SEKITARKITA.id- Tiga hari pencarian terhadap Endang (77), seorang petani lansia yang terseret arus, masih belum membuahkan hasil.
Diketahui, pasca banjir bandang dan longsor menerjang Kampung Pojok Girang, Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), petugas terus melakukan pencarian terhadap Endang.
Bencana terjadi pada Jumat sore, 23 Mei 2025, ketika hujan deras mengguyur wilayah dataran tinggi di Kecamatan Lembang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Endang diketahui tengah berada di saung belakang kebunnya saat banjir tiba-tiba menerjang. Sejak itu, ia dinyatakan hilang.
“Sudah saya ajak pulang karena hujan besar, tapi abah (Endang) bilang mau istirahat dulu. Beberapa menit kemudian, longsor dan air datang,” ujar Dayat Saepuloh (53), rekan korban sekaligus saksi mata terakhir saat ditemui wartawan, Ahad 25 Mei 2025.
Ia menyebut, tim pencarian dari BPBD Bandung Barat, Basarnas, TNI/Polri, serta relawan dan warga setempat masih terus menyisir area terdampak.
“Medan yang curam dan tanah labil menghambat penggunaan alat berat, memaksa pencarian dilakukan secara manual,” ujarnya.
Sementara itu, Dedang Kurnia, Ketua Ikatan Keluarga Taruna Mandiri yang turut terlibat dalam pencarian, mengatakan bahwa pencarian difokuskan pada aliran sungai dan titik awal bencana, yakni sekitar green house bunga yang rusak parah.
“Barang-barang korban seperti tas, rokok, dan obat-obatan ditemukan di hari pertama. Hari ketiga, dompet dan kunci rumah ditemukan sekitar dua kilometer dari lokasi awal,” kata Dedang.
Ancaman Longsor Susulan Mengintai
Lembang dikenal sebagai wilayah rawan longsor, terutama saat curah hujan tinggi. BMKG mencatat intensitas hujan di wilayah Bandung Barat meningkat tajam dalam seminggu terakhir, meningkatkan risiko bencana lanjutan.
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, meninjau langsung ke lokasi bencana dan mengimbau tim pencari tetap siaga.
“Keselamatan tim jadi prioritas. Namun, pencarian tetap harus dilanjutkan dengan kehati-hatian karena kondisi medan sangat berbahaya,” ujarnya baru-baru ini.
Tragedi yang Menggambarkan Rentannya Masyarakat Desa Terhadap Bencana
Endang bukan sekadar korban; ia adalah simbol kehidupan desa yang sangat dekat dengan alam. Tempatnya bertani menjadi lokasi akhir kisahnya yang menyayat.
Peristiwa ini menjadi cermin bagi betapa rentannya masyarakat pedesaan terhadap bencana hidrometeorologi yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
Selama Endang belum ditemukan, doa dan harapan warga terus mengalir. Di tengah lumpur dan diam, kisahnya menjadi pengingat tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana, mitigasi risiko, dan perlindungan bagi mereka yang hidup paling dekat dengan alam.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








