SEKITARKITA.id – Operasi Search and Rescue (SAR) korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali berlanjut pada hari ke-12, Rabu (4/2/2026).
Meski secara angka jumlah jenazah yang ditemukan telah melampaui daftar pencarian, namun sebagian korban ternyata tidak tercatat dalam daftar 80 warga yang dilaporkan hilang sejak awal kejadian longsor pada Sabtu (24/1/2026).
Kerja keras tim SAR gabungan kembali membuahkan hasil. Dua bodypack (kantong jenazah) berhasil ditemukan di satu titik yang sama, yakni worksite A3, lokasi yang diduga menjadi jalur utama aliran longsor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Progres operasi SAR hari ke-12 ini, dua bodypack ditemukan di worksite A3,” ujar SAR Mission Coordinator (SMC) Ade Dian Permana di Pasirlangu, Rabu (4/2/2026).
Kedua jenazah tersebut langsung dievakuasi menuju posko Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat untuk dilakukan proses identifikasi lebih lanjut.
Dengan temuan terbaru ini, total 87 bodypack telah ditemukan sejak bencana longsor melanda kawasan Cisarua. Dari jumlah tersebut, 66 jenazah sudah berhasil diidentifikasi oleh tim DVI.
“Sebanyak 66 bodypack sudah teridentifikasi. Sisanya masih dalam proses pemeriksaan lebih lanjut,” jelas Ade Dian.
Proses identifikasi dilakukan melalui berbagai metode forensik, seperti pemeriksaan medis, sidik jari, properti pribadi, hingga pencocokan DNA.
Namun, temuan di lapangan menunjukkan fakta lain. Jumlah jenazah yang ditemukan telah melebihi daftar pencarian (DP) 80 korban hilang yang sebelumnya dihimpun oleh Incident Commander (IC).
Ade Dian menjelaskan, kondisi ini sangat mungkin terjadi dalam bencana berskala besar.
“Beberapa jenazah yang sudah teridentifikasi ternyata tidak tercantum dalam daftar 80 korban. Bisa jadi mereka bukan warga setempat atau tidak terdata sejak awal,” ungkapnya.
Satu Kantong Bisa Berisi Lebih dari Satu Identitas
Penjelasan serupa disampaikan Incident Commander longsor Cisarua, Ade Zakir. Ia menyebut, beberapa bodypack berisi lebih dari satu bagian tubuh yang kemudian dirujuk pada satu identitas.
“Sekitar empat kantong jenazah ternyata merujuk pada dua identitas korban. Karena itu, kami harus mencocokkan ulang dengan data 80 warga yang dilaporkan hilang,” jelasnya.
Ia menjelaskan, 66 jenazah sudah teridentifikasi hanya 51 orang yang cocok dengan daftar 80 korban hilang sisanya berasal dari luar data awal.
Kendala DNA Hambat Proses Identifikasi
Proses identifikasi, kata Ade, masih menghadapi kendala, terutama dalam pemeriksaan DNA.
“Ada keluarga korban yang tidak memiliki kerabat dekat sehingga sulit mendapatkan sampel pembanding DNA. Ini menjadi kendala utama,” ujar Ade Zakir.
Akibatnya, sejumlah jenazah harus menunggu lebih lama untuk dipastikan identitasnya.
Meski jumlah temuan melebihi daftar awal, posko induk tetap menjadikan 80 warga yang dilaporkan hilang sebagai rujukan utama.
“Di luar data itu, penanganannya akan diserahkan sepenuhnya kepada tim DVI karena kami tidak memiliki data pendukung,” tandas Ade Zakir.
Sementara itu, ruang tunggu posko DVI Polda Jabar masih dipenuhi keluarga korban yang berharap nama orang tercinta segera terkonfirmasi.
Operasi SAR masih terus berlangsung dengan harapan tidak ada lagi korban yang tertimbun dan seluruh keluarga mendapat kepastian.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








