KBB | SEKITARKITA.id – Pemerintah Desa (Pemdes) Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), memberikan klarifikasi terkait keberangkatan rombongan perangkat desa ke Pangandaran di tengah isu dugaan keracunan yang dialami puluhan siswa SDN 2 Cipeundeuy.
Kepala Desa Cipeundeuy, Asep Suhendar, menegaskan keberangkatan rombongan ke Pangandaran bukan berarti Pemdes Cipeundeuy mengabaikan kondisi siswa dan warga yang mengalami gangguan kesehatan.
Menurut Asep, sebelum rombongan berangkat menggunakan bus pariwisata menuju Pangandaran, pihak desa telah menerima informasi mengenai sejumlah siswa yang mengalami keluhan kesehatan dan langsung membantu proses penanganan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jadi pas awal dilarikan ke rumah sakit itu di Jumat sore pukul 15.20 WIB, saya dan Pemdes Cipeundeuy membawa pasien anak yang diduga keracunan menuju rumah sakit terdekat,” kata Asep saat konferensi pers di Kantor Desa Cipeundeuy, Senin, 14 September 2026.
Asep menjelaskan, pihaknya memperoleh informasi mengenai puluhan siswa SDN 2 Cipeundeuy yang mengalami gangguan kesehatan. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan konsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Setelah menerima laporan, Pemdes Cipeundeuy langsung membantu membawa para siswa ke sejumlah fasilitas kesehatan.
“Kami menerima informasi itu duluan, langsung dilarikan ke RS tersebar, yakni RS Cibabat, RS Dustira dan RS IMC Cimareme. Setelah itu kami rombongan berangkat menuju Pangandaran dan ada perangkat desa yang ditugaskan untuk standby dan mendata korban pasien yang mulai bertambah,” jelasnya.
Menurut Asep, beberapa siswa dan warga yang mengalami keluhan kesehatan berasal dari wilayah RW 02 dan RW 03.
Ia menegaskan, Pemdes Cipeundeuy tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi warga meski sebagian perangkat desa dan unsur kelembagaan lainnya tetap menjalankan agenda yang sebelumnya telah direncanakan.
“Begitu saya dengar dari Pak RW 03, saya langsung bawa ambulans. Begitu telepon, langsung kita ke lapangan,” ujarnya.
Asep mengatakan agenda keberangkatan ke Pangandaran bukan kegiatan yang dibuat secara mendadak.
Menurut dia, kegiatan tersebut telah direncanakan sejak 2025 dan melibatkan berbagai unsur kelembagaan yang ada di Desa Cipeundeuy.
“Yang berangkat bukan hanya pemerintah desa. Semua lembaga desa, perangkat desa, BPD, LPMD, RT, RW, Linmas, Posyandu dan PKK sudah ada perencanaan,” kata Asep.
Karena itu, Asep membantah anggapan bahwa keberangkatan rombongan ke Pangandaran dilakukan dengan mengabaikan kondisi siswa yang sedang menjalani perawatan.
Ia menyebut, ketika informasi mengenai warga dan siswa yang sakit diterima pada Jumat sore, Pemdes langsung melakukan langkah penanganan dan berkoordinasi dengan pihak terkait.
Sementara itu, sejumlah pasien yang sebelumnya mendapatkan perawatan masih dalam pemantauan. Sebagian lainnya telah diperbolehkan pulang setelah kondisi kesehatannya membaik.
“Saya langsung ke rumahnya yang sudah pulang. Alhamdulillah panasnya sudah turun, mencretnya juga sudah hampir normal. Hari ini banyak yang pulang,” ungkap Asep.
Berdasarkan keterangan Pemdes Cipeundeuy, sedikitnya 34 siswa mengalami keluhan kesehatan. Selain siswa, sejumlah orang tua juga dilaporkan mengalami gejala serupa.
Asep menegaskan, hingga saat ini belum ada kepastian bahwa gangguan kesehatan yang dialami siswa dan warga tersebut disebabkan oleh makanan dari program MBG.
Pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan dan observasi tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
“Belum ada kepastian keracunan ini dari MBG. Masih dalam tahap observasi dan pemeriksaan,” katanya.
Keluhan yang dialami sebagian pasien, kata Asep, antara lain demam dan diare. Kondisi tersebut tidak hanya dialami siswa, tetapi juga beberapa orang tua.
“Yang sakit bukan anak-anak saja, ada beberapa orang tua. Ada yang usia sekitar 50 tahun juga mengalami keluhan,” jelasnya.
Asep meminta masyarakat tidak langsung menyimpulkan bahwa kejadian tersebut merupakan keracunan akibat MBG sebelum terdapat hasil pemeriksaan yang memastikan penyebabnya.
Ia juga mempertanyakan apakah terdapat kaitan langsung dengan menu MBG karena kejadian serupa, menurutnya, perlu dilihat berdasarkan kondisi sekolah lain di sekitar wilayah tersebut.
“Kalau memang berkaitan dengan makanan MBG, perlu diketahui pula mengapa kejadian tersebut hanya terjadi di SDN 02 Cipeundeuy, sementara sekolah lain di sekitar wilayah tersebut tidak dilaporkan mengalami kejadian serupa,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pemdes Cipeundeuy berencana berkoordinasi dengan Puskesmas dan menyiapkan sistem pengaduan selama 24 jam.
Posko tersebut disiapkan agar laporan dari warga maupun siswa yang kembali mengalami keluhan kesehatan dapat segera diterima dan ditindaklanjuti.
“Kita akan koordinasi dengan Puskesmas seperti apa penanganannya. Hari ini juga akan membuat posko pengaduan 24 jam, supaya kalau malam ada kejadian seperti itu sudah siap,” tutur Asep.
Pemdes Cipeundeuy memastikan perkembangan kondisi siswa dan warga yang sebelumnya mendapatkan perawatan akan terus dipantau.
Asep kembali menegaskan bahwa agenda ke Pangandaran merupakan kegiatan yang telah dijadwalkan sebelumnya. Di sisi lain, Pemdes tetap melakukan penanganan ketika menerima laporan mengenai warga yang sakit.
“Intinya, kita tetap memberikan perhatian. Begitu ada laporan, kita langsung bergerak,” tegas Asep.
Dengan adanya klarifikasi tersebut, Pemdes Cipeundeuy berharap masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa pemerintah desa mengabaikan kondisi para siswa.
Adapun penyebab gangguan kesehatan yang dialami 34 siswa dan sejumlah warga di Cipeundeuy, Padalarang, hingga kini masih menunggu hasil pemeriksaan untuk memastikan apakah berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau disebabkan faktor lainnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : liputan







