Tegal | SekitarKita.id,- Kalangan warga umat Muslim di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah menjalankan tradisi ziarah kubur mendoakan arwah keluarga yang telah meninggal dunia di saat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1445 Hijriah.
Watemo Windjojo ST, warga Desa Kesuben, RT05/RW09, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, mengatakan, tradisi ziarah kubur ini kerap dilaksanakan setiap momen kumpul keluarga.
“Kami nyekar ke leluhur sambil bersih-bersih makam merupakan tradisi setiap tahun dilakukan selepas Shalat Id,” kata Abah Mogal sapaan akrabnya saat mengunjungi ziarah kubur di TPU Kesuben, Rabu 10 April 2024.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mogal mengaku, dengan ziarah kubur dapat berdoa bersama keluarga untuk arwah para leluhur yang telah menghadap Sang Khalik Allah SWT.
Makna lain dari tradisi ziarah, lanjut dia, untuk memberikan penguatan iman dan takwa kepada manusia yang masih hidup.
“Nyekar kuburan mengingatkan semua orang akan kematian yang tidak satupun manusia mengetahui kapan dan waktunya, untuk almarhumah ibunda Kamisah binti Sawipah Alfatihah, semoga iman islam diterima disisi Allah SWT,” sambungnya.
Sementara itu, warga lain Lisda mengaku setiap selesai Shalat Id keluarganya melakukan tradisi nyekar kuburan mendoakan arwah keluarga yang telah meninggal dunia.
“Tradisi berziarah kubur ini, bagi kami keluarga besar Mogal, hal yang rutin dilakukan setiap Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal,” katanya.
Senada dikatakan Bagas, momentum Hari Raya dimanfaatkan untuk mudik ke kampung halaman, selain bertemu kedua orang tua dan keluarga, juga dimanfaatkan untuk ziarah kubur.
“Tradisi mudik setiap tahun (Lebaran.red) ini selalu kami manfaatkan untuk bertemu orang tua terlebih dahulu, anak istri dan keluarga tak lupa ke nenek yang sudah meninggal dunia, semoga dilapangkan amal ibadahnya, aamiin,” jelasnya.
Ia menyebut, kesempatan Hari Raya Idul Fitri juga dimanfaatkan untuk menyambung tali silaturahmi antar anak-anaknya.
“Kami keluarga besar Mogal dari 7 saudara ini semuanya sudah berkeluarga den memiliki anak, setiap tahunnya kami selalu berkumpul dan memperkenalkan kepada anak-anak kita kepada leluhur (buyut), kelak bahwa mereka yang akan meneruskan nanti kedepannya, kalau bukan mereka (anak-anak) siapa lagi yang akan menyambung doa ini,” tandasnya.
Penulis : Abdul Kholilulloh
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan Khusus (Lipsus)








