SEKITARKITA.id – Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, merespons cepat kabar memilukan tentang seorang anak berusia 11 tahun yang diduga memakan rumput akibat keterbatasan ekonomi.
Informasi tersebut ia terima saat menghadiri aksi unjuk rasa buruh di depan Kantor Bupati Bandung Barat, Senin (27/4/2026).
Kabar itu disampaikan langsung oleh Koordinator Aksi, Kiki Permana Saputra, yang juga menjabat Ketua DPC Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kabupaten Bandung Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam orasinya, Kiki tidak hanya menyuarakan tuntutan terkait kesejahteraan buruh dan persoalan BPJS Ketenagakerjaan, tetapi juga menyoroti kondisi warga kurang mampu yang memprihatinkan.
Mendengar hal tersebut, Asep Ismail mengaku tersentuh dan langsung mengambil langkah cepat.
Usai melakukan audiensi dengan DPRD KBB dan perwakilan buruh, ia memastikan akan turun langsung ke lokasi.
“Kami akan langsung meninjau ke Desa Gadobangkong hari ini untuk memastikan kondisi sebenarnya. Terima kasih atas informasinya, ini juga akan saya sampaikan kepada Bupati,” ujar Asep.
Langkah cepat ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap kondisi sosial masyarakat, terutama yang masuk kategori rentan dan membutuhkan perhatian khusus.
Pemkab Janji Tindak Lanjut Aspirasi Buruh
Selain merespons kasus tersebut, Asep Ismail juga menyatakan komitmennya untuk menindaklanjuti tuntutan buruh terkait kesejahteraan pekerja. Ia memastikan aspirasi tersebut akan diteruskan ke pemerintah pusat melalui DPR RI.
“Tentunya kami mendukung aspirasi buruh, karena banyak tuntutan yang berkaitan dengan kewenangan pemerintah pusat,” ujarnya.
Terkait persoalan BPJS Ketenagakerjaan yang dinilai belum sepenuhnya mengakomodasi buruh, Asep menegaskan akan segera melakukan koordinasi dan validasi data bersama pihak terkait.
“Kami akan berkoordinasi dengan BPJS dan Disdukcapil untuk memastikan validasi data berjalan baik, sehingga perlindungan bagi pekerja bisa maksimal,” tutupnya.
Sementara itu, dalam aksi unjuk rasa yang digelar di halaman Gedung DPRD KBB, kisah anak tersebut menjadi sorotan utama.
Kiki Permana Saputra menyebut kondisi tersebut sebagai gambaran nyata kemiskinan ekstrem yang masih terjadi di Bandung Barat.
Menurutnya, anak tersebut hidup bersama ayahnya yang bekerja sebagai pemulung, setelah ditinggal sang ibu.
Dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas, anak itu disebut kerap memakan rumput di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
“Ini sangat miris. Anak 11 tahun sampai makan rumput. Kami minta pemerintah hadir dan segera mengambil tindakan,” tegas Kiki dalam orasinya.
Ia juga mengungkapkan bahwa anak tersebut memiliki keterbatasan fisik, yakni tuna rungu dan tuna wicara, sehingga membutuhkan penanganan khusus, termasuk akses pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB).
“Kami mohon agar anak itu bisa disekolahkan ke SLB. Ini tanggung jawab kita bersama,” tambahnya.
Kasus ini pun menjadi perhatian serius berbagai pihak dan diharapkan segera mendapatkan penanganan konkret dari pemerintah daerah maupun instansi terkait.
Berdasarkan informasi, kisah pilu seorang bocah yang sempat menjadi pusat perhatian publik karena terpaksa makan rumput itu akibat keterbatasan ekonomi.
Adalah Muhammad Ridzki, warga Kampung Babakan Cianjur, Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah KBB. Meskipun memiliki memiliki keterbatasan fisik, semangat untuk hidup sangatlah tinggi, ia merupakan sosok yang baik, sopan dan penurut dimata keluarga dan kerabatnya.
Belakangan diketahui, Ridzki tinggal bersama ayahnya, Asep Setiawan, serta kakek dan neneknya dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas. Situasi itulah yang sebelumnya mendorong kisah Ridzki menjadi perhatian publik.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








