AdinJavaPembalap pengganti Marc Marquez di Ducati Lenovo, Nicolo Bulega, menyampaikan hal yang paling sulit dalam debutnya di MotoGP Portugal 2025.
Nicolo Bulega telah menghentikan hari pertamanya sebagai pembalap MotoGP setelah menjalani sesi latihan dalam GP Portugal 2025, Jumat (7/11/2025), hari yang lalu.
Berada di Sirkuit Algarve, Portimao, Portugal, pembalap yang menjadi juara kedua WorldSBK 2025 tersebut memperlihatkan kecepatan yang cukup mengesankan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia hanya terpaut sekitar 1 detik dari rekor waktu tercepat dalam latihan bebas/loose apply 1 (FP1) dan semua sesi latihan oleh Alex Marquez (BK8 Gresini Racing).
Di sesi FP1, dia tertinggal 0,928 detik dari Marquez muda, sementara itu pada sesi latihan marinnya adalah 1,012 detik.
Alex Marquez juga mengemudikan Ducati meski demikian memakai spesifikasi tahun lalu, yaitu Desmosedici GP24, sedangkan Bulega memakai versi paling kekinian namun lebihdifficult, GP25.
Benar, Bulega gagal memenuhi syarat untuk Q2 secara otomatis, tetapi dudukannya di urutan ke-17 dan selisih waktunya tergolong mengagumkan mengingat persiapan yang sangat singkat.
Bulega hanya mempunyai waktu 3 jam untuk mencoba motor Ducati di MotoGP. Hanya 35 putaran yang ia lakukan dalam pengujian ban Michelin di Jerez, Spanyol, pekan lalu.
Bahkan Bulega mampu unggul 0,2 detik dari pembalap tetap Ducati, Francesco Bagnaia, dalam sesi FP1 meski demikian kinerja Nuvola Rossa terganggu oleh uji coba kompon ban.
Meski demikian demikian, kemampuan Bulega untuk secepatnya mendekati tingkat pembalap MotoGP tetap mendapat apresiasi.
“Lihat perbedaannya, ternyata tidak terlalu jelek,” tutur Bulega sambil tersenyum, dikutip oleh AdinJavadari.Speedweek.
Tujuan saya hanya bertahan di atas motornya, menghentikan dengan jumlah besar lap, serta memperoleh pengalaman.
Saya harus segera memahami semua perbedaan yang ada dibandingkan dengan Superbike. Tak ada perbedaan yang signifikan dan mencolok; semuanya hanya minim berbeda.
“Namun andai digabungkan, hasilnya akan sangat berbeda,” tegas mantan anggota VR46 Riders Academy tersebut.
Sejumlah besar perbedaan terdapat antara motor Ducati Desmosedici yang digunakan di MotoGP dan Ducati Panigale V4 R yang berlaga di WorldSBK.
Desmosedici lebih mutakhir dengan rem berbahan karbon, fitur bantuan berkendara, sampai komponen motor yang bersentuhan langsung dengan jalan yaitu ban.
“Kesulitan terbesar bagi saya adalah saya harus segera terlalu dengan jumlah besar berpikir saat mengemudi sebab fitur bantuan berkendara dan titik pengereman,” ungkapnya.
Saya perlu mengubah cara pengereman saya secara signifikan.
Setelah dua tahun mengandalkan ban Pirelli di World Superbike, tidak gampang beralih ke Michelin dalam sekejap.
“Andai saya bisa berkendara dengan lebih leluasa, tanpa harus segera memikirkan segala sesuatu itu, saya dapat sembuh,” ungkapnya.
Pengalaman Bulega dengan Pirelli akan menjadi bekal berharga untuk masa depannya, sebab produsen ban asal Italia tersebut akan menggantikan Michelin sebagai penyedia ban tunggal di MotoGP mulai tahun 2027.
Kehadiran Bulega dalam MotoGP ini juga akan membantunya dalam tugas ganda pada tahun akan datang, yaitu sebagai pembalap tetap Ducati di WorldSBK dan sebagai pembalap pengujian di MotoGP.
Perubahan Bulega tidak hanya keterkaitan dengan motor besi, namun juga bekerja sama dengan anggota tim yang lebih dengan jumlah besar dibandingkan di WorldSBK.
Suasana di dalam garasi cukup mirip dengan yang terus menerus saya alami, sebab saya juga berlomba untuk tim pabrikan di Superbike. Pendekatannya sangat serupa,” ungkapnya.
Hanya perbedaannya adalah, ketika saya biasanya turun dari motor roda dua dan kumpul, lima orang mendengarkan saya di sana, sedangkan di sini ada 10 atau 15 orang,
“Lebih dengan jumlah besar telinga yang mendengarkan dan lebih dengan jumlah besar mata yang mengatur,” jelas Bulega.







