Kisah Wukirsari: Berdiri dari Reruntuhan ke Panggung Dunia dengan Warisan Terbaik

- Penulis

Sabtu, 29 November 2025 - 11:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kisah Wukirsari: Berdiri dari Reruntuhan ke Panggung Dunia dengan Warisan Terbaik

AdinJavaPagi hari, Sabtu 27 Mei 2006. Suara gemuruh mengganggu ketenangan di Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Bumi bergetar, dinding-dinding bangunan ambruk, dan debu meluncur tinggi seperti menutupi langit.

Dalam perjalanan teriakan kacau dan air mata, Bahtiar yang berusia enam tahun hanya mampu memeluk ibunya dengan erat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menangis diam-diam, tubuhnya menggigil. Untuk saat ini ibunya berusaha mencari tau tempat yang aman di antara puing-puing.

Keributannya pada ketika itu sangat menakutkan. Ketika itu saya hanya ingin dipangku, tidak mau turun ke tanah,” kenang Bahtiar saat bercerita kepada Tribunnews, Senin 20 Oktober 2025.

Gempa yang terjadi pukul 05:55 WIB di pagi hari mengguncang Bantul sepanjang 57 detik, dikarenakan getaran yang terasa sampai Surabaya, sepanjang 330 km dari titik pusat gempa.

Dalam waktu kurang dari satu menit, berbagai bangunan seperti rumah, sekolah, tempat ibadah, pusat perbelanjaan, pasar, dan lainnya hancur whole.

Sebanyak 6.652 jiwa wafat. Jumlah penderita yang cukup besar membuat gempa dengan kekuatan 5,9 SR ini menjadi salah satu peristiwa paling mematikan pada abad ke-21, menurut BMKG.

Laporan BNPB menyebutkan, jumlah rumah yang merasakan kerusakan whole sebanyak 71.763, kerusakan berat sebanyak 71.372, dan kerusakan ringan sebanyak 66.359.

Rumah-rumah di Wukirsari merasakan kerusakan parah akibat gempa. Sejumlah besar keluarga kehilangan tempat tinggal mereka.

“Sekitar 80 persen rumah di sini hancur. Hanya rumah yang masih memakai anyaman bambu yang bangun, bahkan itu juga miring dan harus segera diberi penopang,” ujar Bahtiar yang kini berusia 26 tahun.

Wukirsari terletak 13 km dari Sungai Opak di Dusun Potrobayan, Pundong, Bantul, – lokasi yang menjadi pusat titik gempa.

Betapa hebatnya guncangan yang dirasakan di sana, bahkan dari jarak lebih dari 300 km getaran gempa masih terasa. Ini dia yang mungkin saja dikarenakan sejumlah besar rumah di sana rusak parah.

“Kami tinggal di bawah tenda terpal sepanjang hampir 11 bulan,” ujar Bahtiar.

Tetapi, siapa menyangka di balik gempa yang hebat itu terdapat makna penting, menjadi awal dari pemulihan Wukirsari.

Berbagai organisasi, baik pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM), hadir memberikan dukungan, menggabungkan upaya dengan harapan mampu memberikan dampak yang signifikan bagi Wukirsari.

Mereka mengeksplorasi potensi yang terdapat di desa tersebut sebagai dasar untuk kembali berdiri.

“Mayoritas ibu-ibu yang ditanya tentang pekerjaannya menjawab sebagai pembatik. Hal ini hal itu dianggap sebagai peluang yang besar,” kata Bahtiar.

Pengumpulan knowledge yang dilakukan setelah gempa pada masa itu, memperlihatkan sekitar 1200 perajin batik tulis di Wukirsari.

Mayoritas pengrajin batik tulis berasal dari dusun Giriloyo, Cengkehan, dan Karangkulon, tiga dari 16 dusun yang terdapat di Desa Wukirsari.

Mereka selanjutnya dibagi ke dalam kelompok untuk dapatkan bimbingan, diajarkan cara membuat batik yang berkualitas sampai siap dipasarkan.

Rasa mempunyai pengalaman serupa yang dirasakan setelah gempa, membuat warga Wukirsari bersatu untuk berdiri kembali.

“Setelah rumah-rumah diperbaiki dan proses penyembuhan trauma selesai, rutinitas membatik kembali berjalan. Sebelumnya seperti dalam keadaan mati suri,” ujar Bahtiar.

