Dede Yusuf Bongkar Dugaan Pengusaha Besar di Balik Alih Fungsi Lahan Kaki Gunung Burangrang

- Penulis

Minggu, 25 Januari 2026 - 20:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim SAR Gabungan TNI/Polri bersama relawan berjibaku mengevakuasi korban tertimbun longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua KBB (foto: Abdul Kholilulloh)

i

Tim SAR Gabungan TNI/Polri bersama relawan berjibaku mengevakuasi korban tertimbun longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua KBB (foto: Abdul Kholilulloh)

SEKITARKITA.id – Anggota DPR RI Dede Yusuf mengungkap dugaan kuat keterlibatan pengusaha besar dalam praktik alih fungsi lahan di kawasan kaki Gunung Burangrang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.

Praktik tersebut dinilai menjadi salah satu pemicu utama bencana longsor yang menewaskan dan merugikan puluhan warga di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua.

Pernyataan itu disampaikan Dede usai meninjau langsung lokasi longsor di Kampung Pasirkuning, Minggu (25/1/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari hasil dialog dengan warga, Dede menyebut lahan yang seharusnya berstatus kawasan perhutanan justru dikelola secara masif oleh pihak-pihak bermodal besar.

Anggota DPR RI Dede Yusuf bersama jajaran Partai Demokrat berdialog dengan warga di posko pengungsian Kantor Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua KBB (foto: istimewa)
Anggota DPR RI Dede Yusuf bersama jajaran Partai Demokrat berdialog dengan warga di posko pengungsian Kantor Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua KBB (foto: istimewa)

“Dari keterangan masyarakat, lahan ini dikelola oleh pengusaha-pengusaha besar. Warga hanya menggarap sebagian kecil. Artinya ada skema penguasaan yang tidak wajar,” ujar Dede di lokasi bencana.

Dede menuturkan, titik longsor berada di kawasan perhutanan yang secara struktur berada di bawah pengelolaan badan usaha milik negara (BUMN).

Namun dalam praktiknya, kawasan tersebut telah berubah menjadi hamparan pertanian intensif dengan sistem rumah kaca (green house) dalam skala luas.

Related Posts

Transformasi fungsi lahan itu dinilai melanggar prinsip tata ruang dan menghilangkan daya dukung lingkungan, terutama fungsi hutan sebagai daerah resapan air.

Baca Juga:  Lima Paslon Lolos Tes Kesehatan, selanjutnya KPU KBB Bakal Cek Keabsahan Ijazah 
Tim SAR Gabungan TNI/Polri bersama relawan berjibaku mengevakuasi korban tertimbun longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua KBB (foto: Abdul Kholilulloh)
Tim SAR Gabungan TNI/Polri bersama relawan berjibaku mengevakuasi korban tertimbun longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua KBB (foto: Abdul Kholilulloh)

“Ini bukan pertanian rakyat biasa. Skala dan polanya menunjukkan pengelolaan industri. Lereng dijadikan lahan produksi, tanpa mempertimbangkan risiko ekologis,” tegasnya.

Meski demikian, Dede mengakui status legal kepemilikan dan perizinan lahan masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Informasi mengenai keterlibatan BUMN dan pihak swasta, kata dia, diperoleh dari penuturan langsung warga setempat.

“Soal siapa pemilik resminya harus dikroscek. Tapi masyarakat menyampaikan bahwa ini dikelola BUMN dan bekerja sama dengan pengusaha,” katanya.

Dede menilai, fenomena alih fungsi lahan tidak hanya terjadi di Pasirlangu, melainkan hampir merata di kawasan Cisarua dan wilayah lain di kaki Gunung Burangrang yang masuk zona Kawasan Bandung Utara (KBU).

Padahal, regulasi KBU secara tegas membatasi pemanfaatan lahan maksimal 20 persen, sementara 80 persen harus tetap menjadi kawasan lindung.

“Di lapangan faktanya terbalik. Bangunan masif berdiri di lereng-lereng curam, hutan berubah jadi kebun. Ini pelanggaran serius yang dibiarkan bertahun-tahun,” ujarnya.

Dede pun menyatakan dukungannya terhadap langkah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mendorong penertiban kawasan lereng serta reboisasi sebagai solusi jangka panjang.

Baca Juga:  Terungkap! Ini Fakta Dugaan Pungli PTSL di Ngamprah Bandung Barat

“Kalau ada yang melanggar, apalagi skala besar, harus ditindak tegas. Kita tidak bisa terus mengorbankan keselamatan rakyat demi kepentingan bisnis,” tegasnya.

Lebih jauh, Dede juga menyoroti sistem perizinan berbasis Online Single Submission (OSS) yang dinilai melemahkan peran pemerintah daerah dalam pengendalian tata ruang.

