Perhatikan Rekomendasi Saham Perusahaan Otomotif yang Naik pada September 2025

- Penulis

Jumat, 5 Desember 2025 - 19:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AdinJava.CO.ID – JAKARTA.Sebagian besar perusahaan di sektor otomotif dan komponen masih memperlihatkan kinerja yang cukup stabil. Hal ini terlihat dari pertumbuhan pendapatan perusahaan yang umumnya hanya sampai angka satu digit, sementara waktu beberapa perusahaan lainnya justru merasakan penurunan.

Berdasarkan laporan keuangan mencapai September 2025, perusahaan yang mencatat pertumbuhan pendapatan satu digit antara lain PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), PT Sejahtera Utama Tbk (SMSM) dan PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA). 

Sebaliknya, pendapatan dari perusahaan otomotif besar seperti PT Astra International Tbk (ASII) justru diperbaiki, diikuti oleh PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) dan PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) yang juga memperlihatkan penurunan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hanya BOLT yang berhasil memperlihatkan pertumbuhan pendapatan sepanjang periode Januari mencapai September 2025.double digit.

Analis Basic BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand menyatakan bahwa kinerja perusahaan otomotif dan komponen pada kuartal III-2025 cenderung stabil sebab adanya tekanan dari kondisi makroekonomi serta permintaan pasar dalam negeri yang masih rendah.

Information Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperlihatkan penurunan penjualan mobil dalam skala besar sebesar 11,3% secara tahunan mencapai September 2025, yang mengindikasikan bahwa pasar otomotif belum sepenuhnya menjadi lebih baik.

Kemampuan beli masyarakat masih terkendala sebab tingginya bunga kredit kendaraan, dengan begitu pembelian mobil melalui kredit menjadi lebih mahal dan mengurangi permintaan terhadap kendaraan baru.

Selain itu, ASII sebagai perusahaan terbesar di sektor ini juga merasakan dampak dari penurunan harga komoditas global, yang memberatkan kontribusi laba dari segmen non-otomotif seperti alat berat dan pertambangan.

Di sisi komponen, meski demikian sejumlah perusahaan seperti AUTO, SMSM, dan DRMA memperlihatkan ketahanan, pertumbuhannya tetap terbatas di kisaran satu digit.

Hal ini terjadi akibat penurunan permintaan komponen baru sebab kontraksi pasar Authentic Apparatus Producer (OEM). Tetapi, sektor aftermarket—seperti yang dikerjakan oleh SMSM dan AUTO tetap menjadi penopang sebab permintaan suku cadang pengganti tetap stabil.

Baca Juga:  Metode Garis Kritis? Menjadwalkan Proyek Kompleks

“Jadi, meski demikian tidak sepenuhnya terpuruk, kinerja sektor ini masih terkendala oleh kombinasi permintaan akhir yang lemah, biaya pinjaman yang tinggi, serta tekanan margin akibat kenaikan harga bahan baku,” tutur Abida kepada AdinJava, Kamis (6/11/2025).

Abida menganggap prospek perusahaan otomotif mencapai akhir 2025 masih terbatas sebab pemulihan permintaan belum sepenuhnya terjadi sebelum penurunan suku bunga KKB benar-benar dirasakan. Kuartal IV 2025 diprediksi akan didukung oleh faktor musiman seperti promosi akhir tahun dan pameran mobil, namun dampaknya terbatas sebab pengaruh suku bunga tinggi belum hilang.

Secara umum, sektor ini masih menghadapi tantangan permintaan yang rendah, meski demikian terdapat peluang pemulihan andai financial institution mulai menurunkan suku bunga kredit secara berkelanjutan dan bukan hanya melalui promo.

Pada tahun 2026, peluang terlihat lebih menggembirakan berkat dua faktor utama, yaitu penurunan suku bunga KKB yang lebih luas dan peralihan menuju kendaraan listrik (EV) melalui kebijakan penggunaan komponen lokal.

Perusahaan anggota seperti AUTO dan DRMA diprediksi menjadi pihak utama yang mendapat manfaat sebab mereka paling siap menyediakan komponen untuk kendaraan listrik lokal.

Untuk alasan itu, para investor disarankan untuk memperhatikan saham sektor komponen yang mempunyai kemampuan adaptasi yang baik terhadap peralihan ke kendaraan listrik, serta mempertahankan posisi mereka di ASII dengan memakai strategi tertentupurchase on weak spotmemperhatikan bahwa valuasinya masih terlalu rendah dan mempunyai keragaman bisnis yang solid.

 

 

Abida menyarankan untuk purchase on weak spot ASII diprediksi sampai harga Rp 6.700 according to saham. Selain ASII, beberapa saham lain yang mempunyai terkait tidak langsung dengan sektor otomotif juga layak diperhatikan, terutama dari bidang pembiayaan dan komponen.

Baca Juga:  Pengguna iPhone 16 Pro menghadapi masalah layar sentuh

IMAS, andaikan, menawarkan penilaian yang menarik dengan rasio PBV hanya 0,35 kali, andai mengacu pada asumsi goal PBV 0,5 kali, maka nilai wajar sampai Rp 1.642.

Sementara waktu, SMSM dinilai masih terlalu murah dengan rasio P/E prediksi sebesar 10,63 kali, yang memperlihatkan nilai wajar sekitar Rp 2.080. Sementara waktu, BOLT, berdasarkan pendekatan EV/EBITDA 8 kali, mempunyai potensi sampai harga goal sebesar Rp 1.493.

