[ad_1]
Startup industri di Indonesia dikenal sebagai lahan subur untuk inovasi dan pertumbuhan ekonomi. Tetapi, tak minim yang harus segera menyerah dalam perjalanan jalan meski membawa konsep dan potensi besar. Dari platform edutech sampai market properti, berikut adalah cerita 10 startup potensial Indonesia yang kini harus segera gulung tikar, lengkap dengan pembelajaran yang dapat diambil dari bolak-balik mereka.
1. Zenius
Zenius, salah satu pelopor platform pendidikan on-line di Indonesia, mempromosikan penghentian operasional sementara waktu pada awal 2024. Selain menyediakan layanan on-line, Zenius juga mengakuisisi jaringan bimbingan belajar Primagama. Tetapi, mereka terpaksa mengambil langkah ini sebab hambatan operasional yang sulit diatasi. Dalam pernyataan resminya, Zenius menegaskan komitmen mereka untuk tetap memperjuangkan visi mencerdaskan Indonesia, meski kini harus segera berhenti sementara waktu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
2. Rumah.com (Guru Properti)
Platform market properti Rumah.com, yang berada di bawah naungan PropertyGuru, resmi mengakhiri operasinya pada November 2023. Penutupan ini mempengaruhi 61 pegawai yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). CEO PropertyGuru, Hari V. Krishnan, menyatakan bahwa keputusan ini tidak mudah, tetapi langkah ini diambil untuk fokus pada strategi lain di pasar internasional.
3. JD.ID
E-commerce JD.ID mengakhiri layanannya pada 31 Maret 2023. Langkah ini merupakan bagian dari strategi induk perusahaannya, JD.com, untuk fokus pada logistik dan jaringan rantai pasok lintas negara. Meski pernah menjadi salah satu para pemain besar di industri e-commerce Indonesia, keputusan ini menandai berakhirnya bolak-balik JD.ID di pasar lokal.
4. Kamar Lapang
Bisnis lodge agregator ini resmi tutup pada 31 Mei 2020, setelah terkena dampak pandemi COVID-19. Sebelumnya, Ethereal Rooms sempat menjadi solusi populer untuk bolak-balik hemat, bekerja sama dengan berbagai properti kecil untuk menawarkan layanan akomodasi. Tetapi pandemi mengubah lanskap pasar secara drastis, membuat Ethereal Rooms tidak mampu bertahan.
5. Fabelio
Startup desain furnishings dan interior, Fabelio, dinyatakan pailit pada Oktober 2022. Sebelum itu, perusahaan sudah menghadapi berbagai masalah, termasuk tertundanya pembayaran gaji karyawan sejak 2021 dan tudingan pelanggaran terhadap hak tenaga kerja. Walaupun, Fabelio sempat menjadi salah satu para pemain utama di sektor furnishings on-line dengan desain fashionable dan harga terjangkau.
6. Sorabel
E-commerce fesyen lokal, Sorabel, resmi tutup pada Juli 2020. Pandemi menjadi pukulan telak bagi startup ini, yang sebelumnya mencoba mengubah cara masyarakat Indonesia membeli pakaian. Meski telah berusaha melakukan berbagai strategi penyelamatan, Sorabel pada akhirnya harus segera menempuh jalur likuidasi sebab kehabisan modal dan kesulitan dapatkan pendanaan baru.
7. Donafun
Donafun adalah platform donasi sosial yang menawarkan hadiah berupa pengalaman kepada donatur. Meski sempat mencuri perhatian dengan version bisnis uniknya, Donafun harus segera tutup pada tahun 2022. Platform ini juga sempat menjadi bagian dari program inkubasi Financial institution Indonesia dan menarik dukungan investor lokal. Tetapi, kurangnya fokus pada aspek pendapatan menjadi salah satu penyebab utama kegagalan mereka. Pendiri Donafun, Andrea Wiwandhana, kini aktif di bidang manajemen reputasi bersama CLAV Virtual.
8. Qlapa
Market yang memberdayakan perajin lokal ini harus segera menyerah pada tahun 2019. Tidak mampu bersaing dengan e-commerce besar seperti Tokopedia dan Bukalapak, Qlapa menutup operasinya setelah hampir empat tahun berjalan. Meski mempunyai misi yang mulia, tantangan dalam skala bisnis dan persaingan yang ketat menjadi kendala utama mereka.
9. CoHive
Startup penyedia ruang kerja bersama (co-working space) ini dinyatakan pailit pada Januari 2023. Bangkit sejak 2015 sebagai EV Hive, CoHive sempat menjadi pilihan utama bagi dengan jumlah besar startup dan freelancer di Indonesia. Tetapi, pandemi dan perubahan pola kerja membuat permintaan terhadap ruang kerja ikut menurun secara drastis, mengakibatkan mereka tidak bisa melanjutkan operasional.
10. Beres.{id} (Kaodim)
Beres.{id}, anak usaha startup Malaysia Kaodim, mengakhiri operasinya pada Juli 2022. Platform ini menghubungkan konsumen dengan penyedia jasa seperti servis AC dan kebersihan rumah. Penutupan ini juga berlaku untuk seluruh anak usaha Kaodim di Asia Tenggara. Meski mempunyai potensi besar, pasar yang belum matang dan tantangan operasional menjadi kendala utama.
[ad_2]
Sumber: vritimes








