AdinJavaBagaimana emosi yang matang bisa memperlihatkan kesiapan menuju pernikahan? Berikut penjelasan dari seorang psikolog.
Dengan jumlah besar orang menganggap bahwa kesiapan untuk menikah bisa dilihat dari usia atau keadaan finansial, tetapi nyatanya terdapat aspek lain yang tidak kalah penting, yakni kedewasaan emosional. Hal ini menjadi fondasi yang kuat dalam menciptakan hubungan yang sehat dan saling memahami antara pasangan.
Psikolog Klinis Ayu Mas Yoca Hapsari, M.Psi., mengungkapkan bahwa kematangan emosional adalah hal yang sangat penting dimiliki seseorang sebelum membuat keputusan untuk menikah. Faktor ini menjadi fondasi dalam menciptakan hubungan yang sehat, saling paham, serta mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kematangan emosional penting tidak hanya dalam hubungan, namun juga bagi individu,” tutur Ayu, seperti dikutip dari Kompas.com.
Seseorang yang mempunyai kematangan emosional biasanya mampu mengenali, mengelola, dan mengekspresikan perasaan secara tepat. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh emosi dan mampu menjaga keseimbangan ketika menghadapi tekanan kehidupan atau perselisihan dengan pasangan.
Kematangan emosional membuat seseorang lebih stabil dalam menghadapi perubahan dan tantangan dalam hidup, termasuk dalam pernikahan. Kemampuan ini juga berperan dalam menjaga hubungan agar tetap harmonis dan tidak mudah terganggu oleh perbedaan pendapat.
Ayu menjelaskan bahwa seseorang yang belum matang secara emosional terus menerus kali merasakan kesulitan dalam memahami perasaan dirinya sendiri. Akibatnya, mereka cenderung bertindak secara impulsif atau mudah marah ketika menghadapi situasi yang menegangkan.
“Andai kamu tidak memahami perasaanmu dan pengelolaan emosimu juga buruk, bahkan mengungkapkan emosi dengan cara yang tiba-tiba saja meledak, hal ini memperlihatkan bahwa kamu belum mempunyai kematangan emosional,” ungkapnya.
Keadaan ini dapat menjadi sumber perselisihan baru setelah menikah dan berdampak pada kenyamanan dalam rumah tangga. Mengingat itu, kemampuan mengatur emosi menjadi faktor penting agar pasangan mampu menangani masalah dengan cara yang lebih baik.
“Ini berpotensi menimbulkan konflik baru setelah menikah. Mengingat itu, lebih baik memperkuat emosinya terlebih dahulu sebelum menikah,” tutur Ayu.
“Awalnya kenali dulu perasaanmu, bagaimana cara mengelola, serta mengekspresikan emosimu dengan lebih baik,” ungkapnya.
Dengan mengenali perasaan, seseorang mampu memahami kebutuhan pribadi dan memutuskan tanggapan yang sesuai dalam berbagai situasi. Contohnya, ketika merasa kesal, seseorang yang dewasa secara emosional akan lebih dahulu mencoba santai sebelum berbicara dengan pasangannya.
Ayu juga mengungkapkan bahwa kesiapan untuk menikah bisa dilihat dari dua sudut pandang utama, yaitu intrapersonal dan interpersonal. Aspek intrapersonal berkaitan dengan hubungan seseorang terhadap dirinya sendiri, sedangkan aspek interpersonal mencakup kehidupan sosial dengan orang lain.
“Keterlibatan diri adalah interaksi kita dengan diri sendiri, bagaimana kita merenungkan diri, memahami perasaan kita,” tutur Ayu.
“Interpersonal merujuk pada cara kita berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita. Misalkan saja, kita berdiskusi dengan seseorang di sekitar,” tambahnya.
Ayu menekankan bahwa pernikahan yang berlangsung lama tidak hanya didasarkan pada cinta, namun juga pada kemampuan pasangan dalam saling memahami serta mengendalikan emosi secara bijaksana. Kematangan emosional memudahkan setiap orang menghadapi perselisihan tanpa saling menyalahkan dan menjaga komunikasi tetap terbuka serta sehat.
Alternatifnya, berdasarkan informasi dari TribunHealth.com, kematangan emosional yang memperlihatkan kesiapan untuk memasuki pernikahan bisa terlihat dari kemampuan mengatasi masalah. Selain itu, terdapat komunikasi yang baik, mampu menghadapi tantangan secara bijaksana, serta mampu bekerja untuk dapat mencari penghidupan.
Psikolog Adib Setiawan, S.Psi., M.Psi. menyampaikan bahwa setelah memasuki kehidupan pernikahan, bekerja menjadi hal yang sangat penting. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk kebutuhan harian, keuangan, serta perencanaan masa depan.
“Pastinya psychological harus segera siap, bagaimana mengakhiri masalah, mengendalikan emosi, serta apa yang harus segera dilakukan saat hidup merasakan kekurangan,” tutur Adib.
Dalam hidup rumah tangga, pasti akan muncul berbagai tantangan dan masalah yang harus segera dihadapi bersama. Kondisi ini dapat menjadi lebih berat andai seseorang untuk membuat pilihan menikah pada usia muda atau belum cukup dewasa, baik secara emosional maupun psikologis.
“Seorang yang dewasa atau matang benar-benar tidak ditentukan oleh usianya, melainkan tergantung pada cara berpikir, cara berkomunikasi, cara lihat masalah, serta cara memutuskan,” ungkapnya. (*)







