Dalam setiap pembicaraan mengenai makanan, selalu ada satu bahan yang menjadi sasaran kritik: MSG. Dengan jumlah besar orang langsung merespons secara negatif ketika mendengar istilah ini. Beberapa merasa cemas, sementara waktu yang lain untuk membuat pilihan untuk menghindar. MSG hal itu dianggap sebagai penyebab berbagai penyakit, pemicu cancer, bahkan hal itu dianggap sebagai simbol dari makanan yang tidak sehat. Tetapi di balik persepsi negatif tersebut, ada satu hal yang tak henti-hentinya terabaikan, yaitu bahwa MSG pada nyatanya yaitu bagian dari kehidupan kita sendiri. Ia bukan bahan asing yang diciptakan di laboratorium, melainkan turunan dari zat alami yang sudah ada dalam makanan sejak lama.
Beberapa waktu silam, saya membaca sebuah komentar di media sosial yang menarik fokus perhatian saya. Seseorang menceritakan pengalamannya sebagai seseorang yang selamat dari cancer setelah menjalani operasi dan kemoterapi. Orang tersebut menyampaikan bahwa setelah masa pemulihan, tubuhnya menjadi sangat rentan terhadap makanan yang mengandung MSG. Setiap kali mengonsumsi makanan dengan kadar MSG tinggi, ia mengalami sensasi nyeri berdenyut di arena bekas tumor. Cerita ini mendapat sejumlah besar perhatian. Dengan jumlah besar warganet yang kemudian menghubungkannya dengan keyakinan bahwa MSG berbahaya dan dapat memperparah kondisi tubuh. Tetapi yang membuat saya terdiam bukan isi pengakuan itu, melainkan bagaimana orang-orang begitu cepat yakin tanpa mencari tau tahu lebih jauh.
Sebetulnya tidak ada penjelasan mengenai jenis makanan yang dikonsumsi, cara memasaknya, atau bahan lain yang mungkin saja terlibat. Memungkinkan hanya ada satu kesimpulan singkat yang menyebutkan bahwa MSG adalah penyebabnya. Dari sana muncul kekhawatiran saya. Saya mulai berpikir bahwa kita tak henti-hentinya kali lebih mudah yakin pada cerita yang terdengar meyakinkan daripada pada penjelasan ilmiah yang membutuhkan waktu untuk dimengerti. Kekhawatiran ini berkembang menjadi keinginan untuk menjelaskan kembali bagaimana pada nyatanya ilmu pengetahuan lihat MSG. Mengingat banyaknya informasi di media sosial, ketakutan justru lebih cepat menyebar dibandingkan kebenaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Memahami Apa Itu MSG
Monosodium glutamat atau MSG, micin, vetsin bukanlah zat kimia asing yang berbahaya. Micin merupakan bentuk garam dari asam glutamat, salah satu dari 20 asam amino penyusun protein yang secara alami ada dalam tubuh manusia serta berbagai bahan makanan. Asam glutamat juga termasuk salah satu neurotransmiter penting di otak, yang berfungsi dalam proses komunikasi antar sel saraf. Dengan ujar lain, tubuh kita sudah mengenal glutamat sejak awal kehidupan. Kita tidak mungkin saja bisa hidup tanpa asam amino ini.
Penggunaan MSG berawal pada tahun 1908 ketika seorang ilmuwan Jepang bernama Kikunae Ikeda menemukan bahwa kaldu dari rumput laut kombu mempunyai rasa unik yang tidak termasuk dalam empat rasa dasar, yaitu manis, asin, asam, dan pahit. Ia menyebut rasa tersebut sebagai umami, yang berarti “gurih” dalam bahasa Jepang. Sejak ketika itu, MSG muncul sebagai bentuk ilmiah dari rasa kelima ini. MSG kemudian dibuat melalui proses fermentasi bahan alami seperti tebu, pati singkong, atau bit. Mengingat itu, tak ada komponen sintetis atau berbahaya dalam proses pembuatannya. MSG hanya berfungsi untuk memperkuat rasa alami dari bahan makanan.
Menariknya, glutamat yang terdapat dalam MSG mempunyai struktur kimia yang sama persis dengan glutamat yang ada di tomat matang, keju parmesan, daging sapi, atau jamur. Tubuh tidak membedakan sumber glutamat tersebut. Ia akan dicerna dan digunakan secara serupa. Mengingat itu, para mahir gizi menyampaikan bahwa MSG pada dasarnya merupakan bentuk alami dari rasa yang sudah kita kenal sejak lama, hanya saja dalam konsentrasi yang lebih tinggi.
