkumpul untuk berolahraga, menyanyi, atau sekadar berdiskusi tenang.
“Ada latihan fisik, ada lagu, tergantung pada yang hadir,” ungkapnya.
Aktivitas sederhana tersebut memperlihatkan bahwa penuaan yang aktif tidak selalu berarti sibuk. Terkadang, cukup dengan hadir dan saling berkomunikasi, kehidupan menjadi lebih bermakna.
Selama hidupnya, Saparinah Sadli menjalani satu keyakinan sederhana: bahwa manusia senantiasa perlu berpikir dan bertindak baik, terlepas dari usianya.
Ia dewasa dalam perjalanan masa perjuangan, mengajar pada masa peralihan, dan kini menikmati masa tua dengan santai.
“Saya mengucapkan terima kasih. Dulu saya terus menerus mendapat bantuan dari orang lain, sekarang saya hanya ingin hidup dengan santai,” ungkapnya.
Tetapi dalam perjalanan ketenangan tersebut, tersimpan warisan ethical yang tidak dapat dipercaya. Ia mengajarkan bahwa menjadi tua bukan berarti berhenti, melainkan kesempatan untuk membagikan kebijaksanaan.
Kolaborasi: Dari Kampus Menuju Kebijakan
Pembukaan Foyer Saparinah Sadli juga menjadi tanda awal baru dalam hubungan antara dunia akademik dan kebijakan sosial. Fakultas Psikologi UI dan Kemensos dapat mulai menjajaki kerja sama yang tidak hanya terbatas pada acara formal: observasi terapan, program lapangan mahasiswa, mencapai pembentukan komunitas pendamping lansia.
“Kami mengharapkan teori dan kebijakan saling memberi dorongan untuk. Apa yang ditemukan di lapangan bisa diuji secara ilmiah, dan sebaliknya, hasil observasi bisa digunakan dalam program sosial,” kata Suratna.
Fakultas Psikologi UI menganggap kolaborasi ini penting dalam menghadapi tantangan masyarakat menua di Indonesia, dengan meningkatnya jumlah lansia yang memerlukan pendekatan lintas disiplin.
“Fakultas Psikologi UI mempunyai tanggung jawab sosial. Kami mengharapkan mahasiswa belajar bahwa ilmu psikologi tidak hanya untuk memahami manusia, namun juga untuk membantunya,” ujar Herta.
Cahaya di Masa Tua, Jejak yang Tak Pernah Hilang
Bagi para mahasiswa dan dosen muda Fakultas Psikologi UI, nama “Saparinah Sadli” kini tidak hanya terpahat di sampul buku atau daftar sejarah di perpustakaan. Ia hadir dalam hidup nyata: pada dinding lobi yang mereka lewati setiap hari, semangat untuk terus berpikir kritis, serta keyakinan bahwa ilmu pengetahuan harus segera berada di pihak kemanusiaan.
Setiap langkah di Foyer Saparinah Sadli kini berfungsi sebagai pengingat: bahwa kehidupan yang sederhana juga mampu meninggalkan jejak yang sangat mendalam.
Saat siang tiba dan acara peresmian selesai, Saparinah kumpul di kursi roda di sudut lobi yang diberi nama. Berapa orang bergantian mendekatinya untuk mengambil foto bersama. Ia memandang seolah lihat dirinya sendiri beberapa puluh tahun silam.
“Kalian juga nanti akan tua. Tapi andai sudah tua, jangan berhenti menjadi manusia yang bahagia,” ungkapnya pelan, setengah bercanda.
Mungkin saja itulah cara seorang Saparinah Sadli meninggalkan warisan: bukan melalui patung atau monumen, namun melalui gaya hidupnya: sederhana, hangat, dan penuh rasa syukur.