Menurutnya, banyak izin terbit tanpa kajian ekologis yang memadai, sehingga daerah kehilangan kontrol terhadap kawasan rawan bencana.

“Ini salah satu dampak regulasi Cipta Kerja. Negara terlalu memudahkan investasi, tapi abai terhadap keselamatan lingkungan,” katanya.

Sebagai anggota Panitia Khusus Penyelesaian Sengketa Agraria DPR RI, Dede memastikan persoalan alih fungsi lahan di kaki Gunung Burangrang akan dibawa ke tingkat nasional.

“Ini bukan kasus lokal. Ini alarm nasional. Kalau dibiarkan, bencana serupa akan terus berulang,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua DPC Partai Demokrat KBB, Imam Tunggara, mengatakan jajaran DPP Demokrat, DPD Demokrat Jabar, dan jajaran DPC Demokrat KBB hingga Wamenaker RI turut meninjau langsung lokasi bencana.

Ketua DPC Partai Demokrat KBB, Imam Tunggara (foto: Abdul Kholilulloh)
Ketua DPC Partai Demokrat KBB, Imam Tunggara (foto: Abdul Kholilulloh)

Selain memantau titik mahkota longsor, Partai Demokrat juga menyalurkan bantuan logistik ke posko pengungsian.

Baca Juga:  Waspada jalan berkelok, Polres Cimahi kerahkan ribuan personel kawal arus mudik 2024

“Kami mengirimkan bantuan makan sehari- hari berupa beras, air mineral, mi instan, selimut, popok bayi, obat-obatan, serta kebutuhan dapur umum,” ujar Imam.

Imam mengungkapkan, kondisi medan di lokasi longsor masih sangat berbahaya karena tanah labil dan curah hujan tinggi.

“Ini bukan sekadar bencana alam. Ini akibat kelalaian manusia. Ketika hutan diubah jadi lahan bisnis, longsor tinggal menunggu waktu,” katanya.

Ia menegaskan, kaki Gunung Burangrang merupakan bagian dari Kawasan Bandung Utara yang seharusnya menjadi benteng ekologis.

“Kalau kawasan ini terus dieksploitasi, maka bencana akan menjadi siklus. Ini bom waktu,” tandasnya.

Imam juga menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan Pemprov Jawa Barat untuk merelokasi warga korban longsor serta menghijaukan kembali kawasan rawan bencana.

“Tidak cukup bantuan darurat. Yang dibutuhkan adalah keberanian negara untuk menghentikan perusakan lingkungan,” pungkasnya.

 



Editor : Abdul Kholilulloh

Sumber Berita : Liputan

Follow WhatsApp Channel sekitarkita.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Masa Sewa Habis, Politisi Golkar Dadan Minta Kepastian Lahan Sekolah Rakyat Bandung Barat
Anton Sukartono Kembali Diusung, Demokrat KBB Bidik 7 Kursi DPRD pada Pemilu 2029
Sekwan DPRD KBB Gelar Donor Darah Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan RI
Pidato Kenegaraan, Presiden Prabowo Ungkap 6 Fokus Pemerintah Selama 21 Bulan Memimpin
Golkar Tebar 350 Ribu Benih Ikan, Panggah Susanto Dorong Budidaya untuk Tingkatkan Pendapatan Keluarga
Kompak, Dua Politisi Golkar Salurkan Ratusan Ribu Benih Ikan di Bandung Barat Jelang HUT RI ke-81
Raih 444 Suara, Tantan Sulthon Terpilih Jadi Ketua PWI Jabar 2026-2031 
Tanpa Sentuh Anggaran Pemerintah, Warga Padalarang Swadaya Sulap Pemukiman Jadi Lorong Merah Putih dan Mural 

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:12 WIB

Masa Sewa Habis, Politisi Golkar Dadan Minta Kepastian Lahan Sekolah Rakyat Bandung Barat

Jumat, 14 Agustus 2026 - 18:52 WIB

Anton Sukartono Kembali Diusung, Demokrat KBB Bidik 7 Kursi DPRD pada Pemilu 2029

Jumat, 14 Agustus 2026 - 14:48 WIB

Sekwan DPRD KBB Gelar Donor Darah Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan RI

Jumat, 14 Agustus 2026 - 14:22 WIB

Pidato Kenegaraan, Presiden Prabowo Ungkap 6 Fokus Pemerintah Selama 21 Bulan Memimpin

Jumat, 14 Agustus 2026 - 07:41 WIB

Golkar Tebar 350 Ribu Benih Ikan, Panggah Susanto Dorong Budidaya untuk Tingkatkan Pendapatan Keluarga

Berita Terbaru

Bandung Barat

Sekwan DPRD KBB Gelar Donor Darah Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan RI

Jumat, 14 Agu 2026 - 14:48 WIB