Membedakan Fakta dan Ketakutan
Sejak istilah “Chinese language Eating place Syndrome” muncul pada era 1960-an, monosodium glutamat (MSG) menjadi objek kesalahpahaman yang luas. Pada masa itu, beberapa individu melaporkan gejala seperti pusing, mual, dan jantung berdebar setelah mengonsumsi makanan di restoran Tionghoa. Tetapi, observasi lebih lanjut menemukan bahwa klaim tersebut tidak didukung oleh bukti yang kuat. Dengan jumlah besar dari gejala-gejala tersebut tidak konsisten, bahkan terjadi juga ketika makanan yang dikonsumsi tidak mengandung MSG sama sekali.
Lembaga seperti World Well being Group (WHO), Meals and Drug Management (FDA) di AS, serta Ecu Meals Protection Authority (EFSA) telah melakukan penilaian menyeluruh terhadap MSG. Hasilnya jelas: MSG aman untuk dikonsumsi dalam kadar yang customary. FDA bahkan memasukkan MSG ke dalam kategori Normally Known As Secure atau GRAS, sejajar dengan bahan masak lain seperti garam dan gula. WHO dan FAO melalui komite JECFA juga menyatakan bahwa MSG tidak dikarenakan efek karsinogenik atau risiko kesehatan lain pada manusia.
Masalah sesungguhnya bukanlah terletak pada MSG, melainkan pada cara kita memandangnya. Terkadang kita menganggap bahwa makanan yang mengandung MSG adalah sama dengan makanan cepat saji yang kaya akan garam, lemak, dan gula. Walaupun, pada nyatanya kandungan natrium dan lemak jenuh dalam makanan olahan tersebutlah yang berpotensi dikarenakan masalah kesehatan, bukan MSG itu sendiri. Sangat ironis, sejumlah besar orang menghindari MSG tetapi masih mengonsumsi makanan yang terlalu asin tanpa menyadari bahwa kadar natriumnya dapat jauh lebih tinggi dibandingkan MSG.
Mengapa Beberapa Orang Merasa Tidak Nyaman Setelah Mengonsumsi MSG
Sebagai contoh, izinkan saya membahas pendapat seseorang yang menyampaikan bahwa setelah mengonsumsi makanan dengan MSG, tubuhnya merasa tidak nyaman dan ia yakin MSG adalah penyebab penyakitnya. Berdasarkan informasi yang saya mendapatkan, bagi seseorang yang baru selesai menjalani operasi atau kemoterapi, kondisi tubuhnya berbeda dari orang sehat. Dengan jumlah besar pasien cancer merasakan neuropati perifer, yaitu kerusakan saraf akibat efek pengobatan kemoterapi. Kondisi ini membuat sistem saraf menjadi lebih rentan terhadap berbagai pemicu, termasuk zat yang memengaruhi sistem saraf seperti glutamat. Sebab glutamat berperan dalam pengiriman sinyal saraf, meningkatnya kadar glutamat di sistem pencernaan bisa memengaruhi persepsi rasa sakit pada individu dengan saraf yang sedang tidak stabil. Akibatnya, timbul sensasi berdenyut atau nyeri di bagian tertentu tubuh, bukan sebab MSG bersifat berbahaya, namun sebab tubuh sedang dalam masa pemulihan yang rentan.
Selain itu, kita juga perlu mempertimbangkan konteks makanan secara keseluruhan. Ketika seseorang menyatakan bahwa mereka mengalami minim nyeri setelah mengonsumsi MSG, tak henti-hentinya kali makanan maksudnya bukanlah MSG murni, melainkan dapat disebabkan oleh hidangan yang tinggi garam, minyak, dan bahan lain yang diolah. Respons tubuh dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut, bukan hanya sebab MSG. Hal ini tak henti-hentinya kali tidak diperhatikan, dengan begitu MSG mendapat reputasi buruk tanpa dasar yang jelas.
