SEKITARKITA.id – Kondisi carut-marut pembangunan di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus menjadi sorotan berbagai pihak. Persoalan sosial, ekonomi, lingkungan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), hingga stunting, masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan.
Salah satu elemen masyarakat yang menyoroti hal ini adalah Paguyuban Pejuang Peduli Pembangunan Kabupaten Bandung Barat (P4KBB). Organisasi ini akan menggelar Malam Keakraban (Makrab) pada Jumat, 3 Oktober 2025, di kawasan wisata Sanghyang Kenit, Cisameng Cipanas, Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat KBB.
Ketua P4KBB, Yacob Anwar Lewi, menegaskan bahwa Makrab bukan hanya sekadar temu kangen para pejuang pemekaran KBB, melainkan momentum untuk melakukan evaluasi, refleksi sejarah, sekaligus menyuarakan kritik dan gagasan konstruktif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami para pejuang pemekaran sejak awal tahun 2000-an berjuang hingga Bandung Barat resmi mekar tahun 2007. Banyak kawan seperjuangan yang sudah tiada, maka Makrab ini juga bentuk penghormatan. Tapi yang lebih penting, kita akan berdiskusi, memberi masukan, dan mendesak arah pembangunan KBB agar jelas, amanah, dan tidak menyimpang dari cita-cita awal,” ujar Yacob kepada Sekitarkita.id di Ngamprah, Rabu (1/10/2025).
Makrab akan diawali dengan renungan perjuangan pemekaran KBB. Api unggun di Sanghyang Kenit menjadi simbol bara perjuangan yang tidak boleh padam, terutama di tengah kondisi Bandung Barat yang dinilai kian penuh masalah.
“Bandung Barat butuh introspeksi. Kami para pejuang pemekaran merasa wajib kembali turun tangan, memberikan pemikiran positif, produktif, dan masukan nyata untuk Pemda,” tegas Yacob.
Tema Makrab dan Fokus Diskusi
Makrab ini mengusung tema “Bersama Membangun Pemikiran Positif dan Produktif sebagai Kontribusi terhadap Pembangunan KBB yang Amanah”.
Menurut Yacob, arah pembangunan KBB harus konsisten dengan visi misi kepemimpinan Bupati Jeje Ritchie Ismail dan Wakil Bupati Asep Ismail. Dalam forum tersebut, para pejuang pemekaran, kasepuhan, mantan birokrat, hingga akademisi akan menyampaikan aspirasi dan unek-unek terkait arah pembangunan KBB ke depan.
“Intinya, acara ini digelar untuk memajukan Bandung Barat. Kami ingin mendengar langsung masukan dari berbagai inohong agar Pemda lebih peka terhadap kondisi riil masyarakat,” katanya.
Pemilihan Sanghyang Kenit sebagai lokasi Makrab dinilai memiliki makna strategis. Selain ramah akses bagi para senior yang rata-rata berusia 50–70 tahun, tempat ini juga menjadi sarana memperkenalkan potensi wisata Bandung Barat.
“Pemandangannya indah, akses mudah, cocok untuk refleksi dan diskusi. Ini juga cara kami mengangkat wisata Bandung Barat, jangan hanya wilayah utara yang dikapitalisasi, selatan juga harus diperhatikan,” ungkap Yacob.
“Kegiatan ini akan diikuti 70 anggota P4KBB dan akan bermalam di Sanghyang Kenit,” sambungnya.
Sementara itu, Mantan birokrat Bandung Barat, Apung Hadiat Purwoko atau yang akrab disapa Apih Apung, menegaskan bahwa P4KBB hadir sebagai penyambung lidah rakyat.
“Kami bukan oposisi, tapi corong rakyat. P4KBB wajib menyampaikan keresahan masyarakat kepada pemerintah. Dengan kegiatan ini, kami ingin pemerintah benar-benar menjalankan visi misi ‘AMANAH’,” ujar Apih Apung.
Puncak acara Makrab adalah diskusi terbuka antara pejuang pemekaran dengan perwakilan Pemda Bandung Barat. P4KBB berharap forum ini menjadi ruang nyata mendengarkan suara rakyat dan menghasilkan solusi konstruktif.
“Kami tidak ingin diskusi ini sekadar formalitas. Kami hadir untuk memberikan solusi bagi kemajuan Bandung Barat. Dengan kegiatan ini, kolaborasi pentahelix antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pejuang pemekaran benar-benar diwujudkan,” tutup Apih.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








