SEKITARKITA.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi menilai keberadaan Balai Benih Ikan (BBI) di Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, sebagai peluang strategis untuk memperkuat sektor perikanan di wilayah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan.
Fasilitas ini diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi lokal berbasis budidaya ikan konsumsi dan ikan hias bernilai tinggi.
Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, menyebutkan bahwa BBI Cibabat menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya dikenal masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Padahal, berbagai jenis ikan dibudidayakan di lokasi tersebut—mulai dari komoditas air tawar hingga spesies laut.
“Di Kelurahan Cibabat ternyata kita memiliki balai benih ikan dengan beragam jenis, dari ikan air tawar sampai ikan laut,” kata Adhitia saat dikonfirmasi, Senin, 16 Februari 2026.
Menurutnya, selain ikan konsumsi seperti nila, balai benih ini juga membudidayakan komoditas bernilai ekonomi tinggi, termasuk unagi serta ikan hias introduksi dari luar negeri.
“Beberapa di antaranya adalah frontosa asal Afrika dan Corydoras yang memiliki pasar tersendiri,” terangnya.
Peluang Ekspor Ikan Hias
Adhitia menjelaskan, sebagian komoditas yang dikembangkan di BBI Cibabat memiliki peluang ekspor.
Ia menyebut, salah satunya adalah ikan Corydoras yang disebut memiliki permintaan pasar internasional, termasuk Jepang, untuk kebutuhan tertentu.
Tak hanya sebagai pusat pembenihan, kata Adhitia, kawasan BBI juga dilengkapi rumah budidaya yang dapat dimanfaatkan masyarakat—baik penghobi maupun pelaku UMKM—sebagai sarana pengembangan usaha perikanan skala terbatas.
“Di luar fungsi pembenihan, kawasan ini bisa menjadi ruang belajar dan produksi bagi warga yang ingin menekuni usaha perikanan,” paparnya.
Adhitia menegaskan, keberadaan BBI Cibabat menjadi bukti bahwa keterbatasan ruang di wilayah perkotaan tidak menutup peluang pengembangan sektor produktif berbasis perikanan, termasuk di Cimahi. Kuncinya terletak pada optimalisasi lahan dan inovasi berkelanjutan.
“Dengan keterbatasan lahan, budidaya tetap bisa dilakukan. Yang dibutuhkan adalah pemanfaatan yang optimal dan pengembangan berkelanjutan,” ucapnya.
Ke depan, lanjut dia, balai benih dan rumah budidaya tersebut diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui produksi benih, ikan konsumsi, maupun ikan hias bernilai jual.
Namun demikian, penguatan sektor ini masih memerlukan langkah strategis lanjutan—mulai dari perluasan akses informasi bagi masyarakat, dukungan teknis budidaya, hingga integrasi strategi pemasaran—agar potensi yang ada tidak berhenti sebagai proyek percontohan semata.
Editor : Abdul Kholilulloh