Sekitar setahun setelah gempa, pada 27 Mei 2007, warga Wukirsari melakukan sebuah inisiatif dengan membatik pada kain yang panjangnya 1.200 meter atau 1,2 kilometer.

Mulai dari anak-anak sampai ibu-ibu ikut serta dalam rutinitas tersebut. Aksi ini berhasil menciptakan rekor MURI untuk batik tulis terpanjang di seluruh Indonesia.

“Itu menjadi salah satu titik penting dalam bangkitnya batik di sini,” kata Bahtiar.

Pada tahun yang sama, Paguyuban Batik Giriloyo didirikan. Para pengrajin dan kelompok-kelompok batik mulai kembali beraktivitas dalam membatik.

Seiring berjalannya waktu, informasi mengenai Wukirsari yang mempunyai potensi batiknya terus dikembangkan. Berbagai kerja sama dengan pihak luar terus dibangun.

Tiga tahun kemudian, Wukirsari mempromosikan dirinya sebagai Desa Wisata dengan Kampung Batik Giriloyo sebagai objek utamanya.

Setelah 15 tahun beroperasi, Kampung Batik Giriloyo menjadi salah satu yang menyumbang keberhasilan Wukirsari meraih gelar Desa Wisata Terbaik Dunia 2024.

Bukan sembarang pencapaian, sebab penetapannya dilakukan oleh Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Country World Tourism Group/UMWTO).

Penghargaan tersebut merupakan kelanjutan dari prestasi sebelumnya, ketika Wukirsari terpilih sebagai Juara 1 Desa Wisata Maju dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Jejak Warisan Zaman Mataram

Sudah menjadi kebiasaan, nama suatu tempat tak henti-hentinya kali menggambarkan ciri khas geografis atau bentuk permukaan tanah daerah tersebut.

Baca Juga:  Berikut ini adalah waktu iOS 18 dan Apple Intelligence akan tersedia

Demikian pula di Wukirsari, yang berasal dari ujar “wukir” yang berarti gunung, dan “sari” yang berarti baik.

Mengingat itu, secara harfiah Wukirsari berarti daerah pegunungan yang indah.

Dan memang, desa ini terletak di ketinggian dengan bentuk dataran yang berbukit sedang, menyajikan pemandangan alam yang menakjubkan.

Wukirsari terdiri dari 16 lingkungan, dan di antaranya, tiga lingkungan yaitu Giriloyo, Cengkehan, dan Karangkulon menjadi pusat kehidupan desa ini.

Di tiga desa ini, nama Kampung Batik Giriloyo melekat sebagai pusat penghasil batik tulis tradisional yang masih bertahan sampai sementara itu.

Hampir setiap rumah di tiga dusun tersebut mendatanya kisah mengenai lilin panas, pola-pola tradisional, serta tangan-tangan perempuan yang teliti dan sabar menciptakan keindahan.

Nuh Ahmadi, Wakil Ketua Desa Wisata Wukirsari menyampaikan, asal usul batik di Wukirsari berawal ketika Kerajaan Mataram masih megah, khususnya saat Sultan Agung Hanyokrokusumo memerintah (1613-1645).

Salah satu perintah Raja ke-3 Kesultanan Mataram pada masa itu adalah membangun makam bagi dirinya serta keturunannya di wilayah Imogiri.

Secara ringkas, bukit Merak yang terletak di atas Kampung Batik Giriloyo di Wukirsari sementara itu dipilih sebagai lokasi pembangunan kompleks makam raja-raja Mataram.

Di situlah pada tahun 1632, makam raja-raja mulai dibangun dan menjadi awal masyarakat Wukirsari mengenal batik.

Setiap aktivitas yang dilakukan di kawasan makam, para pelayan dan bangsawan dari Kerajaan Mataram biasanya mengenakan pakaian batik.

Sebab permintaan kain batik yang sangat besar, pihak keraton mulai mencari tau pembatik untuk diangkat sebagai tenaga kerja.

Dua tahun setelah berawal pembangunannya, masyarakat sekitar kompleks makam mulai menerima switch pengetahuan tentang membatik.

“Keturunan kami dahulu sejumlah besar yang menjadi abdi dalem Keraton yang tugasnya merawat kawasan makam. Istri-istri abdi dalem ini kemudian diajarkan untuk membatik,” ujar Nur Ahmadi.

