AdinJava.CO.ID,JAKARTA – Kehadiran perabot antariksa 3I/ATLAS mengejutkan komunitas astronomi global. Perabot langit yang mirip komet namun tidak sesuai dengan ciri-ciri umumnya memicu teori bahwa perabot tersebut merupakan kendaraan dari planet lain di luar Tata Surya.
Hingga sementara, setelah 3I/Atlas melewati titik terdekatnya dari Matahari, perabot tersebut akan berbalik arah dan kembali meninggalkan Tata Surya. Ilmuwan masih mencoba memperkirakan apa pada kenyataannya perabot yang mempunyai panjang mencapai puluhan meter itu.
Beberapa ilmuwan, seperti profesor Harvard, Avi Loeb, mengusulkan bahwa 3I/ATLAS mungkin saja merupakan alat pemantau yang dikirimkan oleh peradaban di planet lain. Jadi, bagaimana pada kenyataannya pandangan Islam terhadap kemungkinan adanya peradaban atau makhluk hidup di luar bumi?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perlu dimengerti terlebih dahulu, kehidupan di luar Bumi dalam pikiran para astronom tidak selalu mirip dengan yang ada di film-film Hollywood. Mereka bukan makhluk menakutkan seperti yang digambarkan dalam film-film yang pernah mengunjungi Bumi.
Baru-baru ini, teori mengenai kehidupan di planet lain semakin berkembang sebab jumlah besar planet di luar Tata Surya atau exoplanet yang telah terdeteksi oleh berbagai teleskop canggih seperti Hubble dan James Webb.
Hingga sementara, jumlah exoplanet yang secara resmi tercatat oleh NASA dan badan antariksa di berbagai belahan dunia telah sampai 6.000 sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1995. Terdapat lebih dari 8.000 kandidat planet lainnya yang masih menunggu verifikasi.
Dari jumlah tersebut, sekitar 60 exoplanet diprediksi mempunyai kondisi mirip Bumi dan mampu memberi dukungan kehidupan. Berdasarkan informasi dari space.com, sebuah planet dianggap mempunyai potensi ramah terhadap kehidupan andai ukurannya relatif kecil dan berbatuan, serta mengorbit di dalam zona layak huni atau zona “Goldilocks” bintangnya.
Wilayah ini secara umum diartikan sebagai arena di mana air dapat berada dalam bentuk cair di permukaan suatu planet. Dengan berkembangnya teknologi teleskop, faktor-faktor tambahan seperti komposisi atmosfer planet dan tingkat aktivitas bintang yang mengelilinginya juga mulai dipertimbangkan.
Beberapa exoplanet yang dianggap paling berpotensi untuk dihuni oleh makhluk hidup antara lain Gliese 667Cc (berjarak 22 tahun cahaya dari Bumi), Kepler-22b (600 tahun cahaya dari Bumi), Kepler-69c (2.700 tahun cahaya), Kepler-62f (1.200 tahun cahaya), bintang induk Kepler-186f (500 tahun cahaya dari Bumi), Kepler-442b (1.194 tahun cahaya dari Bumi), dan Kepler-452b yang terletak sepanjang 1.400 tahun cahaya dari Bumi.
Selain itu, terdapat tiga exoplanet yang mempunyai kondisi mirip dengan Bumi. Salah satunya adalah Kepler-1649c, yang berada sepanjang 300 tahun cahaya dari Bumi dan hanya 1,06 kali ukurannya. Ketika membandingkan cahaya yang diterima oleh kedua planet dari bintang masing-masing, ilmuwan menemukan bahwa exoplanet ini menerima 75 persen cahaya yang sama dengan yang diterima Bumi dari Matahari.
Tetapi, Proxima Centauri b berada sekitar empat tahun cahaya dari Bumi, dengan begitu menjadi planet luar tata surya yang paling dekat dengan Bumi, menurut NASA. Planet ekstrasurya yang ditemukan pada tahun 2016 ini mempunyai berat 1,27 kali massa Bumi.
Meski demikian planet luar tata surya ini berada di zona layak huni bintangnya, Proxima Centauri, tetapi ia merasakan radiasi ultraviolet yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh dudukannya yang sangat dekat dengan bintang induknya dan mempunyai siklus orbit hanya 11,2 hari.
Kemudian terdapat TRAPPIST-1, sebuah planet yang ukurannya mirip Bumi dan merupakan yang pertama ditemukan di zona layak huni bintang tunggal. Sistem ini terdiri dari tujuh buah planet.
