Bandung Barat | SekitarKita.id,-Desakan kebutuhan hidup membuat wanita paruh baya asal Kabupaten Bandung Barat (KBB) ini terpaksa melakoni pekerjaan petugas kebersihan. Itu pun belum cukup untuk memperbaiki rumah reyotnya yang nyaris ambruk.
Duduk di pondasi rumah tetangga, Sumiyati alias Amoy (50) warga RT02/RW06, Kampung Sirnasari, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang KBB, terengah-engah usai membersihkan tumpukan sampah disekitar Desa Ciburuy, Senin (26/02/2024) sore.
Sesekali wanita berstatus janda tersebut menghalau keringat di wajahnya menggunakan selendang. Sore itu, Amoy mengenakan baju hitam dan hijab putih dibalut wajah lusuh itu berjalan tanpa mengenakan alas kaki.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekitar 5 meter dari tempat duduknya, berdiri sebuah rumah yang 10 tahun terakhir menjadi tempat tinggal Amoy dan putrinya Gustinah (20) pasca suami dan 3 anaknya meninggal dunia. Rumah berdiri di tanah milik pribadi berukuran kurang lebih 9 meter x 6 meter terdiri dari 2 kamar tidur 1 ruang tamu dan kamar mandi itu kondisinya memprihatinkan.
Semenjak ditinggal mendiang Suami menyusul ke 3 anaknya itu, kini kondisi rumah tersebut sudah reyot dan tak mampu menahan guyuran hujan deras, beberapa titik atap genteng bocor dan bolong serta kayu kusen yang rapuh dikhawatirkan ambruk.
“Udah pada bolong kang, di kamar tidur dan di depan ruang tamu apalagi di dapur, tiang penyangga rumah udah pada rusak, suami sudah meninggal 10 tahun lalu, anak saya 4 yang tiga meninggal tinggal satu,” kata Amoy saat diwawancarai eksklusif SekitarKita.id di kediamannya, Senin sore.
Meski sewaktu-waktu rumah yang ia tempati ambruk, Amoy bersama putrinya memilih tetap tinggal di dalamnya. “Sebenernya was-was juga, sudah diingatkan meninggalkan rumah tapi lebih nyaman didalam rumah sendiri, kadang kalau hujan besar bocor parah saya ke tetangga neduh,” ungkapnya.
Tak hanya sekali ini rumah milik Amoy nyaris roboh. Sekitar beberapa tahun lalu, dinding dan tiang penyangga rumah miring, kendati demikian, hingga saat ini rumah Amoy belum juga diperbaiki meskipun upaya pengajuan program rehab rumah tak layak huni (Rutilahu) sudah dilakukan.
Penghasilan yang tak menentu membuat Amoy tak mampu memperbaiki rumahnya. Penghasilan dari memungut sampah (bersih-bersih lingkungan) hanya cukup sekedar membeli beras untuk makan bersama satu anak perempuannya.
Ironisnya, beban Amoy bukan hanya itu saja, pasca ditinggal ayah dan 3 saudaranya meninggal dunia, kejiawaan (Gustinah) terganggu lantaran mengalami depresi berat.
Diakui Amoy, dirinya tak memiliki biaya untuk mengobati kondisi anak perempuannya. Ia tak menampik bantuan sosial (bansos) yang ia dapat dari pemerintah seperti PKH dan lainnya hanya bisa mencukupi kebutuhan beberapa Minggu saja.
“Paling kalau ada yang ngasih dari mungut sampah cuman dapat dari warga ada yang ngasih Rp5.000 kadang Rp10.000 alhamdulilah cukup buat makan sama anak saya,” ujar dia.
“Kondisi anak saya seperti itu, suka marah sendiri punya trauma semenjak ditinggal ayah dan 3 adiknya meninggal dunia, jadi seperti depresi gitu, udah coba berobat pas awal sekarang karena enggak ada biaya terpaksa dibiarin ajah,” sambungnya.
Sementara itu, Nur Hayati (52) tetangga Amoy mengatakan, kondisi itu sangat mengkhawatirkan, terlebih jika hujan deras datang, Amoy dan anaknya terpaksa mengungsi sementara lantaran kamar dan beberapa ruangan tergenang air.
“Kalau hujan ngungsi ke rumah saya, pada bocor atap genteng kasur basah dan di belakang kamar mandi juga bocor trus di ruangan tamu, miris kang kondisinya,” kata Nur ditemani Amoy dan warga lainnya.
Terlebih, kata dia, kondisi sang anak perempuan Amoy memang mengalami sakit diduga depresi, jangankan untuk berobat atau perbaikan rumah, untuk makan sehari hari saja sudah beruntung.
“Dari hasil bebersih lingkungan (mungut sampah) paling penghasilan berapa, apalagi buat berobat dan perbaikan rumah, kadang tetangga pada ngasih makanan, kalau bantuan pemerintah kaya PKH dan bansos itu dapet, seperti tadi barusan mengambil bansos pemerintah di kantor pos sebesar Rp200.000,” kata Nur kembali.
Senada dikatakan Ketua RT02, Kampung Sirnasari, Herman Hermawan (40) mengatakan, kondisi itu sudah terjadi sejak 10 tahun silam, segala upaya sudah dilakukan dari mulai pengajuan pembangunan, namun itu belum juga direspon oleh pemerintah daerah Bandung Barat.
“Udah ngajuin rutilahu, cuman belum dibangun belum ada hasilnya enggak tau alasannya apa kalau datang hanya sekedar foto mah banyak,” kata Herman.
Ia menjelaskan, untuk status kepemilikan lahan tanah milik pribadi (Amoy), semenjak ditinggal suami dan 3 anaknya kondisi kehidupan Amoy semakin terpuruk.
“Ini rumah milik pribadi, semenjak suami meninggal ibu Amoy bekerja bebersih sampah, hanya cukup untuk makan saja,” jelas dia.
“Saya berharap ada perhatian dari pemerintah Bandung Barat untuk segera diperbaiki, kalau bansos dan bantuan lainnya memang sering dapet, kasihan rumahnya sering kebanjiran kalau hujan,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Ciburuy, Firmansyah saat dikonfirmasi sudah mengetahui kondisi tersebut, kendati itu belum ada respon terkait kondisi rumah Amoy.
Liputan khusus (lipsus): SekitarKita.id
Editor: Abdul Kholilulloh








