SEKITARKITA.id – Ketika harga kebutuhan pokok terus menekan, sementara daya beli masyarakat kian terbatas, bantuan yang menyentuh langsung kebutuhan sehari-hari menjadi semakin penting.
Situasi itulah yang coba dijawab DPC PKB Kabupaten Bandung Barat dengan menggelar Pasar Murah di kawasan Situ Ciburuy, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Minggu, 9 Agustus 2026.
Digelar bertepatan dengan Harlah PKB ke-28, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni partai. Pasar Murah menjadi cara PKB Bandung Barat merespons persoalan ekonomi yang paling dekat dengan masyarakat, yakni mahalnya kebutuhan pangan dan menyempitnya kemampuan belanja rumah tangga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua DPW PKB Jawa Barat, Syaiful Huda, mengatakan tekanan ekonomi saat ini cukup berat, terutama bagi masyarakat kelompok rentan.
Ia menyinggung nilai tukar dolar yang disebut telah mencapai Rp17.801. Kondisi tersebut, menurutnya, ikut memberikan tekanan terhadap harga sejumlah kebutuhan primer.
“Tujuannya tidak lain untuk meringankan beban masyarakat di tengah tekanan ekonomi yang berat, baik bagi kalangan menengah apalagi kalangan masyarakat rentan,” ungkap Syaiful kepada wartawan saat ditemui di lokasi.
Menurut Syaiful, persoalan daya beli masyarakat tidak bisa hanya dilihat melalui angka pertumbuhan ekonomi. Sebab, ukuran paling nyata justru terasa ketika masyarakat berhadapan dengan harga beras, minyak goreng dan kebutuhan harian lainnya.
Ketika harga naik sementara pendapatan tidak ikut bertambah, masyarakat dipaksa mengencangkan ikat pinggang.
Belanja yang sebelumnya bisa dipenuhi dengan leluasa mulai dihitung ulang. Mana yang wajib dibeli, mana yang bisa ditunda, bahkan mana yang harus dicoret sama sekali.
“Di titik inilah pasar murah menjadi relevan sebagai bantuan jangka pendek,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPC PKB Kabupaten Bandung Barat, Sandi Supyandi, mengatakan Pasar Murah di Situ Ciburuy menyediakan beras 5 kilogram dan minyak goreng 1 liter.
Menurutnya, program tersebut tidak berhenti di satu lokasi. PKB Bandung Barat berencana membawa kegiatan serupa ke sejumlah wilayah lainnya.
“Kegiatan Pasar Murah akan berkelanjutan, tidak hanya dilaksanakan bagi masyarakat Situ Ciburuy saja, melainkan bagi masyarakat lainnya di daerah lainnya di Bandung Barat,” kata Sandi.
Sandi mengungkapkan, harga beras saat ini berkisar Rp15 ribu hingga Rp19 ribu per kilogram, tergantung jenis medium hingga premium.
Sementara minyak goreng berada di kisaran Rp18.200 hingga Rp18.400 per liter. Untuk minyak goreng kemasan premium, harganya rata-rata mencapai Rp23.000 hingga Rp26.500 per liter.
Sedangkan minyak goreng curah berada pada kisaran Rp19.400 hingga Rp20.500 per liter.
Bagi sebagian masyarakat, angka tersebut bukan sekadar statistik harga. Setiap kenaikan berarti berkurangnya kemampuan membeli kebutuhan lain.
“Angka tersebut memperlihatkan bagaimana kebutuhan paling dasar tetap menjadi persoalan bagi sebagian masyarakat ketika daya beli mengalami tekanan,” ujarnya.
Sandi menilai tekanan ekonomi masyarakat tidak berhenti pada kebutuhan primer.
Ketika kebutuhan pangan menyedot lebih banyak pendapatan, kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan hingga perbaikan rumah ikut berpotensi terdampak.
Karena itu, PKB KBB tidak ingin pelayanan sosial hanya berhenti pada Pasar Murah.
Sejumlah program lain turut didorong, mulai dari penyediaan ambulans atau mobil siaga, bantuan beasiswa untuk semua jenjang pendidikan, hingga bantuan bagi masyarakat yang tinggal di rumah tidak layak huni.
“Rangkaian program itu menunjukkan upaya kami, PKB KBB membangun pola pelayanan yang tidak hanya berorientasi pada satu jenis bantuan,” tegas Sandi.
“Di titik inilah fungsi partai politik diuji,” sambungnya.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan partai ketika memasuki tahun politik atau saat suara rakyat diperlukan dalam kontestasi elektoral.
Persoalan harga pangan, biaya pendidikan, akses kesehatan dan rumah tidak layak justru merupakan masalah yang dihadapi warga setiap hari.
Sandi menegaskan, pelayanan sosial yang dilakukan PKB KBB tidak dimaksudkan sekadar mengejar popularitas maupun pencitraan.
Menurutnya, membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan merupakan bagian dari semangat kemanusiaan dan gotong royong.
“Yang kami lakukan sebagai bentuk kemanusiaan yang harus bisa saling membantu, saling meringankan. Apalagi yang sedang dalam kondisi kesulitan sehingga itu menjadi kewajiban kami untuk turun membantu sebisa kami,” tuturnya.
Program Pasar Murah PKB Bandung Barat tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Desa Ciburuy.
Kepala Desa Ciburuy, Firmansyah, mengatakan kehadiran Pasar Murah di wilayahnya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama di tengah kondisi harga kebutuhan pokok yang masih menjadi perhatian warga.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada jajaran PKB, baik tingkat Jawa Barat maupun Kabupaten Bandung Barat, yang telah memilih Situ Ciburuy sebagai salah satu lokasi pelaksanaan program tersebut.
“Terima kasih jajaran pengurus PKB, mulai dari tingkat Jawa Barat maupun Bandung Barat. Ini sangat membantu masyarakat kami,” ujar Firmansyah.
Menurutnya, kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat seperti Pasar Murah menjadi salah satu bentuk kepedulian yang dapat dirasakan warga secara langsung.
Pasar Murah di Situ Ciburuy akhirnya menjadi lebih dari sekadar aktivitas menyediakan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Di tengah tekanan ekonomi, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa politik seharusnya tidak berjarak dengan persoalan rakyat.
Sebab, bagi masyarakat yang sedang menghitung uang belanja hingga rupiah terakhir, ukuran politik bukan seberapa sering politisi berbicara tentang rakyat.
“Ukuran sederhananya adalah ketika rakyat kesulitan, siapa yang benar-benar datang membantu?,” ujarnya.
Melalui Pasar Murah di Situ Ciburuy, PKB Bandung Barat mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan turun langsung ke tengah masyarakat.
Namun, pasar murah tetap merupakan solusi jangka pendek. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana daya beli masyarakat dapat kembali kuat, pendapatan meningkat, lapangan kerja tersedia, dan kebutuhan pokok tetap terjangkau.
“Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan harga murah sesaat. Mereka membutuhkan kehidupan yang secara perlahan menjadi lebih ringan dan lebih layak,” tandasnya.







