Bayang-Bayang Kecerdasan Buatan di Ruang Dosen: Siapa yang Diuji?

- Penulis

Senin, 24 November 2025 - 07:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejak ChatGPT muncul dan kemudian menjadi viral di panggung global pada akhir tahun 2022, muncul bayangan baru yang mengelilingi koridor-koridor kampus. Bayangan tersebut tidak mempunyai bentuk fisik, tetapi kehadirannya terasa di beberapa tempat, memicu campuran aneh antara rasa penasaran, kegembiraan, ketakutan, dan kebingungan; sesekali dalam satu tarikan napas yang sama.

Bayang-bayang tersebut muncul dalam diskusi-diskusi di ruang dosen, dalam kesunyian mahasiswa yang tiba-tiba saja mampu menulis esai lima halaman dalam semalam, dan (mungkin saja) dalam rapat-rapat para pimpinan universitas yang sedang panik merancang kebijakan. Bayang-bayang tersebut bernamaGenerative Synthetic Intelligence.

Sebagai seorang pengajar yang fokus pada teknologi pendidikan, saya lihat respons di lapangan tidaklah sederhana. Bahkan jauh lebih kompleks. Bukan hanya terbagi menjadi dua kelompok (para penggemar teknologi dan kelompok anti-teknologi), saya percaya situasi di berbagai kampus di Indonesia lebih rumit, lebih bervariasi, dan, secara jujur, lebih manusiawi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini merupakan lanskap negosiasi. Sebuah kumpulan respons pribadi yang terus menerus bertolak belakang, yang muncul dari bayangan-bayangan tak resmi para dosen mengenai bagaimana masa depan akan disusun.

Imajinasi yang Terpecah di Ruang Dosen

Di ruang makan siang para dosen, perdebatan ini terjadi hampir setiap hari. Saya lihat adanya pola pikir yang terpecah belah dari teman-teman dosen yang lain.

Beberapa rekan kerja saya menerima AI dengan antusias. “Ini adalah alat!” ujarnya. Baginya, AI adalah bentuk efisiensi yang murni. Alat ini bisa mempercepat proses analisis information, membantu dalam pembuatan prototipe kode, dan yang paling ia apresiasi, mengurangi beban administratif yang sepanjang ini mengurangi semangatnya dalam melakukan observasi. Ia untuk melihat sebagai alat yang memberikan kebebasan.

Tetapi, di seberang meja, seorang rekan lain menggelengkan kepalanya dengan khawatir. “Ini bukan hanya alat,” ujarnya pelan, “Ini merupakan ancaman terhadap proses. Bagaimana saya dapat mengajarkan mahasiswa tentang keindahan menyusun ujar, tentang perjuangan batin untuk menemukan kalimat yang tepat, andai mereka mampu mendapatkannya dalam sekejap dari mesin?”. Baginya, AI adalah ancaman terhadapcraft (kemampuan) dan pemikiran kritis itu sendiri.

Di sudut lain, terdapat para dosen muda yang bersifat praktis. Mereka memanfaatkannya secara sembunyi-sembunyi untuk merangkum tumpukan jurnal, menerjemahkan dokumen, atau hanya sekadar menyusun kerangka e-mail yang rumit. “Bermanfaat dalam situasi tertentu, tetapi berpotensi berbahaya di situasi lain,” tutur mereka sambil melirik kiri dan kanan.

Baca Juga:  Mendapatkan manfaat dari Pemikiran Desain untuk Manajemen Proyek yang Efektif

Kemudian, terdapat kelompok mayoritas yang mungkin saja paling jujur: mereka yang masih bingung. Mereka yang merasa ragu, tidak pasti, atau bahkan belum menyadari sepenuhnya seberapa besar gelombang ini akan menggoncang “perahu” mereka.

Fragmentasi ini, saya sadari, bukan hanya keterkaitan dengan infrastruktur saja, meski demikian kita paham bahwa kesenjangan akses virtual di Indonesia adalah sebuah realitas yang nyata. Ini adalah isu yang lebih mendalam: soalepistemologi. Ini berkaitan dengan bagaimana kita, sebagai pendidik, memaknai apa maksudnya dengan pengetahuan, apa itu proses belajar, serta peran pada nyatanya yang kita jalani di dalam kelas.

Ujian yang Sesungguhnya

Kekacauan awal di dunia pendidikan, sangat ironis, membuat spesialisasi mahasiswa.Mahasiswa berkhianat! Mahasiswa menjiplak! Integritas akademik rusak!Kita sibuk berlangganan perangkat lunak pengenali malware Kita sibuk mengikuti layanan perangkat lunak deteksi ancaman Kita sibuk memperoleh perangkat lunak yang mampu mendeteksi gangguan Kita sibuk memakai perangkat lunak untuk mengidentifikasi masalah Kita sibuk mengaktifkan perangkat lunak yang berfungsi sebagai alat pendeteksianAI-generated content material, memperketat aturan ujian, dan mengendalikan setiap kalimat dalam tugas mereka. Seperti halnya, mahasiswa yang sedang diuji oleh AI.

Saya rasa, kita sedang tidak fokus dengan benar.

Perhatian terhadap kecurangan mahasiswa adalah pengalihan yang paling mudah. Hal ini membuat kita merasa nyaman dengan menempatkan masalah di luar diri sendiri. Walaupun, andai kita jujur, bayangan AI ini pada nyatanya sedang mengarahkan cahaya yang paling tajam ke wajah kita sendiri: para dosen dan lembaga pendidikan.

Siapa yang pada nyatanya menjadi objek ujian? Menurut saya, kita sendiri yang (pada nyatanya) sedang diuji.

Pertama, kita diuji dari segi etika dan profesionalitas. AI kini memberikan kemudahan yang menarik. Saya sendiri sedang menghadapi hal ini. Apakah saya sebaiknya memakai AI untuk merangkum 20 artikel sebagai bahan ajar saya? Tentu, ini akan menghemat waktu saya. Tetapi, seperti yang mungkin saja juga dirasakan oleh teman-teman lainnya di berbagai universitas, ada perasaan tidak nyaman yang menyertai. Apakah saya sedang mengorbankan keahlian saya? Apakah saya sedang melemahkan kemampuan kritis saya sendiri?

Baca Juga:  vivo V40e hadir dengan model ramping dan Dimesnity 7300

Selanjutnya, bagaimana seorang dosen seharusnya mengevaluasi mahasiswa? Dalam kondisi kurangnya panduan yang jelas dari universitas, dengan jumlah besar dosen terlepas dari segalanya terpaksa berperan sebagai wasit sekaligus peserta. Para dosen harus segera merancang etika darurat sendiri di dalam kelas, mencoba memahami batasan antara alat bantu dan tindakan tidak jujur. Ini merupakan beban psychological baru yang tidak terlihat, tetapi (mungkin saja) sangat melelahkan.

Kedua, dan ini yang paling mendasar, kita diuji secara pendidikan. Ini merupakan ujian terberat bagi nilai kita sebagai tenaga pengajar. Saya berani menyatakan: andai seluruh mata kuliah yang dirancang (mulai dari materi, tugas, mencapai ujian akhir) bisa diselesaikannya dengan sempurna oleh ChatGPT, maka siapa pada nyatanya yang gagal? Apakah mahasiswa yang mendapatkan keuntungan dari alat tersebut? Atau kita, para dosen, yang telah merancang sebuah mata kuliah yang begitu mekanis, begitu dangkal, dan begitu tidak manusiawi dengan begitu sebuah mesin pun dapat “lulus”?

Andai tugas kita hanya mengirimkan informasi, maka kita sudah ketinggalan zaman, bahkan jauh sebelum munculnya AI. Andai ujian kita hanya menilai kemampuan menghafal dan menyusun ulang fakta, maka kita memang layak digantikan.

Maka, Apa yang Tersisa?

Berikut adalah beberapa variasi dari teks yang diberikan: 1. Ini adalah pertanyaan yang (seharusnya) harus segera dijawab oleh setiap rektor, dekan, dan dosen di Indonesia sementara. Andai AI mampu melakukan segala hal yang teknis, apa lagi yang tersisa bagi kita untuk lakukan? 2. Ini dia pertanyaan yang (sepatutnya) harus segera dijawab oleh setiap rektor, dekan, dan dosen di Indonesia hari ini. Andai AI dapat melakukan semua pekerjaan teknis, apa lagi yang masih dapat kita kerjakan? 3. Berikut ini adalah pertanyaan yang (seharusnya) harus segera dijawab oleh setiap rektor, dekan, dan dosen di Indonesia pada masa kini. Andai AI mampu melakukan semua tugas teknis, apa lagi yang masih tersisa bagi kita? 4. Ini adalah pertanyaan yang (seharusnya) harus segera dijawab oleh setiap rektor, dekan, dan dosen di Indonesia hari ini. Andai AI bisa menangani semua pekerjaan teknis, apakah masih ada yang dapat kita lakukan? 5. Berikut ini adalah pertanyaan yang (seharusnya) harus segera dijawab oleh setiap rektor, dekan, dan dosen di Indonesia sementara. Andai AI mampu melakukan semua hal teknis, apa lagi yang dapat kita lakukan?

