Tetapi, terkadang yang kita alami adalah kebingungan, rasa bersalah, kecemasan, bahkan meragukan diri sendiri tanpa karena yang jelas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Andai kejadian ini terus menerus terjadi, mungkin saja Anda sedang menghadapi tindakan yang bersifat pasif-agresif.
Dalam psikologi, perilaku pasif-agresif merujuk pada cara seseorang memperlihatkan rasa marah atau menolak tanpa menyatakan secara langsung.
Efek sampingnya? Anda merasa bersalah, kurang memadai, atau selalu “salah” seolah-olah semua kesulitan berasal dari diri Anda sendiri.
Dilaporkan oleh Geediting pada Minggu (9/11), terdapat sembilan cara pasif-agresif yang paling umum yang sebaiknya Anda perhatikan.
1. Pengabaian Bunyi: Ketenangan sebagai Alat Kontrol
Alih-alih mengungkapkan atau menyampaikan apa yang mengganggu mereka, pelaku untuk membuat pilihan untuk diam, bahkan sepanjang beberapa hari.
Anda merasa kebingungan dan bertanya-tanya apa yang salah dengan begitu dalam hal apa pun meminta maaf tanpa tahu alasannya.
2. Menghindar atau Sengaja Tidak Mengakhiri Pekerjaan
Ketika diminta untuk melakukan sesuatu, mereka setuju di awal tetapi akhirnya terlambat, tidak selesai, atau hasilnya tidak maksimal.
Ini merupakan metode tidak langsung untuk mengungkapkan ketidaksetujuan tanpa terlihat menentang.
3. Pujian yang Ternyata Mengandung Kritikan
Penilaian mereka terdengar seperti pujian, tetapi pada nyatanya mencemooh:
Hello, dalam hal apa pun kamu dapat juga berpakaian rapi.
Lagu semacam ini membuat Anda bingung antara harus segera tertawa atau merasa tersakiti.
4. Memperlihatkan Kekesalan Dengan Memakai Lucu atau Candaan
Kritik diungkapkan dalam bentuk candaan. Ketika Anda merasa tersinggung, mereka menyampaikan,
Mengapa baper? Itu hanya lelucon saja.
Dalam hal apa pun, Anda yang merasa bersalah sebab dianggap terlalu peka.
5. Menimbulkan Rasa Bersalah Anda (Menggoda dengan Rasa Bersalah)
Mereka tidak mengungkapkan kebutuhan secara langsung, tetapi membuat Anda merasa bersalah sebab tidak memenuhi harapan yang tidak pernah diungkapkan.
Anda diwajibkan untuk menanggung tanggung jawab terhadap perasaan mereka.
6. Peran Penderita: Selalu Menjadi Penderita
Dalam setiap perselisihan, mereka selalu menjadi pihak yang “paling menderita”.
Anda dalam hal apa pun merasa bersalah dan menyerah, meski demikian pada nyatanya mereka yang mengubah situasi.
7. Sengaja Mengabaikan Batas yang Anda Tetapkan
Mereka berpura-pura lupa, salah mengerti, atau tidak mendengar batasan yang Anda tetapkan.
Rasanya Anda tidak berhak menyelesaikan kenyamanan atau menyampaikan “tidak”.
Misalkan saja: Anda menyatakan ingin beristirahat, namun mereka terus meminta perhatian—kemudian mengeluh andai Anda menolak.
8. Memberikan Informasi Perlahan-Lahan Secara Bertahap
Informasi yang penting disimpan, diungkapkan secara sebagian, atau diumumkan terlambat.
Anda juga terlihat tidak mampu atau terpaksa mengandalkan mereka.
9. Menghadirkan Ketidakpastian Emosional
Anda tidak pernah tahu kapan mereka merasa marah, kecewa, atau bahagia.
Perasaan mereka berubah-ubah tanpa alasan jelas. Hal ini membuat Anda selalu waspadai dan takut mengacaukannya.
Mengapa Taktik Pasif-Agresif Efektif?
Sebab mereka memicu kebingungan dan rasa bersalah, dua perasaan yang membuat seseorang kesulitan menolak atau melindungi diri. Anda merasa:
Tidak enak hati
Takut menyakiti mereka
Takut dianggap jahat
Merasa selalu salah
Keraguan dan perasaan bersalah membuat Anda lebih rentan diatur.
Ciri Khas yang Dirasakan Penderita
Andai berhadapan dengan seseorang yang bersifat pasif-agresif, Anda mungkin saja mengalami:
Overthinking
Mudah merasa bersalah
Sulit mengekspresikan pendapat
Merasa diri selalu keliru
Energi emosional terkuras
Perasaan terisolasi
Bahkan dalam hal apa pun Anda meragukan kesehatan pikiran sendiri.
Mengapa Mereka Bertindak Pasif-Agresif?
Perilaku ini biasanya muncul dari:
Sulit mengungkapkan perasaan secara langsung
Takut konflik
Trauma masa lalu
Kepercayaan diri rendah
Dibutuhkan pengendalian tanpa terlihat “buruk”
Tetapi, alasan bukanlah pembenaran—konsekuensinya tetap merugikan.
Bagaimana Menghadapinya?
Kenali taktiknya
Tetapkan batas tegas
Komunikasikan secara jelas
Jangan merasa harus segera membuat mereka bahagia
Laporkan percakapan (andai dalam lingkungan kerja)
Minta bantuan mahir andai merasa lelah
Yang paling penting adalah Anda tidak perlu menerima tindakan yang membingungkan dan merendahkan.
Kapan Saatnya Menjauh?
Andai perilaku ini:
Berulang tanpa perubahan
Membuat Anda tidak berharga
Menguras psychological dan emosi
Memengaruhi keseharian dan kesehatan
Maka menghindar dapat menjadi pilihan terbaik.
Mempertahankan diri bukanlah tindakan yang egois. Ini merupakan bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri.
Kesimpulan
Hubungan yang baik membuat kita merasa santai, bukan bingung atau selalu merasa bersalah.
Andai kehadiran seseorang justru dikarenakan tekanan emosional, kebingungan, dan rasa bersalah tanpa alasan yang jelas, mungkin saja Anda sedang menghadapi tindakan pasif-agresif.
Mengenali cara mereka bekerja adalah langkah pertama untuk mengambil kembali kendali atas kehidupan Anda.
Agar dapat diingat, Anda pantas diperlakukan dengan sopan, didengar, dan dihargai. Jangan biarkan siapa pun membuat Anda meragukan harga diri Anda sendiri.








