Soal Jembatan Ambruk, Tokoh Masyarakat Soroti Birokrasi Bandung Barat dan Pertanyakan Peran DPRD Dapil I

- Penulis

Selasa, 15 April 2025 - 21:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasca ambruk, jembatan darurat dengan menggunakan bambu di buat warga di Padalarang KBB (foto: Abdul Kholilulloh)

i

Pasca ambruk, jembatan darurat dengan menggunakan bambu di buat warga di Padalarang KBB (foto: Abdul Kholilulloh)

SEKITARKITA.id-  Jembatan penghubung antar kampung di Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang ambruk akibat bencana alam, menjadi sorotan tajam dari tokoh masyarakat.

Barisan Pemuda Nusantara (Bapera) KBB menilai lambannya penanganan oleh pemerintah daerah berdampak serius terhadap mobilitas dan ekonomi warga sekitar.

Ketua Bapera KBB, Bobby Irwanto, menyampaikan kekesalannya atas buruknya respons birokrasi dalam menangani insiden tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menyebut bahwa jembatan yang menghubungkan Kampung Atlas Rancabali, RT 04/RW 05 itu, sudah dalam kondisi mengkhawatirkan sebelum akhirnya ambruk.

Ketua Bapera KBB, Bobby Irwanto/ tengah (foto: Abdul Kholilulloh)
Ketua Bapera KBB, Bobby Irwanto/ tengah (foto ilustrasi: Abdul Kholilulloh)

“Akibat hujan deras beberapa bulan terakhir, tebing setinggi 5 meter longsor lebih dulu dan mengancam rumah warga. Tapi pemerintah hanya menutupnya dengan terpal biru, tanpa penanganan berarti,” kata Bobby saat dihubungi kantor berita SEKITARKITA.id, Selasa (15/4/2025).

Ia menyebut, berdasarkan informasi warga, jembatan tersebut akhirnya ambruk pada Senin, 24 Maret 2025 lalu, akibat fondasi yang tergerus banjir dari luapan sungai.

Dampaknya, aktivitas harian warga terganggu karena harus memutar sejauh lima kilometer untuk mencapai kampung sebelah. Ini sangat menyulitkan, terutama bagi pedagang dan pelajar.

Baca Juga:  Gegara hindari motor, truk sampah oleng dan terguling di Bandung Barat

Bobby pun menyinggung janji dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang sempat menanggapi langsung keluhan warga mengenai kondisi jembatan tersebut.

“Gubernur sempat bilang supaya Bupati, Camat, dan Kepala Desa segera memperbaiki jembatan itu. Tapi kenyataannya belum ada realisasi nyata hanya meninjau belum ada aksen terkesan lambat,” ujar om Bob panggilan akrab pimpinan Bapera KBB organisasi non pemerintah itu.

Jembatan Darurat Bambu: Bukti Inisiatif Warga

Ironisnya, warga setempat justru mengambil inisiatif sendiri dengan membangun jembatan darurat dari bambu agar tetap bisa beraktivitas.

“Warga gotong royong bikin jembatan bambu demi bisa lewat anak-anak yang hendak ke sekolah. Serumit itu kah birokrasi di Bandung Barat?” sindir Bobby.

Ia juga mempertanyakan peran anggota DPRD KBB dari Dapil I yang meliputi Padalarang, Saguling, dan Ngamprah.

“Kemana para anggota dewan yang katanya penyambung lidah rakyat? Jangan cuma hadir waktu kampanye, giliran rakyat butuh malah diam,” tegasnya.

Bapera KBB mendesak Bupati Bandung Barat Jeje Richie Ismail dan pimpinan DPRD KBB untuk segera mengevaluasi kinerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, serta meningkatkan koordinasi antar instansi demi kepentingan masyarakat.

Baca Juga:  Akibat Korsleting Listrik, Satu Rumah Hangus Terbakar di Cipayung Jakarta Timur

“Kami minta kinerja OPD hingga perangkat desa dan kecamatan segera dievaluasi. Ini menyangkut keselamatan dan hajat hidup masyarakat,” tutup Bobby.

Pemerintah Desa Akui Terkendala Status Lahan

Sementara itu, Kepala Desa Padalarang, Karom, mengapresiasi warga yang secara swadaya membangun jembatan sementara. Ia menjelaskan bahwa kendala utama dalam pembangunan jembatan permanen adalah status kepemilikan lahan dan kewenangan sungai.

“Kami masih melakukan pengecekan apakah sungai itu masuk wilayah BBWS Citarum Harum atau PUPR KBB. Kalau BBWS, berarti ranahnya provinsi,” jelas Karom saat ditemui di lokasi, didampingi Camat Padalarang Agus Achmad Setiawan.

Menurutnya, proses pembangunan tidak bisa dilakukan secara gegabah karena berkaitan dengan izin dan kewenangan. Apalagi anggaran yang dibutuhkan cukup besar.

“Anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp800 juta, termasuk bronjong dan TPT sungai. Kami akan melakukan musyawarah terlebih dahulu untuk menggeser dari anggaran pembangunan lain karena ini sifatnya urgent,” pungkas Karom.

 



Editor : Abdul Kholilulloh

Sumber Berita : Liputan

Berita Terkait

Teror Rampok Berkedok Pocong Viral di Bandung Barat, Warga Padalarang Resah
Bupati Jeje Apresiasi Persib Bandung Juara Super League 2026, Bobotoh Diimbau Tetap Tertib
Pawai Juara PERSIB 2026 Disambut Lautan Bobotoh, Tradisi Sejak 1937 Terus Berlanjut
PERSIB Cetak Sejarah! Jadi Klub Pertama Juara Liga Indonesia Tiga Kali Beruntun
Belatung Ikut Ngantor, Sampah Jadi Pegawai Teladan di Ngamprah Bandung Barat
Bojan Hodak Sebut Beckham Putra dan Federico Barba Layak Raih Penghargaan Bergengsi
Selamatkan Warisan Sunda, Bandung Barat Targetkan Verifikasi Naskah Kuno Pertama di 2026
Bupati Bandung Barat Dorong Musorkab KONI 2026 Perkuat Prestasi Atlet Daerah

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 02:16 WIB

Teror Rampok Berkedok Pocong Viral di Bandung Barat, Warga Padalarang Resah

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:50 WIB

Bupati Jeje Apresiasi Persib Bandung Juara Super League 2026, Bobotoh Diimbau Tetap Tertib

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:46 WIB

Pawai Juara PERSIB 2026 Disambut Lautan Bobotoh, Tradisi Sejak 1937 Terus Berlanjut

Sabtu, 23 Mei 2026 - 22:02 WIB

PERSIB Cetak Sejarah! Jadi Klub Pertama Juara Liga Indonesia Tiga Kali Beruntun

Jumat, 22 Mei 2026 - 20:59 WIB

Belatung Ikut Ngantor, Sampah Jadi Pegawai Teladan di Ngamprah Bandung Barat

Berita Terbaru