Kekuatan Pikiran terhadap Perasaan, Efek Nocebo
Dalam bidang psikologi kesehatan, terdapat konsep yang dikenal sebagai efek nocebo, yaitu situasi di mana seseorang merasakan gejala buruk sebab yakin bahwa sesuatu akan berdampak negatif terhadap dirinya. Andai seseorang meyakini bahwa MSG berbahaya, otak bisa memicu respons fisiologis seperti jantung berdebar, sakit kepala, atau rasa nyeri, meski demikian secara biologis tak ada penyebab langsungnya. Observasi memperlihatkan bahwa individu yang mengklaim sensitif terhadap MSG tak henti-hentinya kali mengeluhkan gejala saat menerima makanan dengan label “mengandung MSG”, tetapi tidak merasakan gejala serupa ketika diberi makanan tanpa label, walaupun keduanya pada nyatanya sama.
Artinya, pikiran kita memainkan peran penting dalam membentuk cara tubuh mengalami sesuatu. Ini tidak berarti rasa sakit yang dirasakan seseorang tidak nyata, namun sebab sistem saraf dan persepsi saling keterkaitan satu sama lain. Mengingat itu, ketika seseorang merasa tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan yang disebutkan mengandung MSG, dapat jadi penyebabnya bukan bahan tersebut secara langsung, melainkan keyakinan yang telah terbentuk sebelumnya tentangnya.
Mempelajari Ilmu Pengetahuan, Menghargai Perasaan
Kadang kita lupa bahwa sains tidak pernah bertujuan untuk menakuti, melainkan memberikan pemahaman. MSG merupakan salah satu hasil dari perkembangan ilmu pangan yang membuat makanan lebih enak tanpa perlu tambahan garam berlebihan. Dalam berbagai observasi, penambahan MSG justru membantu mengurangi penggunaan natrium sampai tiga puluh persen tanpa mengubah rasa. Artinya, penggunaan MSG dengan bijak dapat menjadi cara untuk mengurangi risiko tekanan darah tinggi akibat konsumsi garam yang berlebihan.
Sains juga mengajarkan kita untuk berpikir secara seimbang. Tidak salah andai kita menghindari MSG sebab membuat kita merasa lebih nyaman, namun menganggap MSG sebagai penyebab segala jenis penyakit adalah kesalahpahaman. Dalam hal gizi dan biokimia, yang paling berbahaya bukanlah satu bahan tunggal, melainkan kebiasaan makan yang tidak seimbang. Kita mampu menjalani hidup sehat tanpa perlu khawatir terhadap rasa gurih dari bahan yang aman.
Kesimpulan
Kita tinggal di era di mana informasi dapat menyebar lebih cepat daripada penjelasan ilmiah. Mengingat itu, penting bagi kita untuk selalu memverifikasi fakta sebelum yakin pada suatu pernyataan, terutama yang berkaitan dengan kesehatan. MSG bukanlah racun, bukan penyebab cancer, dan bukan ancaman tersembunyi di dapur. Ia hanyalah bentuk alami dari asam amino yang telah menjadi bagian dari kehidupan kita sejak lama. Ketika digunakan secara bijaksana, MSG justru membantu menciptakan keseimbangan rasa dan dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat.
Mungkin saja sudah waktunya kita menerima rasa asin yang tak henti-hentinya kali kita salah pahami. Sebab di balik setiap rasa yang lezat, terdapat ilmu pengetahuan yang bekerja agar kita bisa menikmati makanan bukan hanya melalui lidah, namun juga dengan pemahaman yang tepat. Rasa seharusnya tidak perlu ditakuti. Ia seharusnya dihargai, sebab di sanalah ilmu dan kehidupan bersatu.
Daftar Pustaka
Organisasi Kesehatan Dunia. (2022). Evaluasi Keamanan Monosodium Glutamat. Laporan Aditif Makanan WHO.Badan Pengawas Penyembuh dan Makanan AS. (2021). Pertanyaan dan Jawaban Mengenai Monosodium Glutamat (MSG). U.S. FDA.Otoritas Keselamatan Pangan Eropa. (2017). Peninjauan Kembali Asam Glutamat dan Garamnya (E620-E625) sebagai Bahan Tambahan Pangan. EFSA Magazine.Geha, R. S. dkk. (2000). Tinjauan Reaksi yang Dikaitkan dengan Monosodium Glutamat dan Hasil Studi Multicenter Double-blind Placebo-controlled. Jurnal Alergi dan Imunologi Klinis.Yamaguchi, S., & Ninomiya, K. (2018). Umami dan Kecantikan Makanan. Jurnal Nutrisi.







