[ad_1]
Ibu dan ayah yang bekerja biasanya membuat keputusan untuk mempercayakan anak-anak mereka kepada penitipan anak saat bekerja ya? Meski begitu, pemilihannya penitipan anak harus segera diperhatikan secara seksama ya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan tanpa alasan, baru-baru ini seorang anak berusia dua tahun yang dianiaya oleh sebuah tempat penitipan anak di Depok, Jawa Barat, menjadi viral di media sosial. Sang ibu, RD, membuat keputusan untuk melaporkannya ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Sebelumnya, beredar video CCTV penganiayaan tersebut pada Selasa (30/7/2024). Kejadian tersebut terlihat berlangsung di dalam ruangan tertutup, Bunda.
IKLAN
GULIR UNTUK MELANJUTKAN DENGAN KONTEN
Laporan polisi terhadap pelaku pun sudah beredar. Laporan ini diungkapkan oleh orangtua penderita ke Polres Metro Depok pada Senin (29/7/2024), dengan nomor laporan polisi LP/B/1530/VII/2024/SPKT/POLRES METRO DEPOK/POLDA METRO JAYA.
Kronologi penganiayaan
Dalam sebuah kesempatan, RD pun menceritakan kronologi terjadinya tindak kekerasan tersebut. Ia menuturkan, pada Rabu (24/7/2024), dirinya mendapat laporan dari salah seorang guru di sekolah tempat anaknya bersekolah bahwa telah ada tindak kekerasan yang dialami oleh anaknya. Ia menyebutkan, pelaku merupakan Ketua Yayasan tempat penitipan anak tersebut.
“Jadi untuk kronologinya, kami memang mendapat laporan dari salah seorang guru di sekolah anak saya. Kami baru tahu Rabu lalu, tanggal 24, bahwa anak saya telah merasakan tindak kekerasan. Pelakunya adalah Ketua Yayasan Tempat Penitipan Anak tersebut,” tutur RD kepada jurnalis di KPAI, Jakarta Pusat, Selasa (30/7/2024).
RD kemudian mengecek CCTV dan mendapati anaknya telah menerima kekerasan berupa beberapa kali pukulan di bagian tubuh. Tak hanya itu, anak tersebut juga ditendang mencapai terjatuh, tersungkur, bahkan ditusuk di belakang.
“Setelah kami cek memang ada bukti CCTV. Pada tanggal 10 Juni 2024, anak saya dapatkan kekerasan berupa pemukulan di beberapa bagian tubuh, kemudian ditendang di bagian perut mencapai terjatuh mencapai terjatuh, kemudian juga ditusuk di bagian punggung,” terangnya.
“Buktinya sesuai dengan bukti yang saya miliki, yaitu foto memar di tubuh anak saya setelah dia pulang sekolah. penitipan anak,” dia menambahkan.
Selanjutnya, ia meminta konfirmasi kepada partai. penitipan anak mengenai hal ini. Tetapi, partai penitipan anak membantah dan mengemukakan bahwa penderita tidak terjatuh, tidak diolok-olok teman, dan tidak dipukul.
“Namun, setelah kami cari tahu, orangtuanya tahu kalau anak saya ada memar di sekujur tubuhnya, kami konfirmasi ke pihak berwajib. penitipan anak dan mereka menyangkalnya. Mereka bilang anak saya tidak jatuh, tidak. dibenci “dengan teman-temannya, dia tidak menabrak apa pun,” ungkapnya.
RD berpikir positif dengan berasumsi bahwa luka memar yang dialami penderita disebabkan sebab ketika itu ia sedang demam. Kemudian ia memeriksakan kondisi penderita ke dokter.
“Jadi, kami sebagai orang tua berpikir positif bahwa memar yang dialami anak saya itu sebab sakit. Soalnya waktu itu anak saya sedang demam. Jadi, kami bawa anak saya ke dokter dan dokternya melakukan pemeriksaan termasuk cek lab dan tes darah,” ujarnya.
RD dilaporkan ke KPAI
Pada Rabu (24/7/2024), guru melaporkan kejadian tersebut dengan bukti CCTV. RD mengaku telah membuat laporan kejadian tersebut ke polisi dan KPAI.
Apa cerita selengkapnya? TERUSKAN MEMBACA KLIK DI SINI.
Untuk ibu yang ingin membagikan pertanyaan mengasuh anak dan dapat dapatkan dengan jumlah besar memberi secara tanpa dipungut biayaYuk gabung di komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di DI SINI. Bebas!
(mua/sebagai)
[ad_2]
Sumber: haibunda








