Oleh: RD. Leo Mali
Imam dan Dosen Fakultas Filosofi Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur
AdinJavaRaja Salomo membangun Bait Allah di Yerusalem sekitar tahun 957 SM (melihat 1 Raja-Raja 6:1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pembangunan merupakan puncak karya terbesar Raja Israel, sebagai tanda kehadiran Tuhan dalam perjalanan umat-Nya.
Tetapi pada tahun 586 SM, kuil Tuhan dihancurkan oleh bangsa Babel di bawah pimpinan Raja Nebukadnezar II.
Jatuhnya Bait Allah menjadi simbol kehancuran non secular dan ethical bangsa Israel. Mereka dipaksa tinggal di Babel sepanjang sekitar 70 tahun.
Setelah masa pengasingan berakhir dengan perintah yang dikeluarkan oleh Koresh, Raja Persia (538 SM), orang-orang Yehuda diizinkan kembali ke Yerusalem.
Dibawah kepemimpinan Zerubabel dan Imam Besar Yosua putra Yozadak, mereka memulai pembangunan kembali Bait Allah antara tahun 536 mencapai 515 SM, sebagaimana dikatakan dalam Kitab Ezra 3–6.
Itulah Bait Allah yang kedua, yang kemudian diperbaiki oleh Herodes Agung pada abad pertama sebelum Masehi, mencapai dalam hal apa pun dihancurkan oleh pasukan Titus dari Kekaisaran Romawi pada tahun 70 Masehi.
Bagi umat Israel, Bait Allah merupakan tempat tinggal Tuhan di bumi, pusat pertemuan antara langit dan dunia.
Untuk itu, mereka selalu menempatkan Bait Allah dalam perjalanan permukiman, sebab di situlah Tabut Perjanjian berada —tabut yang berisi dua batu bertuliskan Sepuluh Perintah Allah (melihat Keluaran 25:16–22).
Dengan mendirikan Bait Allah dalam perjalanan, bangsa Israel memperlihatkan keyakinan bahwa Tuhan adalah inti dari kehidupan mereka, sumber segala aktivitas dalam hidup.
Dengan menempatkan Bait Allah dalam perjalanan kota Yerusalem, ia tidak hanya menjadi pusat peribadatan, namun juga pusat kebudayaan dan kehidupan sosial bangsa Israel.
Segala jalur kehidupan berjalan menuju Bait Allah; segala harapan dan permohonan umat berujung di tempat itu. Tetapi seiring berjalannya waktu, arus orang-orang yang datang dengan berbagai kepentingan dikarenakan fungsi suci tersebut berubah.
Tempat suci berubah menjadi pasar, rumah doa berubah menjadi tempat perdagangan. Orang datang bukan lagi untuk beribadah kepada Tuhan, melainkan untuk melakukan transaksi.
Itulah yang diperhatikan Yesus ketika Ia tiba di Yerusalem. Dalam kitab Injil Yohanes 2:13–22, Yesus “mengusir seluruh pedagang kambing dan sapi serta penukar uang dari Bait Allah.”
Ia membalikkan meja-meja mereka sambil berteriak: “Jangan kalian menjadikan rumah Bapa-Ku sebagai tempat perdagangan!”
Sebagai seorang Yahudi yang taat, Yesus merasa tergerak oleh penyimpangan ini. Bait Allah yang semestinya menjadi lambang hubungan dengan Tuhan justru berubah menjadi simbol keserakahan manusia.
Perbuatan Yesus bukan hanya respons emosional, melainkan ajaran para nabi. Ia mengungkap ketidakjujuran iman yang terjebak dalam kebiasaan dan kepentingan ekonomi.
Ia menyampaikan bahwa inti Bait Allah tidak berada pada bangunannya, melainkan pada hubungan yang tulus antara manusia dan Tuhan.
Dalam budaya orang Israel, setiap individu datang ke Bait Allah guna memperbaharui perjanjian kasih mereka dengan Tuhan, untuk mengingat kembali panggilan “Shema Israel:
Mendengarkanlah, hai orang-orang Israel, Tuhan adalah Allah kita, dan Tuhan adalah satu!” (Ulangan 6:4–5).
Tetapi pada masa Yesus, pertemuan ini kehilangan maknanya. Orang-orang sibuk dengan ritual dan keuntungan; Tuhan sendiri tidak lagi dicari.
Yesus kemudian berkata secara metaforis: “Hancurkanlah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan membangunnya kembali.” (Yohanes 2:19).
Orang-orang tidak memahami bahwa Ia sedang membicarakan tubuh-Nya sendiri—Bait Allah yang pada kenyataannya, tempat di mana Allah tinggal dalam perjalanan manusia.
Di dalam diri Yesus, Tuhan tidak lagi hadir dalam bangunan batu, melainkan dalam bentuk manusia (melihat Yohanes 1:14).
Dari perut-Nya yang terluka mengalir air dan darah—tanda kehidupan baru yang menyucikan dan memberi kehidupan (melihat Yohanes 19:34).
Perbuatan dan perkataan Yesus mengubah seluruh perspektif iman seseorang: Bait Allah bukan lagi hanya sebuah bangunan di Yerusalem, melainkan setiap orang yang hidup di bawah pimpinan Roh Allah.
Santo Paulus mengingatkan: “Kamu adalah tanah milik Tuhan, bangunan Tuhan… dan Bait Tuhan adalah kalian sendiri, sebab Roh Tuhan tinggal di dalam kalian” (1 Korintus 3:9b.16–17).
Maka, setiap orang yang beriman diajak untuk menjadi tempat kehadiran Tuhan di dunia, menjadi sumber air yang menghidupkan seperti sungai.
yang muncul dari Bait Allah dalam kitab Yehezkiel (47:1–12).
Perayaan pesta Pengesahan Basilika Santo Yohanes Lateran yang jatuh pada tanggal 9 November setiap tahun mengingatkan akan kebenaran ini.
Basilika Lateran dibangun oleh Kaisar Konstantinus pada abad keempat sebagai katedral yang menjadi tempat kedudukan Uskup Roma, yaitu Paus.
Untuk itu, ia dikenal sebagai “Ibu dan Kepala seluruh Gereja di kota serta di dunia” (Omniumurbis et orbis ecclesiarum mater et caput).
Perayaan ini mengajak seluruh umat untuk memikirkan bahwa Gereja bukan hanya sebuah bangunan, namun komunitas umat yang menjadi Bait Tuhan yang hidup.
Setiap kali kita berkumpul untuk berdoa, beribadah, dan merayakan Ekaristi, kita sedang memperbaharui diri sebagai Bait Allah.
Semoga kasih yang datang dari Kristus membuat hidup kita menjadi tempat di mana Allah tinggal, tempat kasih-Nya bersinar dan menyebarkan berkat bagi dunia. Amin. (*)
Ikuti terus berita AdinJavadi di Google News