Sebagian besar air di planet-planet ini kemungkinan telah menguap sejak awal pembentukan sistem. Tetapi, sebuah observasi pada tahun 2018 menemukan bahwa beberapa planet ini mampu mendatanya lebih dengan jumlah besar air dibandingkan lautan di Bumi. Salah satu planet tersebut, bernama TRAPPIST-1e, dianggap paling potensial untuk memberi dukungan kehidupan seperti yang kita kenal.
Dalam dunia ilmu pengetahuan, menurut Dr Taufiq Hidayat, profesor studi Astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB), terdapat dua alur pemikiran utama mengenai kehidupan di luar Bumi. Mantan Kepala Observatorium Bosscha di Lembang ini yaitu salah satu dari empat orang Indonesia yang nama mereka diabadikan sebagai nama asteroid.
Taufiq menceritakan dalam kalangan para ilmuwan terdapat dua aliran utama mengenai kehidupan di planet lain. Yang pertama bersikap optimis, sedangkan yang lainnya pesimis.
Penganut mazhab optimis mempercayai keyakinan mereka berdasarkan luasnya alam semesta. Taufik menyamakan, di galaksi Bima Sakti tempat kita tinggal, terdapat paling minim 200 miliar bintang.
Dari jumlah tersebut, terdapat dengan jumlah besar sekali bintang yang mirip dengan matahari dan mempunyai planet-planet. Bima Sakti hanyalah salah satu dari 170 miliar galaksi yang telah dipetakan hingga sementara. Setiap galaksi mempunyai paling minim 10 juta mencapai seratus triliun bintang. “Dan satu persen dari miliaran bintang itu saja sudah sangat dengan jumlah besar,” kata Taufiq kepadaAdinJava.
Untuk itu, menurut Taufiq, pengikut mazhab tersebut percaya bahwa kemungkinan besarnya terdapat planet serupa Bumi yang dihuni makhluk hidup. Bahkan, mereka juga yakin bahwa kehidupan di luar Bumi sangat melimpah.
Sementara waktu aliran pesimis berpendapat dengan lihat situasi di Bumi. Mereka mempertimbangkan bahwa kondisi yang memberi dukungan kehidupan di Bumi sangat dengan jumlah besar dan khusus. Taufiq memberikan contoh kondisi pratektonik, komposisi atmosfer, air, udara, jarak yang tepat dari bintang tempatnya mengorbit, keberadaan bulan sebagai satelit penyeimbang, serta masih dengan jumlah besar lagi lainnya.
Intinya, secara umum, Bumi memang unik. Pengikut aliran pesimis yakin bahwa sangat sulit menemukan kombinasi kondisi yang mampu memberi dukungan kehidupan, khususnya makhluk yang berakal, seperti di Bumi. Tetapi, terdapat juga pendekatan tengah. Menurut Taufiq, kemungkinan besarnya makhluk berakal tidak tersebar secara melimpah di alam semesta. Meski demikian demikian, lebih mungkin saja adanya bentuk-bentuk kehidupan yang kecil atau organisme bersel tunggal.
“Menurut saya pribadi, saya yakin ada kehidupan yang cerdas di planet lain, namun tidak dalam jumlah besar.” Ujar Taufiq. Dan kemungkinan adanya pertemuan antara kehidupan-kehidupan cerdas tersebut, seperti yang terlihat dalam film-film fiksi ilmiah mencapai sementara, sangat kecil.
Pada tahun 1961, astronom AS Frank Drake mempromosikan yang dikenal sebagai Persamaan Drake. Secara singkat, andai jumlah bintang dan usia alam semesta dihitung, serta kita ingin mengetahui kemungkinan keberadaan makhluk mirip manusia, maka probabilitasnya sampai angka lebih dari 10 ribu jenis kehidupan di luar sana, sejak Giant Bang mencapai sementara.
Apa pendapat agama Islam mengenai kehidupan di luar bumi?
Amal Elmohtar, seorang penulis fiksi ilmiah yang telah memenangkan berbagai penghargaan, menceritakan kepadaAdinJavamelalui surel bahwa gagasan tentang keberadaan makhluk hidup di planet lain bukan hal yang asing dalam khasanah sastra Arab. Perempuan keturunan Timur Tengah yang tinggal di Kanada itu kemudian menyebutkan Zakariya Alqazwini, seorang ilmuwan Arab yang hidup pada abad ke-13.