Budaya ini terus berlangsung dan ilmu membatik diungkapkan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya sepanjang ratusan tahun. Sampai tahun 1990-an, masyarakat sekitar makam masih melanjutkan rutinitas membatik.

Tetapi, mereka hanya menggambar motif pada kain putih, belum hingga menjadi kain batik yang utuh dan siap digunakan atau dijual.

Para pengrajin belum mengetahui cara mewarnainya, dengan begitu mereka tidak mampu menjualnya sendiri.

“Pembatik di sana ketika itu masih bekerja bagi para pemilik batik di pusat kota, menjual hasil yang belum selesai yang kemudian diperbaiki di sekitar daerah keraton,” kata Nur Ahmadi.

Akibatnya, pendapatan tetap sangat rendah, belum cukup untuk membahagiakan masyarakat.

Hanya pada tahun 2006, gempa besar Yogyakarta menjadi titik balik dalam pemulihan Wukirsari.

Menjadi Tempat Edu-Wisata 

Setahun setelah gempa tahun 2006, rutinitas membatik di Wukirsari kembali berjalan.

Setelah menerima bimbingan dari pihak luar, pengrajin batik yang sebelumnya hanya bekerja sebagai tenaga bantu dalam pembuatan batik setengah jadi kini mampu membuat sendiri secara mandiri sampai siap dipasarkan.

Tetapi, hambatan lain muncul. Masalah pemasaran menjadi kendala yang dihadapi para pengrajin batik.

Tidak semua kain batik yang dihasilkan bisa terjual secara langsung. Walaupun, proses pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama.

“Dapat memakan waktu sampai sebulan atau bahkan lebih untuk memberhentikan satu kain berukuran 3 x 5 meter,” kata Nur Ahmadi.

“Disisi berbeda, warga ini juga membutuhkan makanan untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga. Bagaimana cara bertahan andai penjualan batik tidak menentu,” tambahnya.

Mengenai harga, pada nyatanya cukup layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ketika dijual.

Dulunya, harga yang ditawarkan berkisar antara Rp100 ribu sampai Rp300 ribu. Sedangkan untuk sementara itu, harga berawal dari Rp500 ribu untuk motif sederhana, sampai sampai Rp2,5 juta untuk batik dua warna yang lebih rumit.

Tetapi sebab ketidakpastian dalam penjualan, hal ini dikarenakan para perajin terus merasa cemas.

Kumpulan pengrajin batik menjadi salah satu tempat untuk dapat mencari jalan keluar dari berbagai tantangan yang dihadapi para pembatik.

Muncul gagasan untuk menciptakan sebuah lokasi yang berbasis edutourism sekaligus sebagai tempat pelestarian batik.

Tentu, pada masa itu isu mengenai batik ini cukup menarik fokus perhatian sebab beberapa negara mengklaimnya sebagai warisan tradisi mereka.

Pada tanggal 2 Oktober 2009, Batik terlepas dari segalanya diakui sebagai warisan tradisi tak perabot yang dimiliki oleh Indonesia.

Pernyataan ini diakui oleh UNESCO, organisasi PBB yang membuat spesialisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, pengakuan yang terlepas dari segalanya memberhentikan perdebatan yang melibatkan beberapa negara.

Dari sana terlepas dari segalanya muncul gagasan untuk menjadikan Wukirsari sebagai Desa Wisata dan mengembangkan Kampung Batik Giriloyo sebagai pusat Eduwisata serta Pelestarian Tradisi benar-benar terealisasi.

Baca Juga:  Harga Pajak Toyota Calya 2025: Cara Menghitungnya

“Rutinitas membatik tetap berlangsung di rumah-rumah penduduk. Tetapi kita juga sedang mengembangkan sebuah destinasi wisata edukasi mengenai batik,” kata Nur Ahmadi.

Dengan berkembangnya Kampung Batik Giriloyo, para pengunjung bisa merasakan langsung proses membatik dengan bimbingan dari para ahlinya.

Harga paket wisata sementara itu hanya memerlukan pembayaran sebesar Rp250 ribu. Paket ini bisa digunakan oleh lima orang, dan nantinya akan dapatkan kain berukuran 30×30 cm untuk keperluan membatik.

Kelak, pengunjung juga bisa membawa pulang karya batik yang telah selesai dibuat.

Nur Ahmadi menceritakan, pada awal pembentukan Desa Wisata, jumlah kunjungan ke Kampung Batik Giriloyo masih rendah.

“Beberapa hari ini ada kunjungan, besok kosong, terkadang juga seminggu sekali atau dua kali. Bahkan pernah sebulan lamanya kosong,” ungkapnya.

Tetapi dia tidak menyerah dengan begitu saja. Berkat usaha keras dan kesadaran bersama dari pengurus lainnya, kini mereka menikmati hasilnya,

Peningkatan jumlah pengunjung wisata terus terjadi setiap tahun. Tahun 2019, jumlah kunjungan wisata sampai 29.000 orang.

“Tetapi ketika wabah menyebar, jumlah wisatawan merasakan penurunan yang signifikan. Pada tahun 2020 terjadi penurunan yang mencolok, dan pada 2021 pengunjungnya sangat minim,” kata Nur Ahmadi.

Hanya pada tahun 2022, kunjungan ke Wukirsari kembali ramai, dengan jumlah pengunjung sampai 24.500 orang dalam tahun tersebut.

Angka ini terus meningkat, pada tahun 2023 sebanyak 41 ribu dan tahun 2024 sampai 45 ribu pengunjung yang datang ke Wukirsari.

“Awalnya, sejumlah besar orang tidak yakin. Mereka menganggapnya hanya sebagai alat untuk dapat mencari bantuan,” kata Nur Ahmadi.

“Kami menjawabnya bukan melalui ucapan, melainkan melalui tindakan. Andai menjawab dengan kata-kata justru akan memicu perselisihan,” tambahnya.

“Kami tunjukkan. Lho… ini lhoo… hasilnya, ada sebanyak ini kunjungan, pendapatannya sejumlah itu, yang diterima masyarakat sebanyak itu,” ungkapnya dengan semangat.

Jumlah pengunjung yang datang dikarenakan arus uang di Wukirsari sampai ratusan juta setiap bulannya.

Hitung saja, andai para wisatawan untuk membuat pilihan paket membatik dengan harga minimum Rp50 ribu consistent with orang, dan terdapat 4 ribu peserta dalam sebulan, maka uang yang beredar sampai Rp200 juta.

Sekarang, di Desa Batik Giriloyo, terdapat toko pameran, ruang rapat, galeri batik, serta gazebo-gazebo yang digunakan sebagai tempat untuk belajar membatik.

Lokasi ini menjadi pusat kumpulnya aktivitas ekonomi dan pariwisata yang dilakukan oleh warga dan pelaku industri wisata.

Masyarakat Rasakan Dampaknya

Kisah gempa yang terjadi pada tahun 2006 sudah hampir sepuluh tahun lalu masih tersimpan dalam ingatan warga Wukirsari. Tetapi kini tak ada lagi rasa sedih, yang tersisa hanyalah rasa terima kasih.

Pemandangan ketika rumah-rumah rusak, kini berubah menjadi kedatangan pengunjung wisatawan yang datang hampir setiap hari.

Sejak tahun 2021, Paguyuban yang dibentuk setelah gempa kini telah berubah menjadi koperasi dan mengelola 12 kelompok pembatik.

Setiap kelompok mempunyai anggota masing-masing, dan seluruhnya tergabung dalam satu wadah agar tidak terjadi persaingan yang tidak sehat antar-pembatik.

Melalui organisasi koperasi ini, seluruh rutinitas pariwisata—mulai dari jadwal kunjungan, pelatihan membatik, sampai pemasaran barang—dikelola dengan rapi dan terencana.

Peningkatan kunjungan wisata ini juga memberikan dampak kepada masyarakat, Giyanti (49) dan Istijanah (56) adalah dua di antaranya.

Sejak era 1980-an, Giyanti dan Istijanah telah menguasai seni membatik. Mereka mulai belajar membatik dari ibu mereka ketika masih kecil.

Dulunya, mereka hanya pekerja batik yang bekerja dari pagi sampai malam dengan gaji yang tidak begitu besar.

Kini, seiring dengan perkembangan Kampung Batik, mereka juga berperan sebagai pendidik tradisi, atau dalam istilah yang lebih trendy, menjadi pandu wisata.