Berikut performa keuangan perusahaan otomotif pada kuartal III-2025:

1. PT Astra International Tbk (ASII) 

PT Astra International Tbk (ASII) merasakan penurunan kinerja pada kuartal III-2025. Pendapatan perusahaan otomotif ini minim menurun sebesar 1,10% secara tahunan (yoy) dari Rp 246,32 triliun menjadi Rp 243,60 triliun mencapai September 2025.

Laba bersih yang dialokasikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih ASII mencapai bulan September 2025 sampai Rp 30,11 triliun, merasakan penurunan sebesar 5,02% dibandingkan dengan Rp 32,41 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

2. PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) 

Mencapai bulan September 2025, AUTO menghasilkan pendapatan sebesar Rp 14,80 triliun, naik 4,51% dibandingkan pendapatan Rp 14,16 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara waktu, laba bersih AUTO meningkat 2,63% (yoy) dari Rp 1,52 triliun menjadi Rp 1,56 triliun.

3. PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) 

Perusahaan otomotif milik Grup Salim, PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), memperlihatkan peningkatan kinerja yang baik sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025.

Laba yang bisa diberikan kepada pemilik perusahaan induk, atau laba bersih IMAS, meningkat signifikan sebesar 216,06% secara tahunan menjadi Rp 257,60 miliar pada kuartal III-2025, naik dari Rp 81,50 miliar pada periode yang sama sebelumnya.

IMAS mencatatkan laba bersih sebesar Rp 22,72 triliun, meningkat 4,62% secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 21,72 triliun.

Baca Juga:  Mempromosikan Program Grasp Pemimpin Pemikir Desain Baru Simplilearn

4. PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) 

Perusahaan produsen dan distribusi ban, GDYR, melaporkan pendapatan sebesar US$ 120,17 juta pada kuartal III-2025, merasakan penurunan 7,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu US$ 130,18 juta.

Pendapatan yang telah diperbaiki berdampak pada kinerja laba bersih perusahaan. Diketahui, laba bersih perusahaan turun sebesar 37,48% secara tahunan (yoy) dari US$ 5,34 juta menjadi US$ 3,34 juta mencapai September 2025.

5. PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) 

Perusahaan produsen ban, GJTL, mencatat penurunan pendapatan sebesar 2,38% secara tahunan (yoy) dari Rp 13,44 triliun menjadi Rp 13,12 triliun pada kuartal III-2025. Penurunan pendapatan ini sejalan dengan penurunan laba bersih sebesar 20,11% menjadi Rp 789,69 miliar pada September 2025, turun dari sebelumnya Rp 988,55 miliar.

6. PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM)

Perusahaan komponen otomotif, SMSM melaporkan pendapatan sebesar Rp 3,91 triliun pada kuartal III-2025, meningkat 2,64% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu sebelumnya sebesar Rp 3,81 triliun.

Berkaitan dengan kinerja pendapatan utama, laba bersih perusahaan juga naik sebesar 13,50% yr on yr menjadi Rp 819,58 miliar mencapai bulan September 2025, dibandingkan sebelumnya sebesar Rp 722,07 miliar.

7. PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) 

Dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, penjualan DRMA meningkat sebesar 9,20% secara tahunan (yoy) dari Rp 4,02 triliun menjadi Rp 4,39 triliun. Sementara waktu, laba bersih DRMA naik 1,89% yoy dari Rp 412,07 miliar menjadi Rp 419,87 miliar.

8. PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT) 

BOLT berhasil memperlihatkan pertumbuhan kinerja yang kuat, bahkan sampai angka dua digit. Penjualan BOLT meningkat 13,55% secara tahunan dari Rp 1,10 triliun menjadi Rp 1,25 triliun sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025.

Untuk saat ini laba bersih BOLT meningkat sebesar 63,09% (yoy) dari Rp 66,07 miliar menjadi Rp 107,75 miliar.



Follow WhatsApp Channel sekitarkita.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

10 Lodge Terbaik Dekat Danau Toba untuk Liburan Santai 2025
Orang Tunggu Sendiri Patuh 8 Aturan Kuat Ini, Menurut Psikologi
Daftar 8 Tim Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia U17 2025, Apakah Timnas Indonesia Dapat Ikut?
Mengapa Fairing Motor Sport 150 Kini Menghilang dari Showroom?
Kucing Dapat Alami Demensia! 8 Tanda yang Perlu Diwaspadai
Ban Lebih Lebar: Manfaat dan Risikonya
Jawa Timur Juara Nusantaraya di ICCF 2025, Buktikan Kepemimpinan Ekonomi Kreatif Nasional
Andai Tidak Dapat Lakukan 8 Hal Ini, Anda Mungkin saja Tua Lebih Cepat, Tutur Psikologi

Berita Terkait

Rabu, 10 Desember 2025 - 23:59 WIB

10 Lodge Terbaik Dekat Danau Toba untuk Liburan Santai 2025

Rabu, 10 Desember 2025 - 23:14 WIB

Orang Tunggu Sendiri Patuh 8 Aturan Kuat Ini, Menurut Psikologi

Rabu, 10 Desember 2025 - 21:44 WIB

Daftar 8 Tim Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia U17 2025, Apakah Timnas Indonesia Dapat Ikut?

Rabu, 10 Desember 2025 - 20:59 WIB

Mengapa Fairing Motor Sport 150 Kini Menghilang dari Showroom?

Rabu, 10 Desember 2025 - 19:29 WIB

Kucing Dapat Alami Demensia! 8 Tanda yang Perlu Diwaspadai

Berita Terbaru