SEKITARKITA.id — Kasus dugaan keracunan makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali menjadi perhatian nasional.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa 75 persen diduga penyebab kejadian keracunan berasal dari kualitas air bersih yang digunakan dalam proses pengolahan makanan.
Kendati gejala keracunan MBG di Bandung Barat masih dalam gajian penyebab utamanya. Ia meminta seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar menggunakan air bersih bersertifikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal itu disampaikan Dadan, saat menghadiri Rapat Koordinasi SPPG dan Mitra MBG di Hotel Mansion Pine, Kota Baru Parahyangan, Kecamatan Padalarang, Bandung Barat, Sabtu (1/11/2025) malam.
“Terkait kejadian keracunan 8 kali di Bandung Barat kita sedang melakukan kajian penyebab utamanya apa, sementara dari hasil kajian Kementerian Kesehatan, 50 persen penyebab keracunan itu karena kualitas air. Khusus di Bandung Barat, angkanya mencapai 75 persen,” ujar Dadan dalam sambutannya dihadapan ratusan kepala SPPG dikutip Sekitarkita.id dilokasi.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Dadan menegaskan agar seluruh mitra dan tenaga ahli gizi menggunakan air bersertifikat, baik air kemasan maupun isi ulang yang memiliki standar kualitas resmi.
“Jangan ragu soal biaya operasional. Berapa pun kebutuhan air bersih akan dibayar. Tolong jangan gunakan air mentah, karena E.coli bisa menular dari situ,” tegasnya.
Dadan juga memberi contoh kebiasaan yang harus dihindari, seperti mencuci buah dan sayuran harus diperhatikan.
“Di rumah saja, setelah buah dikupas, harus dicuci dengan air bersih (mateng). Begitu pun di dapur SPPG,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dadan mengumumkan pembatasan jumlah penerima manfaat MBG di setiap SPPG. Hal ini dilakukan demi menjaga kualitas layanan.
Maksimal 2.000 siswa, Ditambah penerima ibu hamil & balita menjadi 2.500 orang. Bisa maksimal 3.000 penerima, jika memiliki juru masak bersertifikat.
Untuk mendukung standar layanan, kata Dadan, insentif mitra sebesar Rp6 juta per hari tetap dipertahankan.
“Kita jamin enam juta per hari supaya investasinya bisa balik dalam waktu 16 bulan dan kita akan melakukan selama 2 tahun setelah itu kita akan sesuaikan dan tahun depan kita akan melakukan sertifikasi akreditasi sehingga insentifnya bisa menyesuaikan dengan kualitas bangunan yang ada,” kata dia.
Setelah menyampaikan evaluasi, Dadan meminta seluruh mitra dan kepada SPPG berdiri dan menyatakan komitmen agar Bandung Barat tidak mengalami kejadian keracunan lagi.
“Apakah Anda sanggup menjaga citra MBG di Bandung Barat? Ini harus jadi kejadian terakhir,” serunya disambut tepuk tangan peserta. “Siap” sahut peserta.
Dadan menjelaskan bahwa keberadaan MBG telah menciptakan dampak ekonomi besar bagi masyarakat.
Tahun 2025, BGN telah merekrut tenaga kerja 33.000 Kepala SPPG, 14.000 ahli gizi, 14.000 akuntan 600.000 relawan se-Indonesia,” ujarnya.
Para mitra juga telah berinvestasi 2 miliar rupiah per unit, sehingga total dana beredar mencapai sekitar 58 triliun rupiah untuk pembangunan fasilitas SPPG.
“Kita apresiasi dengan kehadiran mitra, karena kehadiran mitra masing-masing mengeluarkan uang 2 milyar yang lolos 14 ribu dan yang antri 15 ribu mitra keseluruhan ada 29 ribu mitra, kalau masing-masing kali 2 miliar, itu ada 58 triliun uang beredar di masyarakat untuk membangun SPPG dan menyerap tenaga besar sekali,” ujarnya.
“Program ini bukan hanya menyehatkan anak-anak, tapi juga menggerakkan ekonomi rakyat menyerap banyak tenaga kerja. Petani, peternak, hingga nelayan ikut merasakan manfaatnya, pemerintah daerah saya ucapkan terimakasih,” ungkapnya.
Dadan menutup pernyataan dengan harapan kuat agar KBB benar-benar bebas dari kejadian keracunan MBG.
“Kita tidak ingin ada lagi anak terluka, orang tua khawatir, atau kepercayaan publik terganggu. Pastikan makanan sehat, aman, dan bergizi,” tandasnya.
Sebagai informasi, Air bersih seharusnya bebas dari bakteri E. coli. Keberadaan Escherichia coli dalam air merupakan indikasi kuat adanya kontaminasi tinja, yang berarti air tersebut tidak aman untuk dikonsumsi dan dapat menyebabkan masalah kesehatan serius.
Bahaya E. coli dalam Air Bersih
Mengonsumsi air yang terkontaminasi E. coli dapat menimbulkan dampak kesehatan yang signifikan, terutama diare parah dan kram perut yang bisa berlangsung selama 5-10 hari. Gejala lain dapat meliputi muntah dan demam ringan.
Agenda tersebut turut dihadiri ratusan Kepala SPPG, para mitra MBG, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional – Irjen Pol. Sony Sonjaya, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional – Ibu Nanik S. Deyang.
Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat – Cucun Ahmad Syamsurijal, Wakil Bupati Bandung Barat – H. Asep Ismail, Direktur Manajemen Risiko BGN – Rurfianto Maulana Yusuf.
Lalu kemudian, Direktur Pusat Data dan Informasi BGN – Boga Hardhana, Direktur Kerja Sama dan Kemitraan BGN – M. Risal Salewangang, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat – Lia Nurliana Sukandar, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat – Ari Ariyanto.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan







