SEKITARKITA.id – Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Komisi IV, Dr. H. Dadang M. Naser, S.H., S.I.P., M.I.Pol, melaksanakan kegiatan reses di Kampung Bungur, RT 02/RW 22, Desa Sirnajaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB), pada Ahad, 12 Oktober 2025.
Dalam reses ini, ia menyerap aspirasi petani dan pelaku UMKM sekaligus meninjau langsung potensi besar sektor pertanian wilayah selatan Bandung Barat.
Dadang Naser menyampaikan bahwa kondisi jalan pertanian di Gununghalu dan produktivitas lahan masih perlu ditingkatkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Insya Allah ke depan kita akan dorong bantuan bibit padi, serta alat-alat pertanian seperti traktor dan cultivator, khususnya untuk mendukung sektor hortikultura dan pertanian basah,” ujarnya.
Menurutnya, wilayah Gununghalu memiliki potensi komoditas unggulan seperti jagung, padi beras hitam, dan kopi yang dikenal luas.
Untuk itu, pihaknya akan melakukan pembahasan teknis bersama pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat agar program bantuan bisa tepat sasaran.
Dalam kunjungan tersebut, Dadang juga bertemu petani muda dan anggota KNPI yang bergerak di sektor kopi.
Ia menilai semangat generasi muda harus difasilitasi, termasuk membuka akses ke lahan-lahan terlantar milik PTPN atau Perkebunan Nusantara.
“Kalau lahan itu tidak dimanfaatkan dengan baik, kita perlu mencari solusi agar bisa dikerjasamakan secara adil, melalui kemitraan atau sistem sewa yang tidak merugikan rakyat,” tegasnya.
Percepat Kemandirian Pangan dan Kurangi Impor
Politisi senior partai Golkar ini juga menekankan pentingnya kemandirian pangan nasional, terutama dalam mengurangi ketergantungan pada impor jagung dan padi-padian.
“Potensi Gununghalu sangat besar untuk membantu ketahanan pangan, bukan hanya lokal, tapi juga untuk Kabupaten Bandung Barat secara umum,” katanya.
Dadang juga menyoroti mahalnya biaya sewa lahan yang mencapai Rp2 juta per bulan, sehingga perlu komunikasi dengan direksi agar rakyat tidak dirugikan.
“Prinsipnya jelas Hutannya hijau, rakyatnya sejahtera,” ujarnya.
Menurut Dadang, bila lahan dibiarkan terlantar dan diberikan kepada pihak luar tanpa keterlibatan masyarakat, konflik sosial bisa muncul.
Karena itu, jika ada investasi, harus melibatkan desa dan masyarakat melalui kemitraan yang adil dan penyediaan lapangan kerja.
“Jangan sampai rakyat hanya jadi penonton,” ujarnya.
Selain kopi dan padi, Dadang melihat potensi besar di sektor kacang, jamur, dan olahan produk lokal. Ia mengapresiasi UMKM kacang garing yang rasanya enak dan siap dibantu dari sisi bibit serta pengembangan.
Yang menarik, ia menyoroti kacang Sacha Inchi yang mengandung omega 3, 5, dan 9, dan minyaknya bisa dijual hingga Rp600 ribu per liter.
“Ini potensi luar biasa yang akan kita kembangkan melalui agroforestri atau wanatani terpadu, yang tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga hijauan pakan ternak dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Golkar KBB Siap Perjuangkan Aspirasi Petani
Sementara itu, Ketua DPD Partai Golkar KBB, Dadan Supardan, menyambut baik reses ini sebagai bentuk tanggung jawab DPR RI dan DPRD KBB dalam menyelaraskan pembangunan daerah dan nasional.
“Kegiatan ini tentu saja insya Allah bisa menjadi harmonisasi penyesuaian antara pembangunan di daerah termasuk juga di nasional,” ungkap Dadan.
“Dengan adanya reses ini, aspirasi kelompok tani dan masyarakat terkait pemanfaatan lahan perkebunan yang kurang produktif menjadi bahan perjuangan kita bersama agar bagaimana lahan-lahan tersebut bisa dimanfaatkan oleh para petani,” ujar Dadan menandaskan.
Kegiatan reses ini selain dihadiri oleh, Ketua DPD Partai Golkar KBB, Dadan Supardan, juga perwakilan DPK KNPI Gununghalu, para petani, pelaku UMKM, puluhan warga sekitar.
Reses Dadang Naser di Gununghalu bukan hanya serap aspirasi, tetapi juga langkah nyata mendorong, pemanfaatan lahan terlantar, bantuan bibit dan alat pertanian, pemberdayaan petani muda, penguatan UMKM lokal, pembangunan agroforestri terpadu, kemandirian pangan dan kesejahteraan rakyat.
Dengan semangat “Hutannya hijau, rakyatnya sejahtera,” wilayah selatan Bandung Barat diproyeksikan menjadi lumbung pangan dan pusat ekonomi baru.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan







