Mahir Psikologi Forensik Soroti Dugaan Perundungan di Tragedi Ledakan SMAN 72 Jakarta: Terlambat Mencegah

- Penulis

Sabtu, 29 November 2025 - 06:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AdinJavaInsiden ledakan di SMAN 72 Jakarta yang diduga dilakukan oleh seorang siswa bernama FN mendapat perhatian dari Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel.

Reza Indragiri menyampaikan bahwa telah ada dugaan bullying yang dialami oleh tersangka pelaku, dengan begitu diduga menjadi alasan di balik tindakan nekatnya.

Kemudian, Pakar Psikologi Forensik tersebut menyentuh tentang kurangnya penanganan bullying.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelumnya dilaporkan, tersangka ledakan telah diketahui, yaitu seorang siswa kelas XII SMAN 72 Jakarta dengan inisial FN.

Berdasarkan keterangan saksi yang mengenal kebiasaan FN, ia menjadi penderita perundungan.

Di balik kejadian ledakan di SMAN 72 Jakarta, muncul fakta yang mengejutkan bahwa bullying masih menjadi isu yang terus menerus diabaikan.

Menurut Reza, setiap insiden semacam ini selalu berawal dari pola yang serupa, yaitu anak yang merasa diabaikan, suara yang tidak didengarkan, serta lingkungan yang untuk membuat pilihan untuk diam.

Ia menyampaikan, kelemahan sistem deteksi dini di sekolah serta kurangnya empati sosial dikarenakan kasus bullying terus terjadi sampai berujung pada tindakan ekstrem.

“Penderita bullying adalah seseorang yang merasakan tindakan kasar, menyakiti, atau merendahkan secara terus-menerus oleh orang lain, baik secara fisik, lisan, sosial, maupun melalui media virtual (cyberbullying),” katanya, dikutip dari Tribunnews, Sabtu (8/11/2025).

Baca Juga:  Semua style seri Samsung Galaxy S25 akan ditenagai oleh SoC Snapdragon 8 Gen 4

Kehadiran tragedi ini, menurut Reza, menjadi bukti keterlambatan dalam menangani isu bullying di sekolah.

“Saya perlu mengungkapkan bahwa kejadian di SMAN 72 merupakan bukti tambahan mengenai bagaimana kita kembali terlambat menangani tindak kekerasan,” ujarnya.

Menurutnya, keterlambatan tersebut dikarenakan penderita, setelah merasakan penderitaan lama, terlepas dari segalanya berjuang sendirian dan dalam sekejap berubah statusnya menjadi pelaku kekerasan, pelaku kekejaman, serta gelar-gelar serupa lainnya.

Penderita bullying merasakan viktimisasi 

Reza Indragiri menyoroti bahwa penderita bullying terus menerus merasakan penganiayaan yang berulang.

Pengalaman menjadi penderita terjadi ketika seseorang menderita akibat tindakan orang lain, baik secara fisik, psychological, sosial, maupun hukum.

Penganiayaan pertama terjadi ketika dia diintimidasi oleh teman-temannya, kemudian yang kedua terjadi saat penderita berusaha meminta bantuan.

“Bantuan seharusnya diberikan oleh pihak yang berwenang, tetapi para penderita justru diabaikan, masalahnya dianggap biasa dan tidak serius, mereka dipaksa bertahan serta hanya diminta berdoa, dan seterusnya,” tutur Reza Indragiri.

“Andai mereka melaporkan ke polisi, misalkan saja, polisi mungkin saja memaksa penderita untuk memaafkan pelaku dan menyebutnya secara sederhana sebagai keadilan restoratif,” tambahnya.

Baca Juga:  Sertifikat Profesional dalam Analisis Knowledge dan Webinar Genai

Dengan begitu, terjadilah viktimisasi ketiga.

Puncak penderitaan para penderita: penganiayaan terhadap diri sendiri atau penganiayaan terhadap orang lain.

“Belum sempat kita memberikan bantuan kepadanya sebagai penderita, justru hukuman keras yang tampaknya sebentar lagi akan kita berikan kepadanya sebagai pelaku. Menyedihkan, menggugah,” ujarnya.

Sosok Pelaku

Tokoh yang terlibat dalam ledakan di SMAN 72 Jakarta, Jumat (7/11/2025), diduga adalah seorang siswa kelas XII dari sekolah tersebut.

Hal tersebut didasarkan pada keterangan ZA, siswa kelas XI SMAN 72 kepada TribunJakarta.