Setidak-tidaknya, setiap lima wisatawan yang datang untuk belajar membatik akan didampingi oleh satu perajin.

“Sekarang alhamdulillah, tidak lagi menjadi pekerja. Terkadang kami juga menemani wisatawan, bahkan mereka membeli langsung dari sini,” ujar Istijanah (56).

Dari satu sesi rutinitas mendampingi turis, mereka bisa memperoleh penghasilan tambahan sebesar Rp35.000 sampai Rp40.000.

“Pada satu hari dapat ada satu sesi pendampingan, terkadang dua. Atau andai sedang ramai tiga sesi. Tinggal dikalikan saja sesi sebelumnya,” ungkapnya.

Pemandu wisata ini berputar-putar. Mengenai jadwal siapa yang bertugas ditentukan oleh pengurus paguyuban batik yang telah membentuk koperasi sebelumnya.

Sambil menunggu kain batik kering setelah dijemur, kami bisa ikut mengajak para wisatawan berkeliling. Setelah itu, kami melanjutkan proses membatik di rumah,” tambahnya.

Baca Juga:  iPhone SE 4 juga akan memakai layar LG OLED

Untuk Istijanah dan Giyanti, setiap kedatangan pengunjung bukan hanya peluang ekonomi.

Selain itu, mereka merasa menjadi bagian dari tujuan yang lebih besar sekali: menjaga api warisan batik tulis agar tetap menyala.

Giyanti menyampaikan, kami membantu menjelaskan sejarah batik, cara pembuatannya, serta maknanya. Jadi bukan hanya mengajar, namun juga mengumumkan tradisi.

Bahagia sepertinya lihat orang asing belajar dengan penuh antusias,” kata Giyanti, tersenyum.

“Mereka mungkin saja datang untuk berwisata, namun pulangnya membawa kisah mengenai Batik dan tradisi di sini,” tambahnya.

Tidak hanya para pengrajin batik yang dapatkan manfaat positif, tetapi juga mereka yang mahir di bidang lain mengalaminya.

Orang yang mampu memasak kita libatkan dalam bekerja di bagian dapur untuk menyiapkan hidangan.

“Orang yang suka membersihkan rumah, fokus pada tempat penginapan. Yang senang berdagang, menjual memento,” kata Nur Ahmadi.

Ada 12 penginapan homestay di Wukirsari yang bisa menjadi pilihan akomodasi bagi para wisatawan.

Warga Wukirsari telah memperlihatkan, melalui upaya untuk menggabungkan langkahnya, mampu menciptakan dampak yang berkelanjutan.

Maka Desa Wisata Terbaik di Dunia

Selain kain batik, di Desa Wisata Wukirsari juga terdapat potensi ekonomi kreatif lainnya.

Di Desa Pucung, para pengrajin tetap setia menjaga seni tatah sungging, keterampilan pembuatan wayang kulit yang diwariskan secara turun-temurun.

Dari sudut pandang lain, penduduk memproses teh gurah yang diyakini sebagai penyembuh untuk gangguan pernapasan, serta menyajikan minuman tradisional seperti wedang uwuh yang bisa menghangatkan tubuh.

Di puncak bukit, terdapat kawasan makam raja-raja Mataram yang memberikan nuansa religious dan keagamaan bagi para pengunjung.

Seluruh potensi tersebut berkumpul dalam satu visi, menjadikan Wukirsari sebagai desa wisata yang berkembang dari masyarakat untuk masyarakat.

Pengelolaan pariwisata dilakukan dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis masyarakat (community-based tourism), di mana penduduk menjadi pelaku utama dalam setiap tahapan pembangunan.

Hampir separuh dari 18.300 penduduknya bergantung pada sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) serta pariwisata.

Usaha tersebut berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi, dengan begitu menjadikan desa ini sebagai contoh nyata bagaimana budaya bisa berjalan selaras dengan kesejahteraan.

Tidak mengherankan, desa yang menjadi bagian dari Desa Sejahtera Astra (DSA) pada tahun 2024 ini diakui sebagai Desa Wisata Terbaik Dunia oleh Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO).

Penghargaan tersebut bukan hanya apresiasi terhadap kecantikan batik, namun juga pengakuan terhadap keberhasilan masyarakat dalam melestarikan warisan, berinovasi, serta saling memberi dorongan untuk di tanah yang kaya akan sejarah — tempat tinggal para raja Mataram.

