SEKITARKITA.id — Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB) tengah menyelidiki kasus kematian mendadak belasan sapi betina milik peternak di Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang.
Kematian sapi-sapi perah ini menimbulkan kekhawatiran, lantaran gejalanya berbeda dengan penyakit umum seperti PMK yang sebelumnya pernah mewabah.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dispernakan KBB, Acep Rohimat, menyampaikan bahwa pihaknya sudah melakukan pengecekan langsung ke sejumlah kandang. Pemeriksaan dilakukan melalui pengambilan sampel pakan, sampel darah, hingga menggali keterangan peternak terkait kronologi kejadian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami mendatangi beberapa kandang sapi di Desa Cikahuripan untuk merespons laporan adanya kematian mendadak sapi milik sejumlah peternak,” ujar Acep, Sabtu (26/7/2025).
Menurut Acep, dari hasil pemeriksaan awal, sapi-sapi lain di lokasi kejadian tampak dalam kondisi normal tanpa gejala demam maupun tanda-tanda Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Perilaku makan juga masih baik, termasuk ciri fisik seperti hidung yang tetap basah.
“Kalau melihat kondisi sapi yang lain sehat, meskipun untuk kondisi kandang ada beberapa catatan yang harus jadi perhatian peternak,” jelasnya.
Untuk memastikan penyebab kematian, tim dokter hewan telah mengambil sampel darah dan mengirimnya ke laboratorium. Acep menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa berspekulasi sebelum hasil pemeriksaan keluar.
“Kami sebagai dokter hewan tidak bisa menebak penyebab penyakit tanpa hasil lab yang valid. Perkiraan hasil dalam satu minggu ke depan. Meskipun terjadi di beberapa titik, ini belum bisa dikategorikan sebagai wabah,” tegasnya.
Kesaksian Peternak: Sapi Mati Mendadak Usai Melahirkan
Salah satu peternak, Iyus (43) dari Kampung Pojok Girang, mengaku sapi betinanya mati mendadak pada Rabu (23/7). Sapi perah berbobot 300 kilogram itu sebelumnya terlihat sehat dan baru melahirkan tujuh hari sebelum kematian.
“Tiba-tiba kejang-kejang, padahal sebelumnya sehat. Hari Senin juga sempat dikasih vitamin,” ungkap Iyus.
Ia menambahkan, produksi susu sempat menurun drastis. Ambing sapi membesar dan sulit diperah. “Waktu diperas hanya dapat 14 liter, biasanya bisa 25 liter lebih,” katanya.
Peternak lainnya, Enok (50), menceritakan gejala berbeda yang dialami sapinya sebelum mati. Kaki sapi membengkak, air susu tidak keluar, dan setelah dibelah, beberapa organ dalam tampak bermasalah.
“Jantungnya bengkak, penyakitnya seperti menyerang limpa dan paru-paru. Anaknya yang baru lahir juga ikut kejang-kejang dan mati,” ujarnya.
Enok menambahkan bahwa kasus serupa hanya menyerang sapi betina yang sedang bunting atau baru melahirkan. Beberapa peternak bahkan terpaksa menjual sapi mereka dengan harga murah untuk menghindari kerugian lebih besar.
Dengan kematian sapi yang terus berulang di wilayah tersebut, para peternak berharap hasil laboratorium segera keluar agar penyebab penyakit bisa diketahui dan langkah pengendalian bisa dilakukan.
“Kejadian ini sudah dilaporkan karena peternak khawatir kondisi semakin memburuk,” tutur Enok.
Dispernakan KBB memastikan akan terus melakukan pemantauan, memberikan pendampingan kepada peternak, serta menyiapkan langkah penanganan setelah hasil laboratorium diterbitkan.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan







