KBB | SEKITARKITA.id – Badan Gizi Nasional (BGN) menjatuhkan sanksi suspend selama 20 hari terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Keputusan tersebut diambil setelah muncul laporan puluhan siswa mengalami keluhan kesehatan yang diduga berkaitan dengan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, penyebab pasti keluhan kesehatan para siswa hingga kini masih dalam pemeriksaan. BGN dan tim terkait belum menyimpulkan bahwa makanan MBG menjadi penyebab kejadian tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Satgas MBG Bandung Barat, Fauzan Azima, mengatakan suspend terhadap SPPG Padalarang mulai berlaku pada Senin (14/9/2026).
“Kalau suspend, dari BGN sudah dilakukan. Jadi, per hari ini sudah suspend selama 20 hari ke depan. Suratnya juga sudah sampai kepada pihak SPPG,” kata Fauzan saat ditemui sekitarkita.id di SPPG Padalarang Cipendeuy, Senin (14/9/2026).
Selama masa suspend, pihak SPPG diminta melakukan evaluasi dan memperbaiki sejumlah persoalan yang ditemukan dalam pemeriksaan.
Tim Satgas MBG Bandung Barat bersama Dinas Kesehatan, kepolisian, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta sejumlah unsur terkait telah melakukan inspeksi ke dapur SPPG.
Dari pemeriksaan tersebut ditemukan beberapa catatan terkait penerapan standar operasional prosedur (SOP).
Fauzan menyebut temuan tersebut terbagi dalam kategori mayor dan minor. Temuan mayor menjadi persoalan yang wajib diperbaiki sebelum dapur dapat kembali menjalankan operasional.
“Beberapa SOP belum maksimal dilakukan. Ada beberapa catatan, baik yang sifatnya mayor maupun minor. Mayor artinya wajib diperbaiki,” ujarnya.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian tim pemeriksa adalah proses pencucian ompreng atau wadah makanan.
Menurut Fauzan, pencucian ompreng masih dilakukan di lokasi yang terpisah. Kondisi tersebut dinilai memiliki risiko terhadap aspek kebersihan dan kesehatan apabila tidak dilakukan sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
“Salah satunya terkait pencucian ompreng yang masih dilakukan di tempat terpisah. Hal tersebut berisiko terhadap kesehatan dan kebersihan ompreng,” tuturnya.
Selain pencucian ompreng, tim juga menemukan beberapa catatan lain terkait penerapan SOP di lingkungan dapur SPPG.
Pihak pengelola kemudian diminta melakukan pembenahan terhadap seluruh temuan tersebut selama masa suspend berlangsung.
Di sisi lain, Satgas MBG Bandung Barat masih memantau kondisi siswa yang mengalami keluhan kesehatan.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan yang diterima Fauzan, terdapat 30 orang yang telah terkonfirmasi mengalami keluhan kesehatan dalam kejadian tersebut.
Lima orang di antaranya telah diperbolehkan pulang. Sementara 25 korban lainnya masih menjalani perawatan di dua rumah sakit dan satu klinik.
Meski para siswa disebut mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG, hubungan langsung antara makanan tersebut dengan kondisi kesehatan para korban masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan.
Fauzan mengatakan makanan yang diduga dikonsumsi korban merupakan menu yang disajikan pada Rabu. Sementara keluhan kesehatan mulai muncul pada Jumat.
“Semua masih dalam pemeriksaan dari sisi kesehatan untuk memastikan apakah keluhan tersebut memang akibat mengonsumsi menu MBG atau bukan,” katanya.
Dengan adanya suspend tersebut, dapur SPPG Padalarang untuk sementara tidak menjalankan pelayanan seperti biasa.
Pihak pengelola diminta memanfaatkan masa penghentian operasional untuk memperbaiki seluruh temuan, khususnya yang masuk kategori mayor.
Setelah perbaikan dilakukan, evaluasi kembali akan menjadi salah satu pertimbangan sebelum operasional SPPG dilanjutkan.
Fauzan menegaskan bahwa pengawasan terhadap dapur SPPG dilakukan untuk memastikan seluruh proses penyediaan makanan MBG memenuhi standar keamanan dan kebersihan.
“Kami lebih fokus kepada dapur atau SPPG. Intinya, jangan sampai kejadian seperti ini kembali terjadi. Itu yang tidak kita inginkan,” tandasnya.
Dengan langkah suspend dan evaluasi tersebut, BGN bersama Satgas MBG Bandung Barat berharap kualitas pengelolaan dapur SPPG dapat diperbaiki sehingga distribusi makanan program MBG tetap memenuhi standar keamanan pangan.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : liputan







