SEKITARKITA.id – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, memastikan penanganan trauma healing bagi warga yang berada di posko pengungsian korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.
Usai mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau lokasi bencana, Arifah menegaskan seluruh korban di tempat pengungsian harus mendapatkan rasa aman, khususnya perempuan, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia.
“Khususnya untuk perempuan yang menyusui maupun perempuan yang sedang mengandung,” kata Arifah saat konferensi pers di Posko Pengungsian Desa Pasirlangu, Minggu (25/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Arifah mengungkapkan, pihaknya telah berdiskusi langsung dengan para ibu korban bencana. Dari hasil dialog tersebut, banyak korban mengalami trauma berat akibat peristiwa longsor yang terjadi secara tiba-tiba.
“Tadi kami berdiskusi dan berbincang dengan ibu-ibu di posko. Dari cara berbicaranya terlihat mereka mengalami trauma berat. Karena itu kami akan berkoordinasi dengan berbagai pihak agar layanan trauma healing situasional bisa dilakukan bersama-sama,” ujarnya.
Menurut Arifah, trauma healing situasional merupakan layanan pemulihan psikologis berbasis kondisi tertentu seperti bencana alam.
Pendekatan ini dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor untuk memberikan intervensi psikososial yang sistematis, manusiawi, dan berkelanjutan.
Pendekatan tersebut bertujuan menciptakan rasa aman, membangun kembali ketahanan mental korban, serta mengurangi dampak psikologis pascabencana dengan melibatkan tenaga profesional, komunitas, hingga keluarga korban.
Sementara itu, berdasarkan laporan dari Posko Bencana Desa Pasirlangu, longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari menerjang sekitar 30 rumah yang dihuni 34 kepala keluarga (KK) dengan total 113 jiwa.
Lokasi terdampak berada di Kampung Pasirkuning RT 05/11 dan Kampung Pasirkuda RT 01/10. Hingga kini, 83 warga masih dalam pencarian akibat tertimbun material longsor.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyampaikan, operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) dilakukan secara 24 jam non-stop.
“Saat ini prioritas utama adalah penyelamatan jiwa. Oleh karena itu, operasi SAR dilakukan 24 jam non-stop, mengingat masih terdapat sekitar 83 warga yang masih dalam pencarian,” kata Pratikno usai mendampingi Wakil Presiden di lokasi bencana.
Pratikno menambahkan, hingga Ahad (25/1/2026) pagi, bencana longsor di Cisarua Bandung Barat telah menelan 10 korban jiwa. Pemerintah bersama unsur terkait telah membagi penanganan bencana ke dalam lima kluster utama.
Kluster pertama adalah kluster SAR yang dipimpin Basarnas dengan dukungan TNI, Polri, BPBD, BNPB, serta relawan. Fokus utamanya melakukan pencarian dan evakuasi korban.
“Kemudian ada kluster kesehatan. Pos-pos kesehatan beroperasi 24 jam dengan dukungan ambulans dan mekanisme rujukan yang selalu siaga. Layanan trauma healing juga disediakan bagi korban terdampak,” pungkasnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan







