[ad_1]
Tradisi, SekitarKita.id – Penampilan peserta pawai Kuda Kosong, masih jadi primadona yang dinanti-nanti warga masyarakat Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dalam Helaran Tradisi peringatan hari jadi Cianjur (HJC) ke 347 dan peringatan HUT RI ke 79, Minggu 18 Agustus 2024.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga masyarakat Cianjur yang berdatangan dari berbagai penjuru desa dan kecamatan, sejak pagi hari sudah berdesak-desakan di pinggiran jalan yang akan dilalui iring-iringan Kuda Kosong peserta Helaran Tradisi HJC ke 347.
Mereka menonton Helaran Tradisi ini, kebanyakan diantaranya ingin menyaksikan Kuda Kosong yang setiap Helaran Tradisi atau Pawai 17 Agustusan -sebagian warga menyebutnya- selalu mewarnai rutinitas Helaran Tradisi tersebut.
“Kami sekeluarga datang ke kota diantaranya ingin lihat Pawai Kuda Kosong,” ujar Ratna, salah seorang warga masyarakat Kecamatan Sukaluyu kepada SekitarKita.id
Apa itu Kuda Kosong? Kuda Kosong adalah seekor kuda yang tanpa penunggang ikut pawai. Ia terengah-engah kecapean seolah-olah membawa beban yang amat berat.
Kondisi itu ditafsirkan dan dipercayai oleh sebagian warga masyarakat, sebab kecapaian ditunggangi Eyang Suryakancana bangsa jin putra Bupati Cianjur pertama Eyang Pancaniti hasil pernikahannya dengan bangsa jin yang bersemayam di Gunung Gede.
Penampilan Kuda Kosong dalam arak-arakan 17 Agustusan ini, beberapa waktu lalu semasa Bupati Cianjur Ir Wasidi Swastomo sempat ditiadakan, sebab khawatir menjadi musyrik bagi warga masyarakat awam yang mempercayai Kuda Kosong ditunggangi Eyang Surya Kencana.
Tetapi kemudian dengan pertimbangan adat seni tradisi, semasa mulai Bupati Cianjur Drs. H Tjetjep Muchtar Soleh Kuda Kosong kembali ditampilkan pada acara 17 Agustusan, mencapai sekarang sekaligus rutinitas Helaran Tradisi peringatan HJC Ke 347 tersebut.
Helaran diikuti oleh utusan dari 34 kecamatan dengan menampilkan berbagai atraksi seni tradisi dan berbagai hasil pembangunan.***
[ad_2]
Source link








