Keluhkan Polusi Debu Kapur hingga Sesak Napas, Puluhan Emak-emak Kepung PT Kurnia Marmer di Padalarang

- Penulis

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Spanduk berisi kritikan dibawa emak-emak dalam aksi demo di PT Kurnia Marmer, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Bandung Barat. Sabtu (25/7). Foto: Abdul Kholilulloh

i

Spanduk berisi kritikan dibawa emak-emak dalam aksi demo di PT Kurnia Marmer, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Bandung Barat. Sabtu (25/7). Foto: Abdul Kholilulloh

SEKITARKITA.id – Puluhan emak-emak mengepung PT Kurnia Artha Pratiwi atau PT Kurnia Parama Adhara di Kampung Pamuncatan, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sabtu (25/7/2026).

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap dugaan polusi debu, getaran mesin, hingga rencana pembangunan benteng yang dinilai dilakukan tanpa musyawarah dengan warga.

Pantauan SEKITARKITA.id dilokasi, warga yang berasal dari RW 10, RW 11, dan RW 12 Desa Ciburuy menuntut perusahaan PT Kurnia Marmer menghentikan sementara aktivitas yang diduga menjadi penyebab pencemaran udara dan gangguan kenyamanan masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka mengaku selama bertahun-tahun terdampak debu hitam yang diduga berasal dari aktivitas operasional pabrik.

Puluhan emak-emak mendatangi PT Kurnia Marmer di Kampung Pamuncatan, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sabtu (25/7/2026). Foto: Abdul Kholilulloh
Puluhan emak-emak mendatangi PT Kurnia Marmer di Kampung Pamuncatan, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sabtu (25/7/2026). Foto: Abdul Kholilulloh

Salah seorang warga, Lintang (27), mengatakan masyarakat sebenarnya sudah berkali-kali menyampaikan keluhan kepada pihak perusahaan. Namun hingga kini, menurutnya, belum ada penyelesaian yang dianggap mampu mengatasi persoalan tersebut.

“Selain mempersoalkan polusi debu dan getaran mesin akibat operasional pabrik selama 24 jam, kami juga memprotes rencana pembangunan benteng di Kampung Pojok Angkasa karena dilakukan tanpa musyawarah dengan warga,” ujar Lintang kepada wartawan dilokasi.

Baca Juga:  Soulja Boy Sampaikan Drake 'Keluar Tidak Bahagia' dalam Kata-kata kasar Twitter

Menurutnya, debu hitam diduga berasal dari proses pembakaran di area pabrik dan setiap hari menyebar hingga ke permukiman warga.

“Setiap pagi setelah menyapu rumah, lantai kembali dipenuhi debu hitam seperti abu arang. Pakaian yang dijemur di luar juga terkena debu. Banyak warga mengalami gatal-gatal dan sesak napas,” katanya.

Spanduk berisi kritikan dibawa emak-emak dalam aksi demo di PT Kurnia Marmer, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Bandung Barat. Sabtu (25/7). Foto: Abdul Kholilulloh
Spanduk berisi kritikan dibawa emak-emak dalam aksi demo di PT Kurnia Marmer, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Bandung Barat. Sabtu (25/7). Foto: Abdul Kholilulloh

Lintang juga menduga perusahaan menggunakan bahan bakar petroleum coke (petcoke) sebagai pengganti batu bara. Menurutnya, penggunaan bahan bakar tersebut menghasilkan polusi yang lebih besar sehingga dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

“Petcoke mengandung sulfur. Nilai kalorinya memang lebih tinggi daripada batu bara, tetapi efek polusinya juga lebih besar. Debu hasil pembakarannya beterbangan ke mana-mana dan diduga menjadi penyebab gangguan kesehatan warga,” tuturnya.

Selain persoalan debu, warga juga mengeluhkan getaran mesin yang dirasakan hampir sepanjang hari karena operasional pabrik disebut berlangsung selama 24 jam. Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri.

Masyarakat juga mempersoalkan rencana pembangunan benteng di belakang permukiman Kampung Pojok Angkasa. Mereka mengaku tidak pernah menerima pemberitahuan maupun diajak bermusyawarah sebelum rencana tersebut muncul.

