Helm complete face dikenal sebagai jenis helm yang paling aman dan menutupi seluruh bagian kepala serta wajah. Tetapi, dengan jumlah besar pengendara mengeluhkan masih masuknya debu, asap, atau bau knalpot ke dalam helm, khususnya saat berkendara di jalan yang ramai atau berdebu. Keadaan ini tentu mengganggu kenyamanan, terlebih bagi mereka yang tak henti-hentinya melakukan antar-jemput jauh setiap hari.
Meski tampak tertutup sempurna, helm complete face mempunyai beberapa celah kecil yang dirancang untuk ventilasi dan kenyamanan pengendara. Celah-celah ini tak henti-hentinya menjadi jalur masuknya udara kotor, terutama saat berkendara di lokasi belakang kendaraan besar atau melewati enviornment berdebu. Untuk memahami penyebabnya, mari kita bahas beberapa faktor utama mengapa debu dan asap masih dapat masuk ke dalam helm complete face.
1. Sistem sirkulasi udara pada helm yang mengalirkan udara dari luar ruangan
Salah satu faktor utama yang dikarenakan debu masuk ke dalam helm complete face adalah sistem ventilasi yang dibuat untuk menjaga sirkulasi udara. Ventilasi umumnya terletak di bagian dagu, atas kepala, dan belakang helm. Saat berkendara, udara luar memasuki melalui lubang tersebut agar kaca visor tidak berembun dan kepala tidak terlalu panas. Tetapi, di jalan yang berdebu atau macet, udara yang masuk tak henti-hentinya kali membawa partikel halus, asap kendaraan, atau bahkan bau dari knalpot sekitar.
Sistem ventilasi pada helm memang tidak dapat dihindari sebab sangat penting untuk kenyamanan pengendara. Beberapa helm mewah sudah dilengkapi dengan clear out udara tipis atau desain ventilasi bertingkat yang bertujuan mengurangi masuknya debu. Tetapi, pada helm berdesain biasa, lubang ventilasi umumnya terbuka langsung tanpa adanya penyaring, dengan begitu partikel kecil masih dapat masuk bersama udara.
2. Celah pada enviornment visor dan bantalan wajah
Selain sistem sirkulasi udara, celah kecil di sekitar visor atau bantalan wajah juga bisa menjadi jalur masuknya udara yang tidak bersih. Visor yang telah mengendur akibat penggunaan dalam jangka waktu lama tak henti-hentinya kali tidak menutup dengan rapat, dengan begitu ketika kamu berada di lokasi belakang kendaraan lain, knalpot dan debu dapat langsung masuk ke dalam helm. Demikian pula dengan bagian bantalan pipi atau busa di dagu — andai sudah mengempis, akan terbentuk celah kecil yang sulit terlihat namun cukup untuk dilewati udara luar.
Selain itu, ketika kamu minim membuka visor untuk mengurangi rasa panas, udara yang masuk melalui celah tersebut juga dapat membawa debu. Meski demikian hanya minim dibuka, dampaknya cukup terasa khususnya di jalan yang berdebu atau saat berkendara di tengah malam dengan kondisi lalu lintas yang padat. Untuk itu, penting untuk secara rutin memeriksa kekencangan visor dan merubah busa helm yang sudah rusak agar tetap menutup rapat.
3. Metode mengurangi masuknya debu dan asap ke dalam helm
Untuk mengurangi debu dan asap yang masuk ke dalam helm complete face, terdapat beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan. Pertama, pastikan selalu ventilasi helm dalam keadaan bersih — bersihkan lubang ventilasi dari debu yang menumpuk agar sirkulasi tetap lancar tanpa tersumbat sebagian. Kedua, gunakan masker balaclava atau buff di dalam helm, sebab selain membantu menyaring udara, juga mempertahankan kebersihan bagian dalam helm.
Andai kamu tak henti-hentinya berkendara di daerah yang mempunyai tingkat polusi tinggi, pertimbangkan untuk menggunakan helm yang dilengkapi sistem clear out udara atau ventilasi yang dapat dikunci rapat. Selain itu, jagalah visor dengan baik agar selalu menutup sempurna, dan jangan lupa membersihkan bagian busa helm secara rutin. Helm yang terjaga kebersihannya tidak hanya nyaman digunakan, namun juga lebih efektif dalam melindungi kamu dari debu dan asap di jalan raya.
Helm Fullface Vs Helm Part Face: Yang Lebih Nyaman untuk Penggunaan Harian?








