KBB | SEKITARKITA.id – Persiapan kontingen Bowling NPCI Kabupaten Bandung Barat (KBB) menghadapi Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat 2026 dihadapkan pada persoalan serius.
Di tengah waktu pertandingan yang semakin dekat, fasilitas latihan justru terancam tidak dapat digunakan akibat tunggakan sewa yang mencapai sekitar 10 bulan.
Pembayaran sewa tempat latihan diketahui terhenti sejak awal Oktober 2026. Kondisi tersebut membuat akses atlet Bowling NPCI KBB untuk menjalani latihan turut terganggu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bahkan, dalam dua pekan terakhir, aktivitas latihan tidak dapat berjalan secara maksimal. Situasi ini dikhawatirkan semakin mengganggu kesiapan para atlet disabilitas yang akan membawa nama Kabupaten Bandung Barat pada Peparda VII Jabar.
Pelatih Kepala Cabor Bowling NPCI KBB, Acep Kurnia, mengatakan pihak pengelola tempat latihan sejauh ini masih memberikan kelonggaran. Namun, tanpa adanya penyelesaian tunggakan, keberlangsungan penggunaan fasilitas tersebut terancam.
“Ketidakpastian ini langsung berdampak pada kondisi para atlet,” kata Acep, Rabu (21/10/2026).
Menurutnya, persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut tempat latihan. Ketidakjelasan dukungan anggaran mulai berdampak terhadap mental dan motivasi para atlet.
Acep menyebut, kekecewaan mulai dirasakan atlet yang selama ini telah menjalani persiapan untuk menghadapi Peparda VII Jabar. Semangat berlatih perlahan menurun karena program latihan tidak dapat dilakukan secara konsisten.
“Ketidakjelasan dukungan membuat mental mereka terganggu, semangat berlatih menurun, dan kondisi fisik pun ikut melemah lantaran pola latihan yang tidak lagi berjalan konsisten,” ujarnya.
Persoalan yang dihadapi atlet Bowling NPCI KBB tidak berhenti pada tunggakan sewa tempat latihan.
Kebutuhan transportasi hingga konsumsi harian selama menjalani latihan juga masih harus ditanggung secara swadaya oleh atlet dan pelatih.
“Beban tidak berhenti di situ, kebutuhan transportasi dan konsumsi harian atlet saat ini sepenuhnya ditanggung secara swadaya oleh atlet dan pelatih sendiri,” kata Acep.
Sejumlah pihak memang disebut turut memberikan bantuan secara pribadi. Namun, dukungan tersebut dinilai belum mampu menutupi seluruh kebutuhan persiapan.
Bahkan, tidak sedikit pengurus maupun pelatih yang harus mengeluarkan uang dari kantong pribadi. Kondisi itu membuat beban semakin berat karena biaya latihan harus berbenturan dengan kebutuhan hidup sehari-hari.
Di sisi lain, persiapan teknis para atlet juga belum sepenuhnya terpenuhi. Acep mengungkapkan, sejumlah peralatan tanding yang dibutuhkan atlet Bowling NPCI KBB hingga kini belum lengkap.
Padahal, bagi atlet disabilitas, penyesuaian dan adaptasi terhadap peralatan menjadi bagian penting sebelum menghadapi pertandingan.
“Kondisi persiapan teknis juga belum memadai. Peralatan tanding yang dibutuhkan bahkan belum lengkap, padahal penyesuaian dan adaptasi peralatan adalah hal krusial bagi atlet disabilitas agar dapat tampil maksimal di ajang kompetisi,” bebernya.
Acep mengatakan kebutuhan pengadaan peralatan tanding tersebut membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Namun hingga kini, kebutuhan tersebut belum sepenuhnya dapat dipenuhi.
Karena itu, pihaknya meminta Pemerintah Kabupaten Bandung Barat melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) segera memberikan kepastian terkait dukungan anggaran bagi atlet NPCI KBB.
Menurut Acep, yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar janji dukungan, melainkan kepastian tertulis mengenai jumlah anggaran dan waktu realisasinya.
“Yang paling mendesak itu kejelasan mengenai kapan dana tersedia dan berapa besarnya untuk sewa tempat latihan, gaji pelatih, peralatan tanding, seragam, transportasi, akomodasi, hingga konsumsi atlet,” tegasnya.
Selain kebutuhan yang akan datang, Acep juga meminta biaya yang selama ini dikeluarkan secara pribadi oleh pengurus, pelatih, maupun atlet dapat mendapatkan perhatian dan penggantian.
Ia menilai para atlet telah memberikan waktu, tenaga, bahkan mengorbankan kebutuhan pribadi demi mempersiapkan diri tampil di Peparda VII Jabar 2026.
“Termasuk juga penggantian biaya yang selama ini telah ditalangi secara pribadi oleh pengurus dan atlet,” ujarnya.
Acep berharap persoalan tersebut segera mendapatkan solusi sebelum semakin mengganggu persiapan atlet.
Menurutnya, para atlet disabilitas NPCI KBB tidak seharusnya kehilangan kesempatan untuk tampil maksimal hanya karena persoalan dukungan anggaran dan fasilitas latihan.
“Atlet sudah berjuang membawa nama Kabupaten Bandung Barat. Mereka berhak mendapatkan dukungan yang layak. Jangan sampai persiapan yang sudah dibangun berbulan-bulan terhenti hanya karena persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan bersama,” tegas Acep.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : liputan