Baca Juga:  Larangan Parkir Liar di Cimahi, Ojol Dukung Penertiban tapi Minta Pemkot Siapkan Ruang Tunggu
Lokasi situasi di PT Kurnia Marmer, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Bandung Barat. Sabtu (25/7). Foto: Abdul Kholilulloh
Lokasi situasi di PT Kurnia Marmer, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Bandung Barat. Sabtu (25/7). Foto: Abdul Kholilulloh

Hingga saat ini, warga mengaku belum pernah menerima kompensasi maupun solusi yang dianggap memadai dari pihak perusahaan. Upaya penyiraman jalan yang sempat dilakukan perusahaan juga dinilai belum efektif mengurangi debu yang masuk ke permukiman.

“Kami sudah beberapa kali menyampaikan aspirasi, tetapi belum ada solusi yang benar-benar menyelesaikan persoalan. Debunya tetap masuk ke rumah-rumah warga,” ujar Lintang.

Warga Mengaku Sesak Napas, Anak-anak Banyak Batuk dan Flu

Keluhan serupa disampaikan Nengsi (58), warga Kampung Pojok Angkasa RW 11, Desa Ciburuy. Ia mengaku baru mengetahui adanya rencana pembangunan benteng di belakang rumahnya tanpa pernah diajak berdiskusi.

“Katanya mau dibangun benteng di belakang rumah, tetapi tidak ada pemberitahuan atau perundingan terlebih dahulu dengan warga. Saya juga tidak tahu kelanjutannya seperti apa,” ucap Nengsi.

Menurutnya, dampak yang paling dirasakan warga adalah polusi debu yang diduga memicu gangguan pernapasan.

“Yang paling terasa itu debu. Kami sering sesak napas. Anak-anak juga banyak yang batuk dan flu,” katanya.

Baca Juga:  Dari IKN Langsung ke Hanoi, Prabowo Temui Presiden Vietnam Bahas Kemitraan Strategis

Aksi tersebut disambut langsung HRD PT Kurnia Artha Pratiwi, Wahyu Triasntiningsing dan pihak Kepala Desa Ciburuy, Firmansyah, warga menyampaikan keluhan dan akan dijadwalkan kembali pertemuan pada Senin mendatang yang difasilitasi pihak pemerintah desa setempat.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Kurnia Marmer belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan warga maupun dugaan pencemaran yang disampaikan dalam aksi tersebut. Jika ada tanggapan dari perusahaan, berita ini akan diperbarui sesuai perkembangan.



Editor : Abdul Kholilulloh

Sumber Berita : Liputan

Follow WhatsApp Channel sekitarkita.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Timnas Indonesia Menang Telak 9-2 atas Bangladesh, Garuda Lolos ke Final FIFA ASEAN Cup 2026
Resmi Disepakati! DPRD KBB dan Bupati Tetapkan Arah R-APBD Perubahan 2026, Infrastruktur Digenjot
Reshuffle Kabinet Merah Putih ke-7! Prabowo Lantik 16 Pejabat, Bahlil Rangkap Dua Jabatan 
Belasan Siswa SDN Garuda Cisarua Tumbang Diduga Usai Makan MBG, SPPG Jambudipa 1 Jadi Sorotan 
Gerak Cepat, Polres Cimahi Ungkap Peredaran Sabu di Batujajar, Buruh Harian Lepas Diringkus
Pesan Menohok Ketua Komisi III DPRD Pither Tjuandys: JAGUR Harus Jadi Garda Kondusivitas di KBB
Geledah Kantor Pengembang Kota Baru Parahyangan, KPK Sita Dokumen HGB
Menteri LH Soroti Waduk Saguling Dipenuhi Eceng Gondok, Pengelola Diminta Ikut Bertanggung Jawab

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Timnas Indonesia Menang Telak 9-2 atas Bangladesh, Garuda Lolos ke Final FIFA ASEAN Cup 2026

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:44 WIB

Resmi Disepakati! DPRD KBB dan Bupati Tetapkan Arah R-APBD Perubahan 2026, Infrastruktur Digenjot

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:33 WIB

Reshuffle Kabinet Merah Putih ke-7! Prabowo Lantik 16 Pejabat, Bahlil Rangkap Dua Jabatan 

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:32 WIB

Belasan Siswa SDN Garuda Cisarua Tumbang Diduga Usai Makan MBG, SPPG Jambudipa 1 Jadi Sorotan 

Rabu, 30 September 2026 - 20:35 WIB

Gerak Cepat, Polres Cimahi Ungkap Peredaran Sabu di Batujajar, Buruh Harian Lepas Diringkus

Berita Terbaru