Penghargaan tersebut diperoleh pada tahun 2024, setahun setelah Wukirasi memenangkan juara pertama dalam Anugerah Wisata Indonesia (ADWI) 2023 kategori Desa Wisata Maju dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Pencapaian itu pantas diucapkan terima kasih. Tetapi menurut Nur Ahmadi, sejumlah penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhir.

“Juara yang diraih ini hanyalah tambahan. Kami menganggapnya sebagai kemenangan ketika masyarakat kami mengalami manfaat dari adanya pariwisata,” ungkapnya.

Tantangan Regenerasi Pembatik

Sekarang, semangat Kampung Batik Giriloyo memang terasa hidup. Pengunjung datang bergantian, para pengrajin batik bekerja sambil berbagi ilmu, dan perekonomian masyarakat semakin berkembang.

Tetapi di balik kegembiraan tersebut, muncul kekhawatiran yang tak henti-hentinya diungkapkan oleh para pengrajin: siapa yang akan melanjutkan budaya ini di masa depan?

Jumlah pengrajin batik di Wukirsari kini telah menurun signifikan, hanya tersisa 640 pengrajin, setengah dari jumlah yang ada dua puluh tahun lalu.

Mayoritas pengrajin batik di Giriloyo sementara itu adalah wanita, dengan rata-rata usia melebihi 30 tahun.

Mereka besar bersama dengan batik sejak kecil, dengan begitu menjadi napas kehidupan dan sumber penghidupan.

Tetapi dengan perkembangan zaman dan meningkatnya tingkat pendidikan, anak-anak mereka mulai mengambil jalan yang berbeda.

“Kami juga merasa khawatir. Pembatik di sini sudah tua. Untuk saat ini yang muda lebih untuk membuat pilihan bekerja di pabrik atau kantor di kota itu,” kata Istijanah.

Perubahan ini menjadi tantangan yang baru. Di satu sisi, kemajuan pendidikan merupakan hasil dari perkembangan kesejahteraan.

Tetapi disisi berbeda, hal ini juga bisa menimbulkan dampak: menurunnya generasi penerus pengrajin batik tulis.

Meski demikian demikian, berdasarkan kejadian yang terjadi sebelumnya, warga yang sudah mempunyai keluarga dan tidak bekerja di kantor atau pabrik akan mengikuti jejak leluhurnya dengan menjadi pengrajin batik.

“Harapannya nanti tetap ada yang melanjutkan. Jangan hingga ditinggalkan, jangan hingga kehilangan warisan ini,” ungkapnya.

(AdinJava/Tio)



Berita Terkait

10 Lodge Terbaik Dekat Danau Toba untuk Liburan Santai 2025
Orang Tunggu Sendiri Patuh 8 Aturan Kuat Ini, Menurut Psikologi
Daftar 8 Tim Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia U17 2025, Apakah Timnas Indonesia Dapat Ikut?
Mengapa Fairing Motor Sport 150 Kini Menghilang dari Showroom?
Kucing Dapat Alami Demensia! 8 Tanda yang Perlu Diwaspadai
Ban Lebih Lebar: Manfaat dan Risikonya
Jawa Timur Juara Nusantaraya di ICCF 2025, Buktikan Kepemimpinan Ekonomi Kreatif Nasional
Andai Tidak Dapat Lakukan 8 Hal Ini, Anda Mungkin saja Tua Lebih Cepat, Tutur Psikologi

Berita Terkait

Rabu, 10 Desember 2025 - 23:59 WIB

10 Lodge Terbaik Dekat Danau Toba untuk Liburan Santai 2025

Rabu, 10 Desember 2025 - 23:14 WIB

Orang Tunggu Sendiri Patuh 8 Aturan Kuat Ini, Menurut Psikologi

Rabu, 10 Desember 2025 - 21:44 WIB

Daftar 8 Tim Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia U17 2025, Apakah Timnas Indonesia Dapat Ikut?

Rabu, 10 Desember 2025 - 20:59 WIB

Mengapa Fairing Motor Sport 150 Kini Menghilang dari Showroom?

Rabu, 10 Desember 2025 - 19:29 WIB

Kucing Dapat Alami Demensia! 8 Tanda yang Perlu Diwaspadai

Berita Terbaru