SEKITARKITA.id – Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) melalui Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) tengah mematangkan rencana ambisius untuk menjadikan Kecamatan Gunung Halu sebagai sentra baru peternakan sapi perah.
Langkah strategis ini diambil tidak hanya untuk mendongkrak total produksi susu KBB yang kini mencapai 145 ton per hari, tetapi juga untuk menciptakan pemerataan ekonomi antara wilayah utara dan selatan Bandung Barat.
Kepala Dispernakan KBB, Wiwin Aprianti, mengungkapkan bahwa kajian awal menunjukkan Gunung Halu memiliki semua kriteria ideal. Karakteristik geografis dan iklim di wilayah selatan ini dinilai sangat menunjang untuk pengembangan ternak sapi perah modern.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tim konsultan telah meneliti kecocokan lokasi di Gunung Halu. Hasilnya sangat baik, bukan hanya dari aspek teknis peternakan, tetapi juga lingkungan dan yang terpenting, kesiapan sosial masyarakatnya,” ujar Wiwin, Kamis (13/11/2025).
Dispernakan berkomitmen untuk menerapkan konsep pengembangan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dalam model ini, pengelolaan limbah kotoran sapi akan menjadi fokus utama.
Kotoran tidak akan dibiarkan mencemari lingkungan, melainkan diolah menjadi pupuk organik yang memiliki nilai jual dan nilai tambah bagi peternak.
“Konsepnya, minimal limbah tidak kembali ke masyarakat. Pengolahan limbah itu wajib, dan kita sudah siapkan skemanya,” tegas Wiwin.
Pendekatan ini menjamin bahwa sentra baru di Gunung Halu akan berjalan harmonis dengan alam, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi warga lokal melalui produk turunan peternakan.
Selama ini, produksi susu di Bandung Barat memang sudah signifikan, namun masih terpusat di wilayah utara seperti Lembang, Parongpong, dan Cisarua. Dengan dibukanya sentra di Gunung Halu, pemerintah berharap distribusi ekonomi akan lebih merata dan daya saing peternak semakin kuat.
Data Dispernakan KBB mencatat, populasi sapi perah di Bandung Barat saat ini telah mencapai 21.856 ekor, yang berkontribusi pada produksi rata-rata harian mencapai 145 ton.
“Kita ingin selatan tidak hanya menjadi daerah pemukiman, tetapi juga pusat ekonomi baru melalui peternakan sapi perah,” kata Wiwin, penuh optimisme.
Program ini akan melibatkan secara aktif kelompok ternak lokal yang sudah terbentuk. Dispernakan tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga memastikan pembangunan fasilitas pendukung dapat berjalan bertahap setelah seluruh kajian teknis dan sosial rampung.
Kunci Keberhasilan: Keterlibatan warga lokal dan penerapan konsep sirkulasi ekonomi yang mengedepankan aspek sosial-ekonomi peternak menjadi jaminan agar program ini dapat berjalan sukses dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








