[ad_1]
Ada kisah inspiratif dari seorang pemuda bernama Alfin. Melalui program acara brownies Di Trans TV, ia berbagi cerita perjuangan ibunya yang tidak mudah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Alfin merupakan anak dari ibu seorang pemulung. Meski begitu, sang ibu mampu menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi, sampai mendapat beasiswa Magister LPDP dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kisah Alfin awalnya viral di media sosial. Saat ditanya perasaannya untuk saat ini, ia mengaku tak menyangka kisah hidupnya dapat dijadikan motivasi bagi dengan jumlah besar orang, Bunda.
Alfin pun mengaku awalnya tidak percaya dapat mencapai di dudukannya sekarang. Apalagi ibunya hanya seorang pemulung yang penghasilannya tidak menentu setiap harinya.
“Menurut Alvin tidak. Sebab kondisi keluarga seperti itu, apakah anak orang miskin atau anak pemulung dapat sukses?” ungkapnya, dikutip dari saluran tersebut Resmi YouTube TRANS TV.
Tetapi, ia menyingkirkan prasangka negatif tersebut. Sebab ketika ada kemauan, pasti ada jalan baginya untuk meraih masa depan.
“Namun ketika saya memasang goal, ternyata saya dapat meraih gelar Magister,” ungkapnya.
Pindah sebab diusir
Alfin memiliki kakak laki-laki dan perempuan, Bunda. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, ia adalah harapan dan pelindung keluarga, sebab ayahnya sudah tidak bersama mereka lagi.
Semasa hidup mereka berempat, Alfin beserta adik dan ibunya terusir dari kos. Hal ini terjadi sebab rongsokan ibunya dianggap mengganggu kenyamanannya.
“Waktu saya kuliah, ibu saya pemulung. Kami suka berpindah-pindah kos, tak henti-hentinya diusir sebab sampah (sampah) ibu saya mengganggu, kira-kira begitu,” kenangnya.
Harapan untuk menjadi kantor di masa depan
Kisah Haru Alfin yang bangga dengan perjuangan ibunya menjadi pemulung sampai anaknya mendapat beasiswa S2 UGM/Foto: YouTube TRANS TV Legitimate
Diusir dari kos tentu membuat keluarga mereka kebingungan. Mencapai-sampai ibu Alfin harus segera membangun gubuk di pinggir rel, meski dalam hal apa pun tetap harus segera pindah lagi sebab digusur.
“Ibu membangun gubuk di pinggir rel dan juga dibongkar. Dari situ ibu membuat keputusan pisah rumah (bersama anak) untuk mengurus reruntuhan,” jelasnya.
|
|
Sejak kecil, Alfin dan saudara-saudaranya juga berjuang ikut ibunya mencari tau barang rongsokan. Pengalaman tersebut menjadikannya anak yang kuat, juga tidak malu dengan profesi ibunya.
Tetapi, ia merasa tak sanggup sebab ibunya harus segera bekerja ekstra keras. Jam istirahat ibunya sangat terbatas dengan begitu ia dapat memberhentikan sampahnya.
“Kalau soal membantu, (saya) biasanya memilah-milah. Ibu mencari tau dari jam 1 pagi mencapai jam 7 pagi. Dia mencari tau sampah, lalu mengolahnya mencapai sore, lalu istirahat sebentar di saat kegelapan,” jelasnya sambil tahan diri. air mata.
Kini sebagai mahasiswa S2 UGM, Alfin optimistis dapat mewujudkan impian sang ibunda. Ia diharapkan dapat menjadi sosok resmi di masa depan.
Harapan ibu saya, saya dapat menjadi pejabat dan dapat memberikan manfaat yang lebih besar sekali kepada masyarakat, ungkapnya.
Bagi ibu-ibu yang menginginkannya membagikan pertanyaan mengasuh anak dan Anda dapat dapatkan dengan jumlah besar memberi secara tanpa biaya, ya bergabung Komunitas Pasukan HaiBunda. Daftar klik DI SINI. Bebas!
Simak juga kisah anak seorang motive force taksi on-line yang kuliah di Amerika Serikat dalam video berikut:
(Gambas: Video Haibunda)
(AFN/rap)
[ad_2]
Sumber: haibunda








