[ad_1]
Perempuan penyandang disabilitas dua kali lebih mungkin saja merasakan kekerasan dibandingkan perempuan non-disabilitas (menurut SafeLives) dan mungkin saja merasa lebih sulit mengakses dukungan andai pelaku mempunyai peran 'peduli' dalam hidup sehari-hari mereka.
Seperti apa kekerasan dalam rumah tangga?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
KDRT bisa terjadi dalam berbagai bentuk, yang akan kita bahas di bawah ini. Tetapi, penting untuk dapat diingat bahwa sepertinya tidak semua jenis KDRT harus segera ada agar bisa hal itu dianggap sebagai KDRT. Andai Anda mengenali salah satu perilaku ini, secepatnya cari bantuan setelah keadaan aman untuk melakukannya.
Jenis-jenis KDRT
Kontrol koersif: Ketika seorang pelaku kekerasan memakai suatu pola perilaku sepanjang kurun waktu tertentu untuk memakai kekuasaan dan kontrol atas cara Anda menjalani hidup.
Ini dapat termasuk mengisolasi Anda dari keluarga dan rekan-rekan, misalkan saja mendorong Anda untuk sepertinya tidak keluar, menekan Anda untuk tinggal bersama mereka saat Anda belum siap, dll.; mengatur apa yang Anda lakukan, misalkan saja apa yang Anda makan, apa yang Anda kenakan, dengan siapa Anda menghabiskan waktu; memantau perilaku Anda, dan melakukan gaslighting terhadap Anda, misalkan saja membuat Anda meragukan persepsi Anda tentang pelecehan dan realitas Anda.
Kekerasan psikologis/emosional: Ketika seorang pelaku kekerasan memakai perilaku non-fisik – seperti mencaci-maki, melakukan gaslighting, mengancam, memanipulasi Anda, dll. – untuk membuat Anda merasa atau bertindak dengan cara apa pun.
Penyalahgunaan ekonomi: Ketika seorang pelaku kekerasan mengatur atau mencoba mengatur akses Anda terhadap uang atau sumber daya keuangan. Ini bisa meliputi membuat Anda terlilit utang tanpa sepengetahuan atau persetujuan Anda, memakai atau mengubah ujar sandi financial institution Anda, membuat Anda meminta uang kepada mereka, sepertinya tidak membayar tunjangan anak, dan memutuskan keuangan yang signifikan tanpa masukan atau sepengetahuan Anda.
Kekerasan fisik: Ketika seorang pelaku kekerasan menyentuh atau menyakiti Anda tanpa persetujuan Anda. Tindakan ini bisa mencakup memukul, meninju, menendang, meninju, menjambak rambut Anda, menampar, mencekik, meludah, memakai alat pengekang fisik, dan mencampur makanan dan minuman Anda.
Penyalahgunaan teknologi: Saat pelaku kekerasan memakai teknologi untuk mengatur, melecehkan, dan/atau mengintimidasi Anda. Ini bisa meliputi penggunaan spyware and adware, penggunaan teknologi AI/deepfake untuk membuat gambar telanjang palsu tentang Anda, mengancam untuk membagikan gambar asli atau palsu tanpa persetujuan Anda, terus-menerus memantau dan menghubungi Anda secara bold, dan memantau lokasi Anda tanpa persetujuan Anda.
Pelecehan seksual: Ketika seorang pelaku kekerasan mengancam atau memaksa Anda untuk melakukan aktivitas seksual apa pun tanpa persetujuan Anda. Ini bisa meliputi seks oral paksa, sembunyi-sembunyi (melepas kondom tanpa persetujuan), melakukan seks anal tanpa meminta persetujuan, dan secara sadar menularkan penyakit menular seksual kepada Anda.
Ingat, pelaku kekerasan menyesuaikan kekerasannya dengan korbannya. Andai Anda sepertinya tidak lihat pengalaman Anda di sini, bukan berarti itu bukan kekerasan. Carilah dukungan pada kesempatan paling awal (dan paling aman).
Apa hukum tentang kekerasan dalam rumah tangga?
KDRT merupakan tindakan melawan hukum di Inggris – ada undang-undang yang berlaku untuk melindungi Anda dan orang-orang yang Anda sayangi andai dan ketika Anda melaporkannya ke polisi.
Undang-Undang Kekerasan dalam Rumah Tangga Tahun 2021 memberikan perlindungan berikut bagi mereka yang berada di Inggris dan Wales:
- Ia menggolongkan pengendalian koersif dan pengendalian ekonomi sebagai suatu bentuk kekerasan dalam rumah tangga.
- Undang-undang ini memberi polisi wewenang untuk mengeluarkan Pemberitahuan Perlindungan Kekerasan dalam Rumah Tangga (Home Abuse Coverage Understand/DVPN), yang mengharuskan pelaku meninggalkan rumah sampai 48 jam, dengan begitu penderita bisa menemukan tempat tinggal yang lebih aman.
- Memberikan penderita dan anak-anak mereka hak untuk dapatkan akomodasi yang aman jauh dari pelaku kekerasan.
- Melarang pelaku kekerasan mencoba memeriksa silang penderita di pengadilan.
- Memastikan penderita berhak atas tindakan khusus – seperti memberikan bukti melalui tautan video – di pengadilan pidana, perdata, dan keluarga.
- Mengakui anak sebagai penderita – bukan hanya “saksi” – dari kekerasan dalam rumah tangga.
- Melindungi hak penderita untuk bertanya kepada polisi apakah pasangan mereka mempunyai riwayat kekerasan dalam rumah tangga. Ini dikenal sebagai Hukum Clare.
[ad_2]
Sumber: glamourmagazine







