Gelombang PHK Hantam Bandung Barat, Disnaker Siapkan Solusi Kerja ke Jepang

- Penulis

Sabtu, 6 September 2025 - 20:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) KBB, Hasanudin (foto; ilustrasi/ Addien Bangbara.com)

i

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) KBB, Hasanudin (foto; ilustrasi/ Addien Bangbara.com)

SEKITARKITA.id- Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kini menghantam Kabupaten Bandung Barat (KBB). Kondisi ini menuai polemik ditengah kondisi ekonomi serba sulit.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) KBB, Hasanudin, mengungkapkan sejumlah perusahaan dari sektor tambang, garmen, hingga percetakan terpaksa gulung tikar akibat tekanan ekonomi global.

“Sejak Januari hingga Agustus 2025, tercatat ada 279 pekerja dari 32 perusahaan yang di-PHK. Itu pun hanya data yang dilaporkan, angka riil kemungkinan lebih besar,” ujar Hasanudin, beberapa hari lalu saat ditemui di kantor Disnaker KBB.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) KBB, Hasanudin (foto; ilustrasi/ Addien Bangbara.com)
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) KBB, Hasanudin (foto; ilustrasi/ Addien Bangbara.com)

Hasanudin mengakui, penanggulangan PHK sulit dilakukan karena anggaran Disnaker hanya 0,19 persen dari APBD KBB.

Meski begitu, pihaknya tengah menyiapkan program penyaluran tenaga kerja ke luar negeri, khususnya ke Jepang.

“Permintaan kerja di Jepang mencapai 800 ribu tenaga kerja. Kami targetkan setiap desa mengirim satu orang, total 200 warga KBB bisa berangkat tiap tahun. Dengan gaji rata-rata Rp15 juta per bulan, potensi devisa mencapai Rp36 miliar per tahun,” jelasnya.

Baca Juga:  Antisipasi akan maraknya perang sarung antar pemuda di Bandung Barat saat Ramadhan

 

Related Posts

Biaya keberangkatan sekitar Rp40 juta per orang. Desa diharapkan memberi subsidi Rp5 juta, sisanya dibiayai melalui pinjaman bank. Peserta akan dilatih LPK Hikari selama 5–6 bulan sebelum diberangkatkan.

Selain tekanan global, Hasanudin juga menyinggung soal tingginya Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di Jawa Barat yang membuat sebagian investor enggan menanam modal di Bandung Barat.

“Banyak perusahaan akhirnya memilih tutup atau mengurangi tenaga kerja. Dibutuhkan kebijakan komprehensif lintas sektor agar Bandung Barat tidak terjebak dalam krisis pengangguran berkepanjangan,” jelasnya.

Tiga Tambang Berhenti Operasi, 130 Pekerja Jadi Korban PHK

Disisi lain, Ketua Umum Serikat Pekerja Kimia Energi dan Pertambangan (SP KEP SPSI) Bandung Barat, Dadang Ramon, menegaskan bahwa dunia pertambangan menjadi sektor paling terpukul.

Baca Juga:  Video Viral, Dua Orang Terduga Pelaku Curanmor Terekam CCTV di Cikarang

Menurutnya, setidaknya 130 pekerja tambang di Cipatat, KBB telah di-PHK akibat tiga perusahaan resmi menghentikan operasi hingga Agustus 2025:

“CV PSP, sekitar 70 pekerja di-PHK, PT PKPI, sekitar 30 pekerja di-PHK, PT EMI, sekitar 30 pekerja di-PHK,” ujar Dadang Ramon kepada Bangbara Group.

“Kondisi tenaga kerja di sektor pertambangan ini sangat pelik. Perusahaan kesulitan bahan baku, berebut suplai, dan akhirnya memilih berhenti beroperasi. Imbasnya, karyawan dirumahkan,” sambungnya.

Garmen & Percetakan Ikut Tumbang

Bukan hanya pertambangan, sektor lain juga ikut terpukul. PT Kwangduk, produsen jas ekspor asal KBB, pada Juli lalu merumahkan 400 karyawan karena kalah bersaing dalam perang harga global, termasuk dampak kebijakan dagang Presiden AS Donald Trump.

“Sementara itu, PT Remaja Rosda Karya, perusahaan percetakan dan penerbitan, resmi tutup. Seluruh pekerja kehilangan mata pencaharian setelah omzet turun drastis dan aset perusahaan mulai dijual,” tutup Ramon menandaskan.

 



Editor : Abdul Kholilulloh

Sumber Berita : Liputan

Follow WhatsApp Channel sekitarkita.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HPN 2027 di Lampung Siap Kolaboratif, PWI Libatkan Seluruh Konstituen Dewan Pers
Tahap Kedua Penertiban Bangli di Padalarang Berlanjut, Warga Diberi Waktu Bongkar Mandiri
Perang Lawan Penyakit Masyarakat, Polres Cimahi Musnahkan 15 Ribu Botol Miras Ilegal
Bupati Jeje Tinjau Siswa Naik Rakit di Waduk Saguling, Siapkan Transportasi Antar Jemput
PWI Jabar Kecam Oknum Wartawan Ngamuk di SDN Sukabumi, Tegaskan Wartawan Bukan Preman
Kondisi Pasca 16 Bangunan Liar Dibongkar, Pedagang di Padalarang Belum Dapat Relokasi
Ngeri! Pelajar SMP Tewas Terlindas Truk di Padalarang Bandung Barat
Pembongkaran Bangli di Sukamulya Padalarang, Warga RW 25 Pertanyakan Keadilan

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 23:26 WIB

HPN 2027 di Lampung Siap Kolaboratif, PWI Libatkan Seluruh Konstituen Dewan Pers

Rabu, 2 September 2026 - 20:03 WIB

Tahap Kedua Penertiban Bangli di Padalarang Berlanjut, Warga Diberi Waktu Bongkar Mandiri

Rabu, 2 September 2026 - 18:02 WIB

Perang Lawan Penyakit Masyarakat, Polres Cimahi Musnahkan 15 Ribu Botol Miras Ilegal

Rabu, 2 September 2026 - 09:46 WIB

Bupati Jeje Tinjau Siswa Naik Rakit di Waduk Saguling, Siapkan Transportasi Antar Jemput

Rabu, 2 September 2026 - 08:32 WIB

PWI Jabar Kecam Oknum Wartawan Ngamuk di SDN Sukabumi, Tegaskan Wartawan Bukan Preman

Berita Terbaru