Baca Juga:  Desain Psikologi | 45 Prinsip Utama untuk Desain UX dan UI

Yang tersisa adalah segala sesuatu yang “kacau”. Segala sesuatu yang tidak bisa di-algoritma-kan.

Yang tersisa adalah proses. AI mampu memberikan jawaban cepat, tetapi tidak bisa menggantikan proses perenungan, keraguan, serta momen “Aha!” yang dirasakan mahasiswa ketika terlepas dari segalanya memahami konsep yang rumit.

Yang tersisa adalah konteksAI bisa merangkum teori Romo Mangun, namun tidak mampu merasakan langsung bagaimana menerapkan teori tersebut dalam mendampingi anak-anak di tepi sungai. Tugas kita adalah membawa mahasiswa keluar dari teks dan memasuki konteks nyata.

Yang tersisa adalah komunitas. Kecerdasan buatan merupakan pengalaman yang individual. Sekolah, secara mendasar, adalah pengalaman (yang) bersama. Di sinilah (seharusnya) tempat mahasiswa belajar berdebat, mendengarkan, bekerja sama, dan mengalami apa artinya menjadi manusia dalam perjalanan sesama manusia. Sebuah proses pemberdayaan manusia yang diajarkan Romo Driyarkara.

Dan yang tersisa adalah makna. AI mampu menyajikan informasi, namun tidak mampu memberikan kita kebijaksanaan. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan “mengapa”. Ia tidak mempunyai pemikiran etis. Ia tidak mempunyai integritas.

Harapan di Tengah Kegalauan

Saya (masih) tidak bersikap pesimis. Saya memandang AI bukan sebagai alat yang datang untuk menggantikan pekerjaan kita. Saya untuk melihat sebagai kesempatan untuk merenung.

AI tidak datang untuk menggantikan kita. Ia hadir untuk menguji kita agar menjadi tenaga pengajar yang lebih unggul. Ia memaksa kita untuk berhenti menjadi “mesin fotokopiinformasi dan kembali menjadipemahat jiwa.Ia memaksa kita untuk menyusun tugas-tugas yang tidak lagi bisa dijawab hanya dengan satu klik, tugas-tugas yang mengharuskan kreativitas, pengalaman pribadi, refleksi kritis, dan keberanian ethical.

Tes ini, terlepas dari segalanya, bukanlah tentang sepanjang mana teknologi yang kita miliki. Ini adalah ujian mengenai seberapa dalam rasa kemanusiaan kita. Dan saya percaya, ini adalah ujian yang bisa (dan pasti bisa) kita menangkan.

Salam Cerdas dan Humanis.



Follow WhatsApp Channel sekitarkita.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

10 Lodge Terbaik Dekat Danau Toba untuk Liburan Santai 2025
Orang Tunggu Sendiri Patuh 8 Aturan Kuat Ini, Menurut Psikologi
Daftar 8 Tim Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia U17 2025, Apakah Timnas Indonesia Dapat Ikut?
Mengapa Fairing Motor Sport 150 Kini Menghilang dari Showroom?
Kucing Dapat Alami Demensia! 8 Tanda yang Perlu Diwaspadai
Ban Lebih Lebar: Manfaat dan Risikonya
Jawa Timur Juara Nusantaraya di ICCF 2025, Buktikan Kepemimpinan Ekonomi Kreatif Nasional
Andai Tidak Dapat Lakukan 8 Hal Ini, Anda Mungkin saja Tua Lebih Cepat, Tutur Psikologi

Berita Terkait

Rabu, 10 Desember 2025 - 23:59 WIB

10 Lodge Terbaik Dekat Danau Toba untuk Liburan Santai 2025

Rabu, 10 Desember 2025 - 23:14 WIB

Orang Tunggu Sendiri Patuh 8 Aturan Kuat Ini, Menurut Psikologi

Rabu, 10 Desember 2025 - 21:44 WIB

Daftar 8 Tim Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia U17 2025, Apakah Timnas Indonesia Dapat Ikut?

Rabu, 10 Desember 2025 - 20:59 WIB

Mengapa Fairing Motor Sport 150 Kini Menghilang dari Showroom?

Rabu, 10 Desember 2025 - 19:29 WIB

Kucing Dapat Alami Demensia! 8 Tanda yang Perlu Diwaspadai

Berita Terbaru