[ad_1]
Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilantik untuk masa jabatan keduanya, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun pada hari Senin (20/1). Trump menyatakan keinginannya untuk memperkenalkan keadaan darurat energi nasional, yang meliputi pengisian cadangan energi strategis Amerika Serikat dan ekspor energi ke seluruh dunia. Terlepas dari janji Trump untuk meningkatkan sektor energi, pembukaan ini membuat pasar minyak menjadi lebih negatif.
Menurut analisis dari Andy Nugraha, Analis Dupoin Indonesia, kombinasi indikator candlestick dan Shifting Reasonable memperlihatkan adanya terbentuknya tren bearish yang semakin kuat pada harga WTI. Proyeksi harga untuk hari ini, mengisyaratkan kemungkinan penurunan harga WTI sampai sampai $72.8 in line with barel. Tetapi, andai harga gagal sampai degree tersebut dan terjadi rebound, ada potensi harga naik kembali menuju $79.3 sebagai goal terdekat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Seiring dengan perkembangan tersebut, harga minyak mentah berjangka WTI merasakan penurunan sebesar $1,30, atau 1,7%, menjadi $76,58 in line with barel pada hari Selasa (21/1). Kontrak WTI untuk pengiriman Maret juga turun 91 sen, atau 1,2%, menjadi $76,48. Untuk saat ini, dengan adanya libur nasional di Amerika Serikat, tak ada penyelesaian untuk kontrak WTI pada hari tersebut.
Selain faktor dalam negeri, kebijakan di luar negeri Amerika Serikat juga berpotensi mempengaruhi pasar minyak. Janji Trump untuk meningkatkan produksi energi domestik dengan mempercepat izin proyek minyak dan gasoline, terutama di Alaska, bisa berdampak pada pasokan global. Kebijakan ini berpotensi memperketat pasar energi dalam jangka panjang, meski demikian beberapa kebijakan tersebut mungkin saja memerlukan waktu untuk diimplementasikan.
Dalam situasi global, ketegangan yang lebih rendah di Timur Tengah juga berkontribusi pada penurunan harga minyak. Perdagangan sandera antara Hamas dan Israel menandai terjadinya gencatan senjata pertama setelah perang 15 bulan, yang berpotensi meredakan ketegangan dan meningkatkan kestabilan pasar energi.
Disisi berbeda, kebijakan baru Trump, termasuk pengakhiran moratorium ekspor LNG, bisa memberi dampak jangka panjang terhadap pasokan energi global. Sanksi-sanksi baru yang mungkin saja diterapkan terhadap Rusia juga bisa memangkas pasokan global sekitar 1 juta barel in line with hari, tetapi proyeksi harga jangka pendek bisa dipengaruhi oleh langkahnya kebijakan yang lebih luas dari pemerintah Amerika Serikat.
Secara keseluruhan, pasar minyak sementara tampak menghadapi sejumlah besar faktor yang saling bertentangan. Andai Trump berhasil mewujudkan kebijakan energinya secara cepat, hal itu bisa memberi dampak signifikan pada harga minyak dalam jangka panjang, meski demikian potensi penurunan harga dalam jangka pendek tetap ada.
[ad_2]
Sumber: vritimes