Kerap Dibully

ZA menyampaikan, tersangka pelaku, dengan inisial F, dikenal sebagai seseorang yang terus menerus menjadi penderita ejekan.

Ia selalu tampak sendirian, dengan gaya khasnya yang mengenakan jas putih.

Anak penderita bullying di sekolah, selalu kesepian setiap kali bepergian ke mana-mana.

“Terus dia terus menerus mengenakan jas putih, ya seperti itu,” tutur ZA.

Motif Balas Dendam

F diduga membuat bom sendiri dan meledakkannya sebagai balasan dendam terhadap para pelaku bullying.

“Inginkan balas dendam kepada para penderita, seperti ingin menuntut pembully namun malah menyerang semua orang,” tutur ZA.

Baca Juga:  Bupati Tanggamus Raih Penghargaan TVOne, Bukti Kepemimpinan dan Inovasi Luar Biasa

3 Ledakan

ZA juga menyampaikan, ledakan terjadi tidak hanya sekali, namun tiga kali di tempat yang berbeda.

“Ujarnya dia membuat bom sendiri, lalu mengawasi penghitung waktunya di tiga lokasi, yang pertama di mushola, kedua di kantin, ketiga di tempat kumpul anak-anak,” tutur ZA.

ZA sendiri merasakan langsung ledakan yang diduga berasal dari bom buatan sendiri.

Terdapat tiga ledakan yang terjadi di lokasi berbeda, berawal dari mushola.

Pertama kali saya masuk ke musala itu. Saat saya berlari mencari tau, ada yang kedua, ada yang ketiga,” ujarnya.

Foto Terduga Pelaku Beredar

ZA juga membenarkan bahwa foto yang beredar dengan posisi tergeletak berlumuran darah dan senjata di sekitarnya, adalah tersangka.

“Itu adalah tersangka pelaku,” tutur ZA.

“Ia berada di lokasi belakang kantin,” lanjut ZA menjelaskan lokasi foto terduga pelaku.

Artikel ini telah tayang di TribunJakarta.com dengan judul “Kita Terlambat” Psikolog Mengkritik Penanganan Bullying yang Kurang Memadai, Tragedi SMAN 72 Menjadi Gambaran Gelap



Berita Terkait

10 Lodge Terbaik Dekat Danau Toba untuk Liburan Santai 2025
Orang Tunggu Sendiri Patuh 8 Aturan Kuat Ini, Menurut Psikologi
Daftar 8 Tim Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia U17 2025, Apakah Timnas Indonesia Dapat Ikut?
Mengapa Fairing Motor Sport 150 Kini Menghilang dari Showroom?
Kucing Dapat Alami Demensia! 8 Tanda yang Perlu Diwaspadai
Ban Lebih Lebar: Manfaat dan Risikonya
Jawa Timur Juara Nusantaraya di ICCF 2025, Buktikan Kepemimpinan Ekonomi Kreatif Nasional
Andai Tidak Dapat Lakukan 8 Hal Ini, Anda Mungkin saja Tua Lebih Cepat, Tutur Psikologi

Berita Terkait

Rabu, 10 Desember 2025 - 23:59 WIB

10 Lodge Terbaik Dekat Danau Toba untuk Liburan Santai 2025

Rabu, 10 Desember 2025 - 23:14 WIB

Orang Tunggu Sendiri Patuh 8 Aturan Kuat Ini, Menurut Psikologi

Rabu, 10 Desember 2025 - 21:44 WIB

Daftar 8 Tim Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia U17 2025, Apakah Timnas Indonesia Dapat Ikut?

Rabu, 10 Desember 2025 - 20:59 WIB

Mengapa Fairing Motor Sport 150 Kini Menghilang dari Showroom?

Rabu, 10 Desember 2025 - 19:29 WIB

Kucing Dapat Alami Demensia! 8 Tanda yang Perlu Diwaspadai

Berita Terbaru

Tim INAFIS Polres Cimahi lakukan olah TKP penemuan jenazah di Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah (foto: Abdul Kholilulloh)

Bandung Barat

Pria di Ngamprah Ditemukan Tewas Tergantung, Polisi Olah TKP 

Senin, 8 Jun 2026 - 21:52 WIB

Pantauan kendaraan melalui teknologi canggih CCTV ATCS Dishub KBB (foto: Abdul Kholilulloh)

Bandung Barat

Libur Akhir Pekan di Bandung Barat, Dishub Gunakan Teknologi ATCS

Minggu, 7 Jun 2026 - 15:45 WIB