[ad_1]
Denpasar – Keberadaan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin, dinilai mempunyai potensi dalam memberi dorongan untuk pariwisata di Bali, yang merupakan sektor utama pertumbuhan ekonomi Pulau Dewata. Karena, melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Provinsi Bali Nomor 28 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Pariwisata, Pemerintah Provinsi Bali mengawasi sektor pariwisata yang akan mengutamakan kelestarian lingkungan untuk menjaga kenyamanan wisatawan.
Kepala Bidang Pengembangan Kelembagaan dan SDM Dinas Pariwisata Provinsi Bali Anak Agung Istri Vera Lakshmi Dewi menyampaikan, fokusnya sangat terhadap pariwisata berkelanjutan. Dengan potensi risiko kesehatan yang lebih rendah, produk tembakau alternatif bisa menjadi solusi untuk mengurangi polusi udara yang salah satunya bersumber dari asap rokok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Produk alternatif ini cukup membantu pariwisata sebab mempunyai potensi risiko yang lebih rendah. Pada Pergub 28/2020, sangat memprioritaskan pariwisata yang ramah lingkungan, nyaman, dan memprioritaskan kesehatan. Kami lihat produk alternatif ini akan mengurangi bahaya dari asap rokok untuk lingkungan,” ujar Vera dalam diskusi “Penerapan Mengurangi Bahaya Tembakau sebagai Strategi Komplementor Mengatasi Permasalahan Merokok dan Memberi dukungan Pariwisata Bali” di Denpasar, Rabu (9/10/2024).
Vera melanjutkan, Bali sangat mengedepankan pariwisata tradisi yang mempengaruhi beberapa aspek, termasuk lingkungan. Hampir semua destinasi wisata di Bali sangat berkaitan erat dengan lingkungan. Untuk itu, lingkungan yang aman, nyaman, dan sehat menjadi sangat penting untuk menarik wisatawan.
“Dengan hadirnya produk alternatif ini tentunya akan membuat wisatawan, terutama wisatawan asing, yang peduli terhadap asap rokok, menjadi lebih aman dan nyaman. Di sini mereka dapatkan ruangan yang bebas asap rokok, sedangkan untuk pengguna vape diusahakan untuk menyiapkan tempatnya,” katanya.
Berdasarkan information Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Perekonomian Bali tumbuh 5,98% pada kuartal I 2024 dengan kontributor utama merupakan sektor akomodasi, dan pariwisata yang menyumbang 20,64% dari complete Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Direktur Eksekutif BPD Perhimpunan Resort dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Ida Bagus Purwa Sidemen menyatakan, dalam rangka memberi dorongan untuk industri pariwisata yang berkelanjutan, ia menyediakan fasilitas yang memperhatikan lingkungan sekaligus dapat memberikan kenyamanan bagi tamu, seperti ruangan khusus bagi perokok.
“Tak ada resort yang melarang orang merokok. Mereka telah menyediakan tempat untuk merokok. Adanya ruangan khusus merokok tersebut untuk menjaga kenyamanan dan memberikan kepuasan pelayanan bagi tamu,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Vaporiser Bali (AVB) I Gede Agus Mahartika menambahkan, membayangkan pelaku industri pariwisata dapat menghilangkan antara ruangan untuk perokok dengan pengguna rokok elektronik. Alasannya, profil risiko rokok dan rokok elektronik sangat berbeda.
“Kalau di enviornment resort, ada yang merokok dan tidak merokok. Semoga ke depan ada tambahan untuk pengguna rokok elektronik agar tak ada diskriminasi lagi. Kita butuh nikotin, tapi bukan yang lain. Yang kita cari solusi terbaik, bagaimana nikotin dihantarkan ke tubuh tanpa merugikan orang lain,” katanya.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (UNPAD) Amaliya menjelaskan produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan menerapkan konsep pengurangan risiko (pendekatan pengurangan dampak buruk). Produk ini mengimplementasikan sistem pemanasan pada suhu terkontrol dengan begitu hasil dari pengunaannya berupa uap atau aerosol, bukan asap seperti pada rokok.
“Sebab tak ada materi partikulat seperti pada asap rokok, jadi tak ada TAR dan sisa pembakaran. Dalam 30-40 detik, aerosol langsung hilang, sementara itu materi partikulat dari asap rokok dapat bertahan lima sampai tujuh jam,” katanya.
Berkat sistem pemanasan, produk tembakau alternatif mampu menurunkan risiko sebesar sampai 90% dibandingkan dengan rokok. Hal ini sudah dibuktikan melalui observasi bersama antara UNPAD dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Hasil kajian ini dapat dijadikan acuan untuk menjadi kebijakan berdasarkan bukti, bukan opini dan pendapat semata. Kalau tidak beradaptasi dengan teknologi baru, prevalensi merokok semakin tinggi di Indonesia,” tutup Amaliya.
[ad_2]
Sumber:
https://vritimes.com/{id}/articles/3e622207-94f8-11ef-b5c2-0a58a9feac02/3def9c2a-9511-11ef-b5c2-0a58a9feac02








