Gegara Jembatan Ambruk di Padalarang Tak Kunjung Diperbaiki, 5 Hektare Sawah Gagal Panen

- Penulis

Rabu, 16 Juli 2025 - 17:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jembatan ambruk di Kampung Sukamulya, Desa Padalarang sebabkan area persawahan warga kurang air dan gagal panen (foto: Abdul Kholilulloh/ dok. Sekitarkita.id)

i

Jembatan ambruk di Kampung Sukamulya, Desa Padalarang sebabkan area persawahan warga kurang air dan gagal panen (foto: Abdul Kholilulloh/ dok. Sekitarkita.id)

SEKITARKITA.id –Sedikitnya 5 hektare lahan persawahan milik warga Kampung Purabaya, Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) gagal panen.

Hal ini disebabkan oleh jembatan ambruk di Kampung Sukamulya, Desa Padalarang, yang hingga kini belum juga diperbaiki.

Kondisi jembatan yang ambruk sejak 24 Maret 2025 itu menutup saluran air irigasi utama, membuat aliran air dari PN Kertas meluber dan tidak mengalir ke sawah warga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jembatan ambruk di Kampung Sukamulya, Desa Padalarang sebabkan area persawahan warga kurang air dan gagal panen (foto: Abdul Kholilulloh/ dok. Sekitarkita.id)
Jembatan ambruk di Kampung Sukamulya, Desa Padalarang sebabkan area persawahan warga kurang air dan gagal panen (foto: Abdul Kholilulloh/ dok. Sekitarkita.id)

Akibatnya, selama hampir enam bulan, para petani di tiga kampung terdampak gagal panen.

“Selokan dari PN Kertas tumpah, airnya meluber, tidak mengalir ke sawah. Akibatnya sekitar 5 hektare sawah di Purabaya dan Jayamekar gagal panen,” ungkap CP (52), tokoh masyarakat setempat, Rabu (16/7/2025).

Ia menilai birokrasi yang berbelit-belit menjadi penyebab utama lambannya perbaikan jembatan, meskipun anggaran Dana Desa disebut telah tersedia.

Warga Desak Perbaikan, Pemerintah Dinilai Lamban

CP menyebut warga telah berulang kali menyampaikan keluhan, mengingat jembatan tersebut menjadi akses utama bagi warga tiga RW, yakni RW 25 Kampung Sukamulya, RW 05 Kampung Ranjabali, dan RW 06 Kampung Sukamaju.

Baca Juga:  Kebakaran Hebat di Ngamprah, Diduga Berasal dari Pom Mini Depan Kantor Pemda KBB

“Sampai sekarang belum ada tindakan nyata. Padahal jalan ini vital, bukan cuma buat petani tapi juga anak sekolah dan pedagang,” katanya.

Yang memperparah situasi, menurut CP, kini warga hanya mengandalkan jembatan darurat dari anyaman bambu yang sangat berisiko.

“Kalau sampai ada korban karena jembatan darurat ini, siapa yang tanggung jawab? Katanya ada Dana Desa Rp200 juta, tapi belum dipakai atau belum transparan penggunaannya,” keluhnya.

Aktivitas Warga Terganggu, Akses Ekonomi Terputus

Senada, Iman Taufik (42), tokoh masyarakat Kampung Sukamulya, menyatakan jalan tersebut bukan sekadar alternatif, melainkan akses hidup warga.

“Ini jalan utama buat semua aktivitas warga. Sekarang warga harus muter lima kilometer. Anak sekolah pun terpaksa lewat jembatan bambu yang rawan hanyut,” ujarnya.

Warga berharap pemerintah desa dan kecamatan segera mengambil tindakan konkret dan tidak terus bersembunyi di balik alasan birokrasi.

Mereka juga menyoroti banyaknya bangunan liar di sekitar lokasi yang dibiarkan begitu saja, berbanding terbalik dengan lambatnya respon terhadap kebutuhan mendesak warga.

Baca Juga:  Eks Kadinkes KBB Tersangka Korupsi Kembalikan Uang Rp3 Miliar ke Negara, Proses Hukum Tetap Berlanjut

“Kami hanya minta keadilan. Jangan dibiarkan berlarut-larut. Ini bukan permintaan mewah, tapi menyangkut keselamatan dan ekonomi warga,” tutupnya.

Menanggapi hal ini, sebelumnya Kepala Desa Padalarang, Karom, mengatakan pihaknya telah mengapresiasi swadaya warga membangun jembatan darurat. Namun, perbaikan permanen masih terganjal persoalan kewenangan.

“Status saluran air ini masih perlu diklarifikasi, apakah milik BBWS Citarum Harum atau PUPR KBB. Kalau BBWS, berarti ke Pemprov Jabar. Kalau PUPR KBB, bisa langsung ke sana,” jelasnya.

Karom menyebut, total kebutuhan anggaran perbaikan jembatan ditaksir mencapai Rp800 juta, termasuk pembangunan bronjong dan pelebaran agar dapat dilalui mobil.

“Karena ini masuk kategori urgent, kami akan geser dari anggaran pembangunan lain. Tapi tetap harus melalui prosedur izin,” tegasnya.



Editor : Abdul Kholilulloh

Sumber Berita : Liputan

Berita Terkait

Respons Cepat Wabup Asep Ismail Soal Bocah 11 Tahun Diduga Makan Rumput di Bandung Barat
Kisah Bocah Makan Rumput di Bandung Barat Berbuah Harapan, Pengusaha Muda Hendrik Buka Jalan Hidup Baru
Momen Wabup Asep Ismail Naik Motor di Tengah Aksi Buruh KBB, Soroti Tuntutan Kesejahteraan Pekerja
Wabup Bandung Barat Asep Ismail Sampaikan Pesan Mendagri di Hari Otda 2026, Soroti Kinerja Daerah
Rumah Warga di Batujajar Bandung Barat Ambruk, Butuh Bantuan Pemerintah
Pemprov Jabar Salurkan Kompensasi Tahap Kedua untuk Warga Terdampak Normalisasi Situ Ciburuy
Desakan Warga Menguat, Satpol PP KBB Usulkan Putus Listrik Tower PT Protelindo Padalarang
Kecelakaan Truk vs Motor di Padalarang Berujung Maut, Polisi Turun Tangan

Berita Terkait

Selasa, 28 April 2026 - 07:32 WIB

Respons Cepat Wabup Asep Ismail Soal Bocah 11 Tahun Diduga Makan Rumput di Bandung Barat

Selasa, 28 April 2026 - 02:57 WIB

Kisah Bocah Makan Rumput di Bandung Barat Berbuah Harapan, Pengusaha Muda Hendrik Buka Jalan Hidup Baru

Senin, 27 April 2026 - 12:15 WIB

Momen Wabup Asep Ismail Naik Motor di Tengah Aksi Buruh KBB, Soroti Tuntutan Kesejahteraan Pekerja

Senin, 27 April 2026 - 11:44 WIB

Wabup Bandung Barat Asep Ismail Sampaikan Pesan Mendagri di Hari Otda 2026, Soroti Kinerja Daerah

Jumat, 24 April 2026 - 23:10 WIB

Rumah Warga di Batujajar Bandung Barat Ambruk, Butuh Bantuan Pemerintah

Berita Terbaru