Al-Qazwini merupakan seorang mahir astronomi dan penulis bukuAjaib Alam Makhluk dan Ajaib Yang Adasebuah buku kosmografi yang menjadi acuan pada masanya. Ia juga pernah menulis sebuah buku yang dianggap hal itu sebagai salah satu karya fiksi ilmiah tertua berjudul Awaj bin Anfaq. Dalam buku tersebut, Alqazwini menceritakan tentang seorang penduduk planet lain yang mengunjungi bumi di masa depan.
Para ilmuwan terus menerus merujuk pada temuan ilmuwan lain untuk memperkuat pendiriannya mengenai topik tersebut. Tetapi, ayat-ayat dalam Alquran juga menjadi sumber inspirasi bagi mereka. Ayat ke-29 dari Surat Al-Ahqaf mungkin saja salah satunya.Salah satu tanda-Nya adalah menciptakan langit dan bumi serta makhluk-makhluk yang merangkak yang Dia sebar di keduanya. Dan Dia mampu mengumpulkan semuanya bila dikehendaki-Nya,” demikian bunyi ayat tersebut.
Di Indonesia, salah satu penafsiran yang memperkuat petunjuk adanya makhluk hidup di luar angkasa melalui ayat tersebut adalah Tafsir Alfurqankarya Ahmad Hassan (1887-1958). Tafsir ini ditulisnya antara tahun 1920 mencapai 1950-an. Kini, Tafsir Alfurqan menjadi referensi utama organisasi Islam Persatuan Islam (Persis).
Mengenai ayat ke-29 Surah Assyura, berikut penjelasan Ahmad Hassan dalam edisi terbitan tahun 1956:Ini berarti bahwa di langit (pada bintang-bintang) terdapat makhluk hidup yang berkuasa. Allah mampu mengumpulkan makhluk-makhluk tersebut setelah kematian mereka pada hari Kiamat.
Terdapat juga penafsiran Ahmad Hassan mengenai ayat 5 Assafaat,Tuhan yang berada di tempat-tempat terbit matahari bisa dimaknai, bahwa telah ada dengan jumlah besar bumi yang menerima cahaya dari matahari seperti bumi kita ini. Setiap bumi mempunyai tempat terbit dan tempat terbenam. Jadi, yang dimaksud: Tuhan bagi semua bumi yang mempunyai tempat terbit.
Menarik untuk diketahui bahwa penemuan planet di luar tata surya yang berada di zona mirip Bumi baru saja diverifikasi pada tahun 2011.
Pada waktu yang tidak terlalu jauh dari Ahmad Hassan, ulama asal Pakistan Abul Ala Al Maududi (1903-1979) mengungkapkan pendapat yang serupa. Dalam buku komentarnya tentang Alquran, Tahfim ul Quran, pandangan Maududi mengenai dua ayat tersebut sejalan dengan tafsir Ahmad Hassan. Tetapi, dalam karya yang ditulisnya antara tahun 1942 mencapai 1972, Maududi mengemukakan spekulasi yang lebih mendalam keterkaitan tafsir Surat At-Talaq ayat 12.
Kandungan ayat tersebut, “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan demikian pula bumi. Perintah Allah berlaku di dalamnya, agar kalian mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”
Dengan panjang lebar, Maududi menjelaskan bahwa makna dari ayat tersebut adalah bahwa Tuhan telah menciptakan bumi-bumi lain yang dihuni oleh makhluk berakal seperti manusia serta makhluk-makhluk lainnya. “Dengan ujar lain, bintang-bintang dan planet-planet yang jumlahnya tak terhitung bukan semuanya dibiarkan kosong. Tetapi, sebagaimana bumi, dengan jumlah besar di antaranya yang dihuni,” tulis Maududi.
Ia mengembangkan pendapat tersebut dengan merujuk pada Ibnu Abbas, salah satu sahabat Nabi Muhammad dan salah satu mufasir awal Alquran. Maududi merujuk pada kisah yang terus menerus diungkapkan oleh para ulama terdahulu bahwa Ibnu Abbas awalnya enggan mengungkapkan tafsir mengenai ayat tersebut sebab takut keyakinan umat Islam akan goyah.
Tetapi demikian, menurut Maududi, para mufasir klasik seperti Ibnu Jaarir Atthabari, Ibnu Abi Hatim Arrazi, dan Imam Baihaqi juga merujuk pada penjelasan tambahan dari Ibnu Abbas. “Di setiap bumi tersebut, terdapat rasul yang serupa dengan rasul kalian, Adam yang sama dengan Adam kalian, Nuh yang sama dengan Nuh kalian, Ibrahim yang sama dengan Ibrahim kalian, dan Isa yang sama dengan Isa kalian,” adalah isi kutipan tersebut.
Beberapa mufasir Alquran lain meragukan kutipan tersebut dan menyatakan bahwa andai benar kutipan itu berasal dari Ibnu Abbas, sumbernya kemungkinan berasal dari budaya Israiliyat. Tetapi, menurut Maududi, keberatan-keberatan ini lebih disebabkan oleh ketidaktuntasan ilmu pengetahuan pada masa lalu.
Maududi kemudian merujuk pada mahir tafsir abad ke-19, Mahmud Alalusi, yang menyatakan, “tak ada hambatan intelektual atau agama dalam menerima (komentar Ibnu Abbas) sebagai kebenaran. Artinya hanya bahwa di setiap bumi, terdapat makhluk-makhluk yang mengikuti keturunan mereka seperti manusia mengikuti asal usulnya dari Adam.”
Bagaimanapun, pemahaman terhadap Alquran muncul sesuai dengan kondisi zamannya. Untuk itu,AdinJavamencoba mengajukan pertanyaan kepada sejumlah pakar tafsir di Nusantara mengenai tanda-tanda keberadaan makhluk hidup di planet lain.
Dr Akhsin Shakho Muhammad, seorang mahir Ilmu Alquran yang lulusan Madinah serta pendiri dan pengasuh Ma`had Darul Qur’an di Arjawinangun, Cirebon menyatakan bahwa Alquran mengisyaratkan keberadaan makhluk hidup lain di ‘langit.’
“Maka andai kita lihat teks dalam Alquran, memang demikian bunyinya. Dabbatun berarti makhluk melata. Artinya dia hidup,” kata Akhsin merujuk pada surat Assyura ayat 29.
Hanya saja, menurutnya, kita belum memahami bentuknya mencapai sementara. Mengenai hal tersebut, ujar Akhsin, bisa diserahkan kepada sejarah serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang jelas, ia menegaskan, umat Islam harus segera yakin bahwa Allah benar-benar menciptakan makhluk hidup di langit yang dalam Alquran disebutsamawati.
Arti ujar samawati, ujar Akhsin, bisa berarti tingkatan-tingkatan langit. Bisa berupa tingkat pertama, tingkat kedua dan seterusnya. Secara umum, samawati juga dapat diartikan sebagai bintang-bintang. Bahkan seluruh arena yang letaknya di atas bumi bisa disebut samawati.
Penulis Tafsir Almisbah, Profesor Quraish Shihab menyetujui pendapat tersebut. Ia menyatakan, Alquran biasanya menyebut makhluk yang berada di langit dan di bumi dengan bahasatak ada yang tersembunyi di langit maupun di bumi.
Makhluk-makhluk maksudnya, berdasarkan pengertian ujar dia, merupakan makhluk-makhluk yang mempunyai akal.
“Hanya saja tidak dijelaskan secara spesifik bentuk makhluk-makhluk tersebut,” ujar Quraish Shihab. Menurutnya, sebagian ulama menerjemahkan makhluk-makhluk berakal itu sebagai malaikat atau jin.
Meski demikian demikian, seperti Shakho, Quraish menyatakan bahwa Alquran juga memakai istilah dabbah untuk menggambarkan makhluk-makhluk yang tersebar di langit, sebagaimana dikatakan dalam Surat Assyura ayat 29. “Ujar tersebut merujuk pada makhluk yang bergerak,” kata Quraish Shihab. Rentang makna ujar itu, menurut Quraish Shihab, meliputi mulai dari hewan besar mencapai makhluk kecil.
Hal itu, menurut Quraish, pada kenyataannya sesuai dengan temuan para ilmuwan astrobiologi bahwa terdapat makhluk-makhluk yang mampu bertahan hidup dalam kondisi yang berbeda dari Bumi di berbagai perabot langit.
Bagaimanapun juga, menurut Quraish, andai nanti observasi ilmiah membuktikan adanya makhluk hidup di planet lain, umat Islam benar-benar tidak perlu merasa khawatir. Bahkan, melalui petunjuk-petunjuk dalam Alquran, umat Islam bisa turut memberi dukungan temuan-temuan tersebut.
“Maka, yang kita peroleh adalah keyakinan ganda, dari observasi ilmiah, dan dari kitab suci,” ungkapnya.







