SEKITARKITA.id – Bandung Barat kembali bikin “inovasi lingkungan” yang bikin geleng-geleng kepala. Setelah sempat viral gunungan sampah di Kampung Tanjakan Mama Utara, Desa Sukatani, kini episode terbaru drama persampahan hadir megah di halaman Kantor Desa Ngamprah, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.
Bukan taman bunga, bukan dekorasi acara desa. Yang menyambut warga di area Lapang Voli RT01 dan RT02 RW03 justru hamparan sampah rumah tangga yang sudah hampir satu bulan “setia berjaga” di depan kantor pelayanan desa. Aromanya? Kombinasi maut yang sanggup bikin orang batal sarapan.
Ironisnya lagi, tumpukan sampah itu berdiri gagah tepat di area fasilitas publik. Dari kejauhan terlihat seperti bukit mini, tapi ketika didekati, ternyata lengkap dengan “penghuni aktif” berupa belatung yang mulai merayap sampai ke badan jalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga sekitar pun mulai geram. Selain mengganggu pemandangan, bau busuk yang menusuk hidung kini dianggap mengancam kesehatan masyarakat, terutama anak-anak SD Ngamprah yang tiap hari melintas di dekat lokasi.
Mak Ami (47), warga setempat, mengaku sudah empat minggu hidup berdampingan dengan aroma yang lebih tajam dari omongan tetangga saat arisan.
“Biasanya seminggu sekali diangkut. Sekarang mah tidak ada kabar, tidak ada petugas. Belatung sudah jalan-jalan ke jalan raya, mungkin mau daftar jadi warga sini juga,” ujarnya sambil menahan kesal, saat ditemui dilokasi, Jumat (22/5/2026).
Menurut kabar yang beredar di masyarakat, armada pengangkut sampah disebut mengalami kecelakaan sehingga operasional pengangkutan terhenti. Namun bagi warga, alasan itu tak lagi cukup untuk menjelaskan kenapa sampah bisa sampai “naik jabatan” jadi penghias permanen halaman kantor desa.
Yang bikin makin miris, lokasi TPS dadakan tersebut berada dekat lapangan voli dan sekolah dasar. Anak-anak yang seharusnya belajar mencium aroma buku kini malah terpaksa akrab dengan wangi fermentasi sampah dan parade belatung.
Warga berharap Pemerintah Desa Ngamprah maupun UPT DLH KBB segera turun tangan sebelum tumpukan sampah itu resmi dijadikan objek wisata horor lingkungan.
“Minimal kalau belum diangkut, jangan sampai belatungnya lebih aktif daripada pelayanan,” celetuk seorang warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah setempat. Sampah masih terlihat menumpuk tanpa tanda-tanda evakuasi. Sementara warga hanya bisa berharap armada pengangkut segera datang sebelum gunungan sampah tersebut mendapatkan status cagar budaya dadakan.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








