AdinJavaDi kehidupan, kita diajarkan untuk bersikap baik, ramah, serta penuh pemahaman.
Tetapi, batas antara kebaikan dan merendahkan diri sendiri terkadang sangat sempit.
Terlalu memberi ruang bagi tindakan yang melukai diri dapat menjadi tanda bahwa kita belum benar-benar menghargai diri sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari sudut pandang psikologi, cara kita membiarkan orang lain bersikap terhadap kita mencerminkan seberapa tinggi kita menghargai diri sendiri.
Menerima perilaku negatif bukan hanya keterkaitan hubungan—tetapi juga mencerminkan keyakinan dalam diri: apakah kita layak dihargai atau tidak.
Dikutip dari Skilled Editor pada Kamis (6/11), andai Anda terbiasa menerima delapan perilaku ini, sebaiknya berhenti sejenak dan bertanya.
Apakah saya telah memberi nilai yang penuh terhadap diri sendiri?
1. Orang Lain Terkadang Mengabaikan Batasan Anda
Batasan diri (barriers) merupakan dasar dari hubungan yang baik.
Andai Anda menyampaikan tidak tetapi orang lain terus memaksa, hal ini termasuk pelanggaran.
Yang lebih mengecewakan ialah ketika Anda masih membiarkannya.
Psikologi menggambarkan batasan sebagai cara untuk melindungi diri.
Andai Anda tidak mempertahankannya, dunia menganggap bahwa Anda tidak merasa pantas dihormati.
2. Selalu Memaafkan Perilaku Tidak Sopan
Diperlakukan dengan kasar, dianggap remeh, atau dihina bukanlah hal yang biasa.
Tetapi, berapa orang berusaha membenarkan tindakan tersebut dengan menganggap bahwa pelaku “sedang stres”, “memang itulah sifatnya”, atau “tidak sengaja”.
Terlalu terus menerus memaafkan justru dikarenakan sikap buruk semakin bertambah.
Ini mengindikasikan bahwa tingkat perlakuan yang Anda terima sangat rendah.
3. Menerima Janji yang Tidak Pernah Ditepati
Bila seseorang terus-menerus melanggar janji dan Anda tetap menerima mereka tanpa ada konsekuensi, secara tidak sadar Anda memberi pesan bahwa integritas bukan hal yang penting dalam hubungan tersebut.
Dalam ilmu psikologi sosial, rasa aman dan kepercayaan merupakan kebutuhan emosional.
Seseorang yang menghargai dirinya sendiri akan menginginkan kejelasan dan keseragaman.
4. Membiarkan Orang Lain Mengambil Tanpa Pernah Memberikan Apa Pun
Hubungan yang baik selalu berlangsung secara saling sangat beruntung.
Baik itu energi, waktu, perhatian, atau dukungan.
Andai Anda terus-menerus memberi tanpa pernah dapatkan apa pun, hubungan tersebut akan menjadi tidak seimbang.
Ketidakseimbangan yang terus-menerus ini memperlihatkan bahwa Anda lebih memprioritaskan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan diri sendiri—ini merupakan tanda adanya harga diri yang rendah.
5. Khawatir Mengungkapkan Perasaan Sendiri
Andai Anda terus-menerus tahan ekspresi Anda agar tidak melukai perasaan orang lain, hal ini dapat menggambarkan bahwa Anda lebih memprioritaskan kenyamanan orang lain daripada diri sendiri.
Psikologi humanistik menggambarkan keaslian (authenticity) sebagai komponen penting dalam pembentukan identifikasi.
Menyembunyikan emosi untuk kepentingan orang lain berarti mengorbankan diri sendiri demi kebahagiaan orang lain.
6. Selalu Meminta Maaf Meski demikian Tidak Bersalah
Kebiasaan terlalu terus menerus meminta maaf mencerminkan rasa bersalah yang berlebihan serta ketakutan akan penolakan.
Orang yang mempunyai harga diri rendah terus menerus merasa bertanggung jawab terhadap perasaan orang lain.
Meski demikian demikian, setiap orang bertanggung jawab atas responsnya sendiri.
Andai Anda meminta maaf tanpa ada alasan yang jelas, hal itu bisa mengurangi harga diri Anda.
7. Memperbolehkan Kritik Berlebihan dan Perbandingan yang Merendahkan
Terkadang kritik berguna.
Tetapi, andai seseorang terus-menerus membandingkan Anda dengan orang lain atau menganggap remeh prestasi Anda, bukanlah nasihat—ini adalah penghinaan.
Menerima kritik yang tidak konstruktif memperlihatkan bahwa Anda tidak menghargai keunikan kemampuan Anda.
Seseorang yang menghargai dirinya sendiri akan memandang kritik sebagai kesempatan atau batas kemampuan yang perlu dipertahankan.
8. Bertahan di Bawah Kondisi atau Hubungan yang Menyulitkan
Baik dalam pertemanan, pekerjaan, maupun hubungan cinta—tetap berada di lingkungan yang merendahkan harga diri memperlihatkan tanda paling jelas bahwa Anda tidak menjadikan diri sendiri sebagai prioritas utama.
Psikologi menggambarkan hal ini sebagai keadaan ketidakmampuan belajar—situasi di mana seseorang terbiasa menerima ketidaknyamanan sampai merasa tidak mempunyai pilihan.
Meski demikian demikian, keluar merupakan pilihan terbaik.
Mengapa Kita Mengizinkan Perilaku Ini?
Sejumlah besar faktor yang bisa memengaruhi hal ini, mulai dari pengalaman traumatis saat kecil, rasa takut akan ditinggalkan, sampai keinginan untuk diakui.
Kita mungkin saja terbiasa mengorbankan diri untuk menjaga keseimbangan, atau merasa tidak pantas diperlakukan dengan lebih baik.
Tetapi, akar dari segalanya terus menerus kali berujung pada satu hal: keyakinan bahwa diri tidak layak dihargai.
Mempelajari Nilai Diri: Mulai Darimana?
Kenali harga diri Anda. Anda layak dihormati.
Tentukan batasan yang tegas. Menolak tanpa merasa bersalah.
Berani mengungkapkan kebenaran. Pendapat Anda berharga.
Menilai hubungan. Yang mana yang sehat dan yang tidak?
Jaga kesehatan diri. Merawat diri meningkatkan harga diri.
Menghargai diri tidak berarti bersifat egois.
Justru, ini merupakan wujud kasih sayang yang sangat mendalam terhadap diri sendiri.
Bila Anda menghargai diri sendiri, Anda akan menarik orang-orang yang juga menghargai Anda.
Penutup
Menerima tindakan negatif bukanlah tanda kesabaran, melainkan ketidakmampuan untuk menghargai diri sendiri.
Hidup mengajarkan bahwa cinta bermula dari dalam diri sendiri.
Ketika Anda berani menyampaikan, “Saya layak diperlakukan dengan baik,” dunia akan menyesuaikan diri.
Dalam hal apa pun, Anda adalah pihak pertama yang menjaga harga diri Anda sendiri—dan cara Anda menghargai diri sendiri akan menyelesaikan bagaimana orang lain memperlakukan